Cerita Kekuatan Secangkir Teh: Sanggup Pengaruhi Peradaban Tiongkok dan Jepang

Cerita Kekuatan Secangkir Teh: Sanggup Pengaruhi Peradaban Tiongkok dan Jepang
Teh memiliki sejarah panjang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Teh punya peran penting dalam membentuk peradaban Tiongkok dan Jepang. Bahkan juga merambah ke berbagai belahan dunia lewat kolonialisme.

Inibaru.id - Di Tiongkok ada lebih dari 8000 jenis teh. Informasi itu disampaikan Tauhid Aminulloh, perwakilan dari Wikiti pada Sabtu (22/2/2020) di Hetero Space, Banyumanik, Kota Semarang dalam Kelas Mengenal Teh. Wikiti adalah platform yang dikembangkan oleh KEN8 (Koperasi Edukarya Negeri Lestari) berupa kepakaran tentang komoditas teh.

Dia juga menjelaskan kalau teh di Tiongkok erat kaitannya dengan agama. Pada abad ke-6 SM, di Tiongkok sudah berkembang dua agama yakni Konfusius dan Tao. Menurut kedua agama ini teh adalah minuman keabadian. Para biksu Tao menggunakan teh untuk membantunya berkonsentrasi saat meditasi.

Kemudian di masa Dinasti Han (206 SM-220 M) mulai populer Budhiisme. Tao berakulturasi dengan Budhiisme menjadi Zen. Dari situ muncul pembakuan tata cara upacara teh dan cara produksinya.

Di Tiongkok, teh adalah kegiatan yang sakral. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Di Tiongkok, teh adalah kegiatan yang sakral. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Kemudian beranjak ke Dinasti Tang, teh sudah dinikmati secara publik. Pada masa ini masyarakat betul-betul menghayati bagaimana cara meminum teh. Terlebih seperti apa yang sudah didokumentasikan oleh seorang biksu yang bernama Lu Yu,” jelas Tauhid.

Buku bikinan Lu Yu berjudul Ch'a Ching atau The Classic of Tea. Buku ini memuat 10 bab dalam 3 jilid yang membahas teh dari penanaman, pemrosesan, penyeduhan, hingga upacara untuk minum teh.

Kemudian berlanjut pada Dinasti Sung (907 - 1279M), budidaya teh mulai dikenal. Pemetikan daun teh dilakukan dengan cara teratur dan selektif. Kemudian dibarengi dengan ritual agama. Jadi nggak bisa asal.

Para peserta sedang menyimak edukasi tentang teh. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Para peserta sedang menyimak edukasi tentang teh. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Pada masa ini seorang biarawan dari Jepang yaitu Myoan Eisai, banyak mengambil ilmu dari budidaya teh di Tiongkok. Akhirnya dia membawa ilmunya tersebut saat kembali ke negaranya. Dari situlah, Jepang mulai membudidayakn teh sendiri,” ujarnya. Di masa ini pula berkembang teh putih.

Penjajahan bangsa Mongol pada masa Dinasti Yuan (1271 - 1368) yang dilakukan oleh Kubilai Khan hingga cucunya Genghis Khan, mengubah segalanya.

“Di sini terjadi deskralisasi. Tradisi minum teh bukan lagi sesuatu yang sakral. Masa ini, teh cuma jadi minuman biasa yang biasanya diminum sambil makan dimsum,” ungkap Tauhid.

Nggak cukup dengan memporak-porandakan Tiongkok, bangsa Mongol mencoba memperlebar daerah jajahannya mulai dari Korea, Jepang hingga ke Jawa. Kekejaman bangsa Mongol membuat Jepang terpaksa berhenti berguru kepada Tiongkok.

Era Dinasti Ming, minum teh menjadi semakin maju. Mulai diseduh menggunakan beragam pottery yang indah. Pengolahannya pun memanfaatkan oksidasi.

Tauhid Aminulloh menjelaskan banyak tentang perjalanan teh. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Tauhid Aminulloh menjelaskan banyak tentang perjalanan teh. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Evolusi minum teh di Tiongkok bergulir dalam 3 tahap. Yakni direbus, dikocok, dan diseduh. Hal itu menggambarkan tiga era dinasti; Tang, Sung, dan Ming,” pungkasnya.

Kalau di Jepang, teh yang paling terkenal adalah teh hijau. Jangan salah, teh ini menjadi ilmu terakhir yang mereka dapatkan dari Dinasti Sung. Mereka juga masih menjunjung tinggi kesakralan teh. Ada sebuah upacara minum teh yang bernama “Ryuku Sen”.

“Keberagaman teh Tiongkok adalah jejak atas revolusi dan perubahan radikal. Sementara teh Jepang adalah wujud dari upaya menjaga harmoni,” tandas Tauhid.

Jadi begitu ya, Millens. Teh memiliki pengaruh besar terhadap peradaban Tiongkok dan Jepang. (Audrian F/E05)