Dear, Generasi Micin…

Menjadi anak muda memang serba salah. Diam dianggap nggak kreatif. Giliran kreatif sedikit dibilang nggak tahu aturan. Nggak jarang mereka dibilang kebanyakan makan micin sehingga disebut Generasi Micin. Hm, benarkah seburuk itu?

Dear, Generasi Micin…
Anak muda yang penuh ide dan kreasi kerap dianggap menyimpang karena disebut-sebut kebanyakan makan micin. Benar begitu? (Lovedignity.com)

Inibaru.id – Nggak kurang dari 40 ribu unggahan di Instagram menggunakan tagar #generasimcin. Mungkin kamu salah satunya ya, Millens. Kita membahas dan menuduh orang sebagai "generasi micin". Namun, tahukah kamu generasi micin itu apa? Atau, apakah micin itu? Berbahayakah? Yuk, kita bahas satu per satu!

Baiklah, kita mulai dari definisi micin ya. Micin adalah bahasa beken dari Monosodium glutamat (MSG). Ahli gizi RSI Sultan Agung Semarang Agustina Anggraeni mengatakan, secara kimiawi, MSG merupakan garam natrium.

“Yap, (MSG) itu bentuk garam dari asam glutamat," ungkap Reni, panggilan akrabnya.

Sebagaimana kita tahu, MSG biasa digunakan sebagai penyedap makanan. Sebagian orang bahkan menggunakan bahan penguat rasa itu untuk menggantikan garam serta meminimalisasi bumbu masakan yang lain.

"Fungsi MSG yang kita tahu memang untuk flavour and essence agar makanan lebih sedap,” terang perempuan berkacamata itu.

Baca juga:
Micin (Nggak) Bikin Bodoh?
Fakta di Balik Lezatnya Micin

Hampir semua masakan kini menggunakan MSG. Nah, lantaran dianggap sebagai bahan kimia, nggak sedikit orang yang menolak penyedap rasa buatan ini. Bahkan, nggak sedikit yang berpikir bahwa MSG menyebabkan kerusakan otak, kendati belum ada penerlitian yang membuktikan wacana ini. 

Konon. dari situlah anggapan tentang Generasi Micin bermula. Anak remaja masa kini kayak kita, yang selalu dianggap sebagai generasi micin,  dianggap telah mengalami "kerusakan otak" karena kebanyakan micin. Benarkah begitu? Hm, kasihan banget deh kita! Ha-ha.

Nggak sepakat dengan anggapan ini, Syaiful Huda pun segera membantahnya. Remaja tanggung asal Semarang itu merasa, micin nggak masalah asal dikonsumsi alakadarnya. Dia bahkan nggak masalah kalaupun dirinya dianggap sebagai bagian dari generasi micin.

"Ya pasrah saja. Generasi micin kan anak muda yang pengin ikut tren. Mereka pengin numpang hits dengan cara instan,” ujar Huda, "Kalau saya dianggap seperti itu ya mau gimana lagi?"

Lain Huda, lain pula  Pebriana Putri Yanka.  Pelajar dari salah satu sekolah kejuruan di Semarang itu mati-matian menolak disebut sebagai generasi micin. 

"Nggak maulah. Masak sedikit-sedikit dibilang, 'generasi micin'! Kami nggak gitu-gitu amat kok!" tegas Pebri.

Konsekuensi

Psikolog dari Rumah Duta Revolusi Mental Kota Semarang, Putri Marlenny, mengatakan, generasi micin sejatinya nggak berhubungan dengan micin. Istilah itu juga nggak mendiskreditkan kegunaan micin. Menurutnya, sudut pandang generasi micin lebih ke dalam kecenderungan perilaku.

"Generasi micin itu perilaku anak muda yang cenderung melakukan hal yang nggak penting, terkesan konyol, bahkan melanggar hukum ringan,” ungkap perempuan lulusan UGM itu, Kamis (18/1/2018).

Dia juga menambahkan, generasi micin cenderung nggak berpikir tentang konskuensi jangka panjang atas tindakannya. Mereka yang dicap generasi micin, lanjutnya, bahkan cenderung merasa bangga. 

"Ini sebenarnya bisa dikaitkan dengan gangguan mental," ujarnya.

Perempuan asal Yogyakarta itu mengungkapkan, bisa jadi anak yang dianggap sebagai generasi micin itu belum matang secara pribadi.

“Karena nggak matang, mereka acap kali jadi kurang bijak dalam mengambil keputusan,” kata dia.

Ketidakhadiran keluarga dan pengaruh teman sebaya juga bisa menjadikan seseorang berperilaku laiknya "generasi micin". Nah, di sinilah orang tua punya peran penting. Menurut Putri, orang tua harus bertindak dengan berperan aktif dan pandai menempatkan diri.

Baca juga:
Keren dan Gagah, Moge Baru Polantas yang Disuplai BMW
Micin? Apa sih manfaatnya?

"Ada kalanya orang tua bertindak sebagai pembimbing. Namun, kadang mereka juga harus menjadi teman atau tempat curhat," saran dia.

Dari situlah, imbuh Putri, orang tua dapat menanamkan sikap disiplin dan mengedukasi anak mereka.

Jadi, begitu ya sobat micin, eh sobat Millens, he-he. Boleh kok kreatif, tapi harus sesuai aturan. Jangan berlebihan deh! Yeah, kayak pakai micin, kalau kebanyakan nggak baik juga, bukan? (IF/GIL)