Corona dan Keranjang Parsel yang 'Merana'

Corona dan Keranjang Parsel yang 'Merana'
Seorang anak sedang menunggu dagangan parsel kakeknya, Sadiyo. Pandemi membuat pesanan keranjang parsel sepi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pengrajin keranjang parsel mengalami penurunan omzet karena minimnya pesanan keranjang parsel. Hal itu ditengarai karena perekonomian sedang lesu. Jadi nggak banyak orang yang akan memberi parsel.

Inibaru.id - Transaksi sudah selesai. Muslihin dibantu sang penjual yakni Sadiyo langsung mengikat kumpulan keranjang parsel di jok belakang motornya. Muslihin adalah salah seorang utusan dari sebuah toko penyedia parsel di Kota Semarang.

Tokonya memang sudah menjadi langganan bagi para pembuat parsel yang berlokasi di Pasar Kobong. Biasanya tokonya tersebut akan membeli ribuan keranjang parsel. Namun untuk tahun ini, nggak demikian.

Penjualan keranjang parsel di tahun ini memang sedang lesu karena pandemi. Muslihin pun mewakili tokonya juga mengaku kalau sekarang sedang sepi. Perekonomian meredup. Bahkan pimpinan perusahaan yang biasanya memborong parsel di tokonya kali ini jadi mengurangi bahkan ada yang nggak pesan lagi.

Muslihin membawa keranjang parsel pesanannya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Muslihin membawa keranjang parsel pesanannya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sadiyo (74), selaku perajin parsel bahkan sudah pesimistis meskipun saat ini sudah memasuki dua minggu sebelum Lebaran. Kata Sadiyo, saat waktu normal, orang-orang utusan toko-toko di Semarang sudah berdatangan untuk memesan. Namun kali ini nggak ada.

“Sudah pasti sepi ini,” keluh Sadiyo. Meskipun tetap ada yang membeli seperti Muslihin tadi, namun itu belum ada apa-apanya.

Kata Sadiyo kalau biasanya dia bisa memproduksi hingga ribuan kali ini hanya mentok pada angka 200 keranjang. Sebelum corona menerjang, pada hari-hari biasa dia sampai kewalahan melayani pesanan.

Sadiyo termangu di antara keranjang-keranjang parsel bikinannya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Sadiyo termangu di antara keranjang-keranjang parsel bikinannya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sementara bagi perajin lain, yakni Hadi (52), paceklik karena pandemi mengharuskan dia untuk meliburkan para pegawainya. Pesanan yang minim membuat dia nggak sanggup mengupahi pegawainya. Alhasil, dia sendiri yang harus "turun gunung" membuat semuanya.

“Hasilnya saja baru cukup untuk diri saya dan keluarga,” ucap Hadi.

Kalau momen mendekati lebaran seperti ini, Hadi bisa mendapat omzet hampir Rp 2 juta per hari. Namun untuk saat ini berkurang sampai 50 persen. Omzetnya hanya menyentuh angka Rp 500 ribu. Bahkan kadang nggak sampai.

“Sudah habis buat produksi. Apalagi kalau harus bayar pekerja saya, tambahnya.

Hadi sampai meliburkan pegawainya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Hadi sampai meliburkan pegawainya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pengrajin keranjang di Pasar Kobong ini kata Hadi sebetulnya sudah punya nama khusus bagi para toko-toko penyedia parsel. Sebab, bahan baku yang digunakan berasal dari kayu dirasa lebih kuat dalam menampung bingkisan atau makanan.

Tapi dia juga menyadari untuk saat ini memang semuanya jadi serba susah. Meskipun di dalam hatinya dia mengaku sedih.

“Lebaran saya nggak bisa apa-apa ini,” tandasnya.

Jadi ikut sedih ya, Millens. (Audrian F/E05)