Begini Jadinya Jika Gunung Agung Meletus Lagi, Wahh

Erupsi Gunung Agung pada 1963 menimbulkan dampak dasyat secara global. Dan kini, saat gunung tertinggi di Bali itu diprediksi akan segera meletus, dampak yang sama juga kembali menghantui masyarakat.

Begini Jadinya Jika Gunung Agung Meletus Lagi, Wahh
Erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali pada1963. (Foto: sejarahbali.com)

Inibaru.id – Lebih dari setengah abad lamanya raksasa Pulau Dewata, Gunung Agung, tertidur pulas. Namun, gunung tertinggi di Bali yang terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, itu kini berstatus Awas. Penduduk setempat pun dibuat waswas.

Kali terakhir gunung yang menjulang hingga ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut mengalami erupsi, tak kurang dari seribu jiwa terenggut. Kendati jarang terjadi, letusan Gunung Agung termasuk yang terbesar di antara aktivitas vulkanik global dalam 100 tahun terakhir.

Maka, ketika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologis (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung pada Jumat (22/9/2017) malam lalu, penduduk lereng gunung pun berbondong-bondong mengungsi. Sementara, proses evakuasi juga telah diberlakukan dalam jarak 7,5 kilometer dari puncak.

Dilansir dari The Conversation sebagaimana diberitakan Liputan6, Gunung Agung adalah satu dari jajaran gunung di wilayah Cincin Api yang mengelilingi Pasifik dan samudera timur India. Tak hanya letusannya saja yang sporadis, gunung berapi tipe stratovolcano ini juga mampu melontarkan abu vulkanik dan sulfur dioksida hingga ke atmosfer.

Baca juga: 13 Fakta Kondisi Gunung Agung yang Wajib Diketahui

Letusan Gunung Agung akan menimbulkan dampak yang luas. Tak hanya bagi penduduk Bali, tapi juga masyarakat di luar Bali. Maka, tak mengherankan jika sejumlah negara saat ini mulai membuat larangan berwisata (travel warning) ke Indonesia, khususnya Bali.

Kali terakhir Gunung Agung mengalami letusan dahsyat adalah pada 1963. Mengawali letusan dengan gempa bumi, abu vulkanik dan lahar mulai mengalir dari puncak gunung berkawah lebar itu hingga sejauh tujuh kilometer ke utara pada Februari tahun itu.

Tak sampai sebulan, letusan besar terjadi pada 17 Maret 1963, memuntahkan lava pijar, abu dan gas vulkanik, serta lumpur lahar, lantaran pada saat bersamaan terjadi hujan deras.

Berselang dua bulan kemudian, Gunung Agung kembali mengalami erupsi dengan ciri fisik yang tak jauh berbeda dari yang pertama. Korban demi korban berjatuhan. Kerugian materi pun tak lagi bisa dihitung.

Baca juga: Gunung Agung Berpotensi Meletus, Inggris Keluarkan Travel Advice

Banyak yang memprediksi, gunung yang dikeramatkan warga Bali ini akan mengalami hal serupa dalam waktu dekat. Salah satu cirinya adalah kian seringnya frekuensi gempa vulkanik dan tektonik di gunung kerucut tersebut.

Mengacu pada letusan pada 1963, salah satu dampak global erupsi Gunung Agung adalah kemungkinan gunung ini melontarkan sulfur dioksida dalam jumlah besar ke stratosfer bumi.

Apabila bereaksi dengan uap air, sulfur dioksida akan membentuk aerosol asam sulfat yang bertahan hingga hitungan tahun dan menyebabkan penurunan suhu atmosfer secara global antara 0,1 hingga 0,4 ℃.

Suntikan abu vulkanik Gunung Agung ke atmosfer Bumi juga berpotensi menyebabkan gangguan lalu lintas penerbangan regional maupun internasional. (GIL/SA)