Corona Bikin Orang Takut Nyekar, Permintaan Bunga Mawar di Pasar Makin Menurun

Corona Bikin Orang Takut Nyekar, Permintaan Bunga Mawar di Pasar Makin Menurun
Suasana pemetikan mawar di kebun. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Membawa bunga mawar untuk nyekar menjadi tradisi yang ramai dilakukan menjelang Lebaran atau Kamis sore. Namun kali ini, masyarakat yang enggan nyekar karena pandemi membuat permintaan menurun dan harga mawar turun drastis.

Inibaru.id - Sabtu (18/5) saya menemui Singgih di sebuah kebun mawar di Desa Gondang, Kecamatan Limbangan. Lelaki asal temanggung itu dengan teliti memetik satu per satu tangkai mawar dengan teliti agar nggak mudah gugur kelopaknya. Bersama ibunya, dia sengaja memetiknya sore hari agar masih segar ketika dipasarkan pagi harinya.

Di tengah pandemi corona, permintaan pasar terhadap bunga mawar yang digunakan untuk nyekar ini turun menurun drastis. Hal ini dirasakan olehnya yang langsung menjajakannya pada pembeli di pasar-pasar sekitar Temanggung.

“Gara-gara corona, orang yang biasanya ke pasar jadi nggak ke pasar, yang biasanya mau ziarah ke leluhurnya jadi nggak berani dan nggak jadi beli kembang,” tuturnya.

Singgih dengan hasil petikan mawarnya. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Singgih dengan hasil petikan mawarnya. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Namun begitu, dirinya tetap semangat memetik satu per satu kembang yang mudah dibudidayakan tersebut. Situasi serupa juga didapati di pasar Bungan Bandungan yang biasa sitemui dari sore hingga pagi hari. Serupa dengan Singgih, Wuryati, seorang pengepul bunga juga mengeluhkan hal yang sama.

“Harga satu entik (wadah anyaman) Rp 20 ribu biasane, sekarang Rp 5 ribu,” tuturrnya.

Situasi tersebut membuatnya terpaksa merugi. Kadang mau nggak mau dia harus menjual bunga mawar dalam jumlah banyak dengan harga jual yang jauh dari harga beli. Karena menjadi pengepul bunga adalah satu-satunya pekerjaan yang dia lakukan, Wuryati mengaku tetap harus melakoninya meski sering merugi.

Daya Beli Menurun

Suasana jual beli di pasar Bandungan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Suasana jual beli di pasar Bandungan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Di hiruk pikuk pasar bunga, suara tawar menawar saya dengar di sana sini. Seorang perempuan tampak menawarkan dua wadah anyaman bunga mawar pada seorang pengepul. Dirasa terlalu murah, dia berpindah ke pengepul lain.

Ada pula seorang perempuan tua yang menyerah dengan harga yang diberikan pengepul.

Rongpuluh mbokan (mbok ya dua puluh ribu),” katanya memelas.

Ora payu, Mbah. Nek oleh ya lima belas tak tuku (Nggak laku, Mbah. kalau boleh ya lima belas ribu saya beli,” jawab seorang pengepul yang kemudian saya ketahui bernama Triono.

Petani bunga yang mengantongi sedikit uang karena harga anjlok. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Petani bunga yang mengantongi sedikit uang karena harga anjlok. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Benar saja, harga mawar yang hari itu benar-benar anjlok bikin semua orang pulang dengan dompet kempes. Cuma ada raut lelah dan kecewa dari para perempuan pembawa tempat anyaman bekas wadah bunga mawar.

Situasi ini dijelaskan oleh Triono sebagai hal yang nggak lumrah. Menurutnya, nggak seperti tahun-tahun sebelumnya, permintaan pasar terhadap bunga mawar kini semakin sedikit. Dirinya mengakui, corona membuat permintaan pasar terhadap bunga mawar menjadi turun drastis.

“Beda banget sama tahun lalu, permintaan pasar menurun sekitar 70 persen,” tuturnya yang mengaku pusing dengan situasi yang dihadapinya kini.

Semoga situasi segera pulih dan kondisi ekonomi pun turut membaik ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)