Cegah Kejahatan Siber, Informasi Ini Paling Banyak Disembunyikan Pengguna Sosmed

Cegah Kejahatan Siber, Informasi Ini Paling Banyak Disembunyikan Pengguna Sosmed
Data pribadi harus disembunyikan di media sosial demi mencegah jadi korban kejahatan siber. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Kejahatan siber berupa penyalahgunaan data pribadi atau bahkan pencurian uang digital semakin marak. Demi menghindarinya, informasi ini paling banyak disembunyikan pengguna sosmed. Apa saja?

Inibaru.id – Keberadaan media sosial membuat kita seperti nggak punya lagi privasi. Banyak orang yang bahkan tanpa ragu mengunggah aktivitasnya sehari-hari di media sosial. Padahal, data-data pribadi ini bisa saja disalahgunakan orang lain. Nah, bagi mereka yang nggak ingin terjadi, akhirnya memilih untuk menyembunyikan sejumlah hal dari media sosialnya.

Baru-baru ini, perusahaan keamanan siber Kaspersky mengeluarkan laporan terkait dengan informasi yang dibagikan pengguna media sosial secara daring. Laporan tersebut berjudul Making Sense of Our Place in the Digital Reputation Economy. Nah, salah satu bagian dari laporan ini sangatlah menarik karena mengungkap informasi apa saja yang disembunyikan oleh pengguna medsos Asia Tenggara.

1. Informasi Keuangan

Nah, menurut laporan ini, disebutkan bahwa warganet cenderung sangat berhati-hati dalam menjaga informasi terkait keuangannya. Sebagai contoh, 76 persen dari 861 partisipan laporan yang berasal dari Asia Tenggara nggak akan mengungkap detail kartu kredit serta kartu debitnya.

Mereka yang berasal dari generasi orang dewasa tua atau Baby Boomers memiliki persentase 85 persen akan menyembunyikannya. Kalau generasi Millenial yang sudah beranjak dewasa memiliki persentase 75 persen. Sayangnya, generasi paling muda, Gen Z, justru hanya memiliki persentase 68 persen saja untuk menyembunyikan informasi ini.

2. Informasi Pribadi

Informasi-informasi pribadi ternyata juga banyak disembunyikan warganet Asia Tenggara. Persentasenya bahkan sampai 69 persen dari total pengguna medsos, lo. Menjadi anonym dianggap jauh lebih aman. Selain itu, informasi tentang keluarga (64 persen), lokasi (54 persen) hingga pekerjaan juga disembunyikan oleh para warganet dengan persentase 47 persen.

Data-data pribadi di media sosial bisa dicuri dan disalahgunakan. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Data-data pribadi di media sosial bisa dicuri dan disalahgunakan. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Warganet Khawatir Data-data Pribadi Itu Dicuri dan Disalahgunakan

Warganet Asia Tenggara ternyata khawatir jika data-data pribadi mereka dicuri. Kekhawatiran ini ternyata dialami oleh 73 persen partisipan laporan. Sebanyak 61 persen partisipan juga mengaku khawatir data-data ini disalahgunakan orang tidak dikenal.

Gara-gara hal ini juga , 71 persen warganet dari Asia Tenggara memakai kata sandi untuk ponsel atau laptopnya. Sekitar 47 persen warganet bahkan sampai nggak mau memakai perangkat lunak bajakan demi menghindari hal ini. Sementara itu, 53 persen warganet sampai memasang aplikasi keamanan pada gawai yang mereka gunakan.

Menariknya, kekhawatiran ini juga membuat banyak warga Asia Tenggara yang masih ragu memakai layanan pembayaran digital. Hal ini berbeda dengan warganet dari area lain yang sudah cukup banyak memakainya.

“Dapat dimaklumi kalau beberapa orang masih merasa takut dan nggak yakin untuk memakai layanan seperti pembayaran digital. Layanan ini masih baru dan setiap kali ada perubahan, tentu ada risikonya,” tutur Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Chris Connell, Selasa (4/5/2021).

Kalau kamu, apakah juga menyembunyikan data-data pribadi di media sosial kamu, Millens? (Oke/IB09/E05)