Dalam Tiga Pekan Ada 9 Gempa, Ada Apa dengan Pulau Jawa?

Dalam Tiga Pekan Ada 9 Gempa, Ada Apa dengan Pulau Jawa?
Ilustrasi: Gempa bumi membuat jalan beraspal retak.  Sembilan kali gempa dalam waktu tiga pekan di Jawa menandakan peningkatan aktivitas gempa bumi yang sangat signifikan. (Getty Images/Frederic J. Brown)

Dalam tiga pekan saja, sembilan gempa terjadi di Pulau Jawa. BMKG pun menganggap peningkatan aktivitas ini cukup signifikan. Ada apa ya dengan Pulau Jawa?

Inibaru.id – Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono pada Jumat (17/7/2020) mengungkap sembilan rentetan gempa di Pulau Jawa dalam tiga pekan terakhir. Dia pun menyebut Pulau Jawa sedang menggeliat.

Berdasarkan ulasan yang dibeberkan Daryono, sembilan kali gempa dalam waktu tiga pekan menandakan peningkatan aktivitas gempa bumi yang sangat signifikan. Sebagai contoh, pada Jumat (17/7) kemarin, di 89 kilometer arah barat daya Pangandaran, Jawa Barat, terjadi gempa dengan magnitudo (M) 3,7. Gempa terjadi pukul 11.08 WIB. Meski kekuatannya nggak besar, gempa ini terjadi di kedalaman 18 kilometer.

Gempa ini masuk dalam gempa dangkal. Penyebabnya adalah aktivitas sesar aktif yang ada di dasar laut. Hal ini membuat gempa bisa dirasakan di wilayah Pangandaran, Tasikmalaya, Cibalong, dan Singajaya meski nggak menyebabkan kerusakan yang berarti.

Peta megathrust dan sesar yang berpotensi menyebabkan gempa dan Pulau Jawa. (Twitter.com/supisenyi)
Peta megathrust dan sesar yang berpotensi menyebabkan gempa dan Pulau Jawa. (Twitter.com/supisenyi)

Sebelumnya, terjadi delapan gempa dengan kekuatan yang cukup besar. Sebagai contoh, pada 22 Juni 2020, terjadi gempa di selatan Pacitan, Jawa Timur, dengan kekuatan M 5,0. Pada 5 Juli 2020, gempa dengan M 5,3 terjadi di selatan Blitar. Bahkan pada 7 Juli 2020, terjadi empat gempa secara berurutan dengan kekuatan M 6,1; 5,1; 5, 0; dan 5,2.

Pada 10 Juli 2020, terjadi gempa di selatan Sukabumi dengan M 4,8, lalu disusul dengan gempa berkekuatan M 5,1 di Kulonprogo pada 13 Juli 2020.

Daryono dan BMKG pun menyarankan masyarakat dan pemerintah untuk lebih waspada dengan peningkatan aktivitas gempa bumi ini. Masyarakat juga diminta untuk siaga jika sewaktu-waktu terjadi tsunami mengingat Indonesia memang rawan gempa.

Ilustrasi gempa. (Medcom)<br>
Ilustrasi gempa. (Medcom)

Khusus untuk Pulau Jawa bagian selatan, risiko untuk mengalami gempa dan tsunami tergolong tinggi. Pemerintah pun diminta untuk memberikan sosialisasi terkait dengan mitigasi bencana, khususnya dalam hal memahami cara menyelamatkan diri saat gempa dan tsunami, mencari tempat perlindungan diri, hingga memahami konsep evakuasi.

Mengingat kita memang tinggal di wilayah cincin api dan gempa dunia, sebaiknya selalu waspada dengan gempa dan tsunami ya, Millens. Siapkan tas mitigasi karena hal ini memang sangat diperlukan! (Kum/IB09/E03)