Menyoal Radikalisme di Medsos dan Gimana Mencegahnya

Untuk menambah wawasan mahasiswa tentang radikalisme dan terorisme, Tugu Muda Duta Damai bekerja sama dengan Unnes, BNPT, dan Inibaru.id mengadakan seminar "Sosmedku Masa Depanku". Dalam seminar ini, peserta juga diedukasi untuk menggunakan internet secara positif.

Menyoal Radikalisme di Medsos dan Gimana Mencegahnya
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ir Hamli memberi penjelasan bahaya radikalisme dan terorisme di dunia maya. (Inibaru.id/Artika Sari)

Inibaru.id – Aksi radikalisme yang begitu marak di dunia maya beberapa tahun terakhir ini menjadi bahan diskusi dalam seminar nasional bertema "Medsosku Masa Depanku" pada Selasa (17/4/2018). Bertempat di Lantai 3 Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (Unnes), seminar ini merupakan inisiasi Tugu Muda Duta Damai yang bekerja sama dengan BNPT, Unnes, dan Inibaru.id.

Tugu Muda Duta Damai adalah semacam komunitas anak muda yang terbentuk dari pelatihan yang diadakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mengampanyekan gerakan damai di Indonesia, khususnya Semarang. Di Jawa Tengah, ada lima kelompok penggerak tersebut, yakni Garis, Blaik, Tugu Muda, Semai, dan Tradam. Kelimanya tergabung dalam Duta Damai Regional Jawa Tengah.

Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ir Hamli selaku pembicara mengungkapkan, ada beberapa motif yang memengaruhi orang untuk bergabung dalam kelompok radikal. Motif-motif tersebut antara lain ideologi agama, solidaritas komunal, mental yang mudah dipengaruhi, balas dendam, konflik situasional, dan separatisme.

Baca juga:
Ini yang Harus Kamu Lakukan Usai Lolos SNMPTN
Tren Jilbab Pocong, Kreatif atau Seram?

Ideologi agama, ungkapnya, acap menjadi motif utama radikalisme. Namun begitu, hasil survei Wahid Foundation pada 2016 terhadap sejumlah pemeluk agama terbesar di Indonesia menunjukkan hal yang berbeda. Dari survei tersebut diperoleh data bahwa 77 persen responden menolak radikalisme, 7,7 persen bersedia berpartisipasi, dan 0,4 persen pernah berpartisipasi.

Yang menakutkan, kendati penolakan yang terjadi cukup besar dan jumlah partisipan aksi radikal tergolong kecil, dampak radikalisme itu begitu terasa, bahkan berpotensi memecah persatuan.

Menurut Hamli, berdasarkan data yang dihimpun BNPT, kampus adalah salah satu tempat yang paling rentan menjadi pintu masuk doktrin radikalisasi ideologi. Proses perekrutan anggota kelompok radikal ini, lanjutnya, umumnya tertutup dan terorganisir.

Hamli juga mengatakan, dibandingkan mahasiswa sosial, mahasiswa eksak cenderung lebih mudah direkrut. Kelompok ini juga biasanya cenderung antipati pada perbandingan mazhab.

“Kalau mau belajar agama, jangan hanya belajar dari satu kitab. Bandingkan dengan sumber-sumber lain. Kita hidup di Indonesia yang punya banyak keragaman dan tidak ada agama yang mengajarkan kebencian. Gunakan media sosial untuk menyatukan, bukan memecah belah.” lanjut Hamli.

Bijak Bermedsos

Attok Rintawan, salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional "Medsosku, Masa Depanku". (Tugu Muda Duta Damai)

Manajer IT Inibaru.id Attok Rintawan yang juga menjadi salah seorang panelis dalam seminar nasional tersebut menegaskan kepada seluruh peserta seminar agar lebih bijak bermedsos. Media sosial, ungkapnya, adalah semacam portofolio untuk menilai kepribadian seseorang.

“Ada perusahaan yang dalam perekrutan karyawannya menilai kepribadian individu tersebut dari media sosial," kata dia.

Baca juga:
Kemenristekdikti Bakal Perbarui Regulasi Homebase Dosen
Tiga Siswa SMK N 4 Malang Juarai Lomba Animasi Se-ASEAN

Menurut pemuda asli Ungaran, Kabupaten Semarang, tersebut, perusahaan akan menelisik gimana karakter calon pekerjanya dari media sosial. Maka, lanjutnya, sebaiknya masyarakat lebih berhati-hati membagikan konten.

"Buatlah citra yang positif dengan memuat konten yang juga positif," sarannya.

Dia menambahkan, selain konten, intensitas interaksi kita di media sosial juga bisa menggambarkan gimana karakter seseorang.

"Apakah kita pendiam atau aktif sangat terlihat di media sosial,” terang Attok, lalu tersenyum.

Selain perwakilan Inibaru.id dan BNPT, seminar yang dipandu Julio Belnanda Harianja ini juga diisi vlogger cum content creator asal Semarang, Wahid. Pada kesempatan tersebut, Wahid banyak mengulas gimana cara memanfaatkan media sosial untuk memperoleh penghasilan. (Artika Sari/E03)