Cegah Radikalisme, Kemenag Segera Ganti Buku Pendidikan Agama Islam

Cegah Radikalisme, Kemenag Segera Ganti Buku Pendidikan Agama Islam
Kementerian Agama. (Tirto)

Kemenag sedang menyiapkan 155 buku baru untuk mengganti buku pendidikan agama Islam yang lama demi mencegah radikalisme.

Inibaru.id – Demi mencegah penyebaran radikalisme dan intoleransi di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) berencana mengganti buku pendidikan agama Islam dengan yang baru.

Tirto, Senin (11/11/2019) menulis, Kemenag mengaku sudah menyiapkan 155 buku baru.

“Kami sedang melakukan penulisan ulang pada buku-buku agama di sekolah-sekolah Indonesia. Diperkirakan akhir tahun ini selesai,” ungkap Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin.

Amin menyebut pada akhir Desember 2019 buku-buku ini akan rampung sehingga bisa segera diresmikan oleh Menteri Agama Fachrul Razi.

Amin juga menyebut buku-buku yang berorientasi pada moderasi agama ini dibuat dengan melibatkan akademisi, komunitas, dan berbagai organisasi agama. Rencananya, buku-buku ini dipakai untuk kurikulum pendidikan tahun depan.

Keputusan untuk mengganti buku pendidikan agama yang sebelumnya dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini didasari oleh kekhawatiran terhadap paham radikalisme dan intoleransi di Indonesia yang belakangan ini dianggap sudah mengkhawatirkan.

Penulisan atau pengkajian ulang buku-buku yang dilakukan Kementerian Agama ini didukung oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Sistem Perbukuan. Dalam UU ini, disebutkan bahwa masyarakat diperbolehkan menulis buku tentang agama, namun buku ini nggak akan bisa diedarkan jika Kementerian Agama menganggap buku ini bisa menyebabkan kekacauan atau tidak layak.

“Masyarakat boleh menulis buku, tapi harus dengan ajaran agama yang benar. Kalau tidak, Kementerian berhak menariknya dari peredaran,” ucap Amin.

Fachrul  Razi, Menteri Agama yang baru saja dilantik Presiden Joko Widodo memiliki latar belakang dari dunia militer. Sangat berbeda dari Menteri-Menteri Agama sebelumnya. Pemilihannya dimaksudkan untuk mencegah dan menangkal radikalisme di Indonesia.

Kalau menurut Millens, apakah pencegahan radikalisme di Indonesia bisa dimulai dari perubahan buku ajar ini? (IB09/E06)