Cermin di Tikungan Bukan dari Kaca Cembung, Mitos atau Fakta?

Cermin di Tikungan Bukan dari Kaca Cembung, Mitos atau Fakta?
Cermin tikungan kenyal, bukannya keras karena bahannya bukanlah kaca. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Selama ini, cermin di tikungan yang mengilap terlihat seperti berbahan kaca cembung nan keras. Namun, nggak sedikit warganet yang menyangkal setelah membuktikannya sendiri. Hm, kalau bukan dari kaca, berbahan apa, ya?

Inibaru.id – Pada sejumlah tikungan, cermin cembung biasa diletakkan menghadap ke jalan. Cermin besar berbentuk bundar itu sengaja diletakkan di persimpangan atau tikungan agar pengendara bisa "mengintip" kondisi jalan di persimpangan.

Sekilas, cermin mengilap ini terlihat normal laiknya cermin pada umumnya yang berbahan kaca. Namun, rupanya cermin itu sejatinya nggak keras, lo, bahkan cenderung kenyal. Hal ini sempat dibuktikan oleh warganet pengguna Tiktok @hey.ibbear pada Desember 2020 lalu.

Warganet ini iseng menyentuh cermin di tikungan. Alhasil, dia terkejut karena cermin cembung yang dipegangnya itu ternyata kenyal, nggak keras laiknya kaca. Saat disentuh, cermin itu akan penyok. Namun, saat tangan dilepas, cermin perlahan akan kembali seperti semula.

18 tahun hidup baru tahu kalau itu bukan kaca asli (emoticon menangis),” tulis @hey.ibbear.

Jadi, meski memiliki rupa dan bentuk seperti kaca pada umumnya, cermin tikungan memang berbeda. Peralatan yang memiliki nama asli safety mirror atau convex mirror ini dibuat dari bahan polikarbonat serta akrilik.

Sesuai dengan aturan yang dibuat Dirjen Perhubungan Darat Nomor AJ.003/5/9/DRJD/2011, cermin tikungan memiliki diameter paling kecil 90 sentimeter dan tebal 3 milimeter. Nah, tinggi dari tiang cermin ini adalah 2,5 meter. Biasanya, pada bagian atas cermin akan diberi semacam topi dan bingkai.

Cermin tikungan kenyal, bukannya keras. (TikTok/@hey.ibbear)
Cermin tikungan kenyal, bukannya keras. (TikTok/@hey.ibbear)

Fungsi dari cermin tikungan ini tentu saja adalah demi memberikan sudut pandang dari pengendara lain tentang lintasan yang akan mereka lalui. Biasanya, cermin ini ditempatkan sebelum tikungan blind spot yang nggak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Nah, alasan utama mengapa cermin ini kenyal dan nggak keras tentu saja adalah demi keamanan. Jika keras seperti cermin biasa, cermin ini dikhawatirkan bisa melukai seseorang saat terjadi kecelakaan. Selain itu, pemilihan bahan polikarbonat serta akrilik juga dianggap mampu bertahan dari ganasnya kondisi cuaca ekstrem.

Selain cermin tikungan cembung dan bertopi sebagaimana yang biasa kita lihat, sebenarnya ada juga jenis safety mirror lainnya. Bentuknya persegi dengan bingkai reflektif atau bisa memantulkan cahaya. Nah, jenis safety mirror ini dianggap bisa membantu pengemudi melihatnya saat malam hari yang gelap.

Konon, convex mirror sudah ada sejak abad ke-15. Penggunaannya untuk keamanan dalam ruangan. Namun, jenis kaca yang dipakai saat itu berbeda dengan yang dipakai pada zaman sekarang.

Gimana, Millens, tertarik mencoba menyentuh cermin tikungan ini dan membuktikannya juga? (Sua/IB09/E03)