Dear Para Suami, Segini Uang Belanja Ideal buat Istri

Dear Para Suami, Segini Uang Belanja Ideal buat Istri
Berapa uang belanja yang ideal? (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Berapa persen persentase uang belanja dari gaji suami? Simak yuk biar nggak ada drama di rumah.

Inibaru.id – Mengelola keuangan yang semakin terbatas di masa pandemi ini menjadi tantangan yang berat. Terutama bagimu yang telah berumah tangga, kebutuhan sehari-hari seperti uang belanja harus dipikirkan dengan matang agar nggak menimbulkan konflik dalam rumah tangga.

Kasus yang paling umum adalah istri yang mengaku kurangnya uang belanja yang diberikan dari suami. Namun banyak pula suami yang merasa sudah memberikan uang belanja yang cukup. Lalu idealnya gaji suami yang digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti uang belanja ini berapa sih?

Bareyn Mochaddin, pakar keuangan, memberikan penjelasan besaran uang belanja rumah tangga yang ideal. Namun yang pasti, menurutnya nggak ada aturan yang pasti berapa persentase yang bisa diambil dari gaji untuk dibelanjakan guna kebutuhan rumah.

50 persen idealnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
50 persen idealnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Mengingat kebutuhan bagi masyarakat Indonesia berbeda-beda, Bareyn mengatakan bahwa persentase pembagian gaji ini bisa fleksibel.

“Sebagai pegangan, bisa menggunakan rumus 20-30-50. Di mana 20 adalah 20 persen dari gaji untuk kebutuhan finansial (dana darurat, investasi, premi asuransi), lalu 30 adalah 30 persen dari gaji untuk bayar cicilan, dan 50 adalah 50 persen untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Namun begitu dirinya nggak bisa memastikan bahwa persentase ini cocok untuk semua orang. Untuk itu Bareyn menambahkan catatan bahwa prosentase ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga masing-masing.

Bareyn juga memberikan tips untuk menghindari konflik rumah tangga akibat masalah uang belanja ini. Menurutnya, antara suami maupun istri haruslah memiliki visi yang sama dalam mengelola keuangan.

Perlu keselarasan visi dalam rumah tangga. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Perlu keselarasan visi dalam rumah tangga. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

“Pasangan yang punya visi 'membeli rumah di tahun ke 5 pernikahan' dengan pasangan yang belum mempunyai tujuan tentu akan berbeda dalam mengelola keuangannya. Pasangan yang punya visi, kemungkinan besar akan mengelola keuangan secara efektif dan efisien," tambahnya.

Selain itu, masalah keuangan yang dihadapi istri juga berarti masalah keuangan suami, dan sebaliknya yang berlaku bagi keluarga. Untuk itu, Bareyn menyarankan agar bijak dan nggak salah dalam mengambil keputusan keuangan.

“Jika istri salah mengambil keputusan keuangan, maka suami juga akan menanggung kesalahan yang sudah dilakukan oleh istri. Jangan sampai, ada sebuah permasalahan yang disembunyikan dan kemudian meledak di waktu yang tak tepat.

Agar konflik dalam keluarga akibat uang belanja dapat terhindarkan, perlu adanya keterbukaan kondisi keuangan masing masing serta saling menjaga satu sama lain untuk mencapai satu visi rumah tangga yang sama.

Selain itu, keperluan keluarga yang bersifat jangka panjang juga perlu dipertimbangkan. Artinya, pengelolaan keuangan keluarga bukan sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan, namun juga kebutuhan masa depan.

Nah itulah persentase pembagian gaji supaya nggak ada lagi kasus kurang uang belanja. Kamu tertarik menerapkannya, Millens? (Pop/IB27/E05)