Cegah Corona, Transaksi di Pasar Surabaya Kini Pakai Cara Unik

Cegah Corona, Transaksi di Pasar Surabaya Kini Pakai Cara Unik
Pasar di Surabaya tetapkan aturan transaksi unik demi mencegah penularan Covid-19 lewat uang. (Suarasurabaya)

Uang adalah salah satu benda yang berpotensi menyebarkan virus corona. Untuk menghindari penyebaran virus melalui uang, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun menetapkan aturan unik untuk bertransaksi dengan aman di pasar. Bagaimana caranya, ya?

Inibaru.id - Pasar merupakan salah satu tempat umum yang mempertemukan penjual dengan pembeli. Hal ini membuatnya menjadi salah satu tempat paling rawan penularan Covid-19. Nggak ingin kasus virus corona semakin naik di fase new normal, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun merancang cara mencegah penularan Covid-19 di pasar.

Direktur Teknik dan Usaha PD Pasar Surya Muhibuddin mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penataan konsep 'pasar tangguh'. Selain mewajibkan pedagang dan pembeli mengenakan masker dan melakukan pengecekan suhu badan, transaksi pembayaran juga harus diubah. Para pedagang di sejumlah pasar di Surabaya kini diwajibkan memakai nampan saat melakukan transaksi pembayaran dengan pembeli.

"Pembeli menaruh uang di nampan, lalu jika ada uang kembalian juga diletakkan di nampan itu," kata Muhibuddin.

Pasar di Surabaya tetapkan aturan transaksi yang unik. (Katakini)
Pasar di Surabaya tetapkan aturan transaksi yang unik. (Katakini)

Pemerintah Kota Surabaya bahkan telah membagikan 10.000 nampan gratis kepada para pedagang di 67 pasar yang dikelola PD Pasar Surya.

"Jadi nampan pembayaran itu sudah diterapkan, dan itu ide dari ibu Wali Kota. Pembayaran melalui nampan itu wajib diterapkan oleh pedagang. Nah, nanti misalnya yang dapat nampan itu hilang, ya harus membeli lagi dan itu harus dilakukan," ungkap Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Kota Surabaya Agus Hebi Djuniantoro, Minggu (14/6/2020).

Nggak hanya nampan, para pedagang daging dan ikan juga melengkapi lapak mereka dengan tirai plastik. Langkah ini telah diterapkan di sejumlah pasar seperti Pasar Genteng Baru dan Tambahrejo.

"Nah ini yang harus diantisipasi. Sehingga harus ada tirai berupa plastik itu, untuk membatasi agar cipratan-cipratan tersebut tidak menempel ke mana-mana, agar tidak sampai nyiprati ke pembeli," tambah Hebi.

Selain menggunakan nampan, tiap lapak juga memasang plastik pembatas antara penjual dan pembeli. (Kabar24)
Selain menggunakan nampan, tiap lapak juga memasang plastik pembatas antara penjual dan pembeli. (Kabar24)

Konsep lain pasar tangguh yang diterapkan adalah arus one way bagi para pembeli di dalam pasar. Jalan searah diaplikasikan dengan cara memasang petunjuk arah di lantai pasar. Hal ini dilakukan untuk mengatur arah pembeli di dalam pasar. Selain itu, pintu masuk dan keluar dibuatkan sekat atau jarak pemisah.

Hebi menyatakan bahwa konsep pasar tangguh ini nggak hanya diterapkan kepada 67 pasar yang dikelola PD Pasar Surya saja. Pasar Krempyeng yang dikelola LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) juga didorong untuk menyiapkan skema yang sama.

Eddy Christijanto, Kepala Satpol PP kota Surabaya menyebut 49 dari 101 pedagang di Pasar Krempyeng telah diatur sedemikian rupa demi mengakomodasi protokol kesehatan. Penataan ini dilakukan dengan menyesuaikan kearifan lokal, melibatkan pengurus RT/RW, dan LPMK.

"Kalau physical distancing di dalam pasar tak mencukupi dan pedagang melebihi kapasitas, maka kita tata di jalan. Tapi kalau misalnya jalan itu pukul 06.00 WIB dipakai, maka sebelum pukul 06.00 WIB, jalan harus bersih. Nah, itu yang kita lakukan," kata Eddy.

Semoga dengan protokol yang baru ini bisa meminimalisasi penularan virus Covid-19 di pasar ya, Millens. (Mer/MG27/E07)