Cegah Bosan di 'Pengasingan', Lakukan Hal Positif Selama Jalani Isoman

Cegah Bosan di 'Pengasingan', Lakukan Hal Positif Selama Jalani Isoman
Beberapa pasien covid-19 merasa bisa lebih produktif selama isoman. (Inibaru.id/ Bayu N)

Melakoni isolasi mandiri tak ubahnya seperti tengah berada di pengasingan. Biar nggak bosan, cobalah lakukan berbagai hal positif sebagaimana para anak muda ini! 

Inibaru.id - Hikikomori atau mengurung diri di kamar selama berbulan-bulan menjadi hal menarik di Jepang. Konon, 1,2 persen penduduk di sana pernah mengalaminya, yang sebagian besar di antaranya berusia 20-29 tahun. Ini agaknya sangat bertentangan dengan masyarakat di sekitar kita.

Memang, belum ada riset yang membuktikannya. Namun, berjubelnya tempat nongkrong di sekitar kita sepertinya bisa menjadi asumsi bahwa fenomena itu belum "menjangkiti" anak muda negeri ini.

Bukti lain? Ehm, sulitnya pemerintah menyuruh warganya berdiam diri di rumah selama pandemi Covid-19 dan banyaknya orang masih nekat berkerumun di keramaian tentu bisa menguatkan asumsi bahwa hikikomori belum jadi masalah serius di sini. Ha-ha.

Secara pribadi, saya yang sebelum pandemi suka nongkrong juga nggak bisa membayangkan gimana rasanya berdiam diri di rumah dalam waktu yang lama. Setali tiga uang, saya yang belum pernah positif corona juga nggak bisa bayangin harus menjalani isolasi mandiri (isoman) di kamar. Pasti bosan!

Namun, rupanya ini nggak berlaku bagi Dinda, seorang penyintas Covid-19 asal Kota Salatiga. Selama menjalani isoman belum lama ini, perempuan berjilbab tersebut mengaku baik-baik saja. Kebetulan, gejala Covid-19 yang dialaminya nggak terlalu serius, jadi masih bisa banyak beraktivitas.

Selama isoman, Dinda merasa lebih <i>glowing </i>karena jadi lebih rajin <i>skincare-</i>an. (Inibaru.id/ Bayu N)
Selama isoman, Dinda merasa lebih glowing karena jadi lebih rajin skincare-an. (Inibaru.id/ Bayu N)

Dia juga nggak merasakan stres selama isoman sebagaimana dikeluhkan banyak orang, karena pada dasarnya Dinda hobi rebahan. Selama harus berdiam diri di kamar, dia justru bisa melakukan banyak kegiatan positif yang sebelumnya enggan dilakukannya secara rutin, misalnya skincare-an

“Ya kan rebahan sambil main HP terus juga bosan. Jadi, mau nggak mau harus cari kegiatan lain (yang bisa dilakukan di kamar),” celetuk Dinda, "misal pakai skincare."

Dinda yang sebelum dinyatakan positif Covid-19 mengaku cukup malas merawat diri mendadak berubah 180 derajat selama masa isoman. Kegiatan yang sebelumnya nggak terlalu disukainya itu justru kemudian menjadi salah satu aktivitas paling menyenangkan kala itu.

"Dulu mager banget. Eh, sekarang jadi rutin ngerawat kulit wajah menjelang tidur dan setelah bangun," kata perempuan yang merasa kini wajahnya jauh lebih glowing itu, lalu terkekeh. "Jarang keluar rumah, tidur teratur juga. Dulu sering begadang, nggak bagus buat muka, kan?"

Fokus Melakukan Hobi

Manfaatkan waktu isoman, Yusuf kembali menekuni hobi membacanya. (Inibaru.id/ Bayu N)
Manfaatkan waktu isoman, Yusuf kembali menekuni hobi membacanya. (Inibaru.id/ Bayu N)

Yusuf, seorang teman saya yang belum lama ini mengaku positif Covid-19 mengatakan, isoman justru menjadi waktu yang menyenangkan untuk berpuas-puas melakoni hobinya, yakni membaca novel. Karena butuh ketenangan dan suasana kondusif saat membaca, isoman jadi berkah baginya.  

Dia yang tinggal di kontrakan bersama teman-temannya mengaku sebelumnya nggak punya banyak waktu untuk membaca karena lebih sering diajak ngobrol atau nongkrong bersama para karibnya tersebut.

"Aku nggak suka main ponsel. Pas belum positif Covid-19 ya lebih sering ngobrol sama teman. Biasanya mereka asal nyelonong masuk kamar,” aku lelaki yang karib disebut Ucup ini.

Kalau sudah ngobrol, dia jadi nggak punya cukup waktu untuk melahap buku bacaan yang disukainya. Namun, kondisi itu berubah saat lelaki yang mengidolakan penulis Jepang Haruki Murakami ini diharuskan menjalani isoman. Dia jadi bisa membaca lebih banyak buku tiap hari.

"Biasa kan ngobrol (sama teman-teman), jadi selama isoman sempat merasa agak kesepian. Biar nggak kesepian, ya sudah, baca novel saja,“ tutur pemuda yang mengaku bisa melahap habis satu novel dalam 2-3 hari tersebut.

Meski sering dilanda kebosanan, isoman juga bisa menjadi waktu yang tepat untuk <i>me time</i>, lo!<i> </i>(Inibaru.id/ Bayu N)
Meski sering dilanda kebosanan, isoman juga bisa menjadi waktu yang tepat untuk me time, lo! (Inibaru.id/ Bayu N)

Selama menjalani isoman, melakukan berbagai aktivitas posititf memang diperlukan. Oya, selain Ucup, saya juga punya seorang teman lain yang agaknya tentu bisa jadi inspirasi buatmu yang sedang isoman. Namanya Robi. Alih-alih mager, selama menjalani isoman dia justru mengaku bisa lebih produktif.

"(Selama isoman) bisa lebih fokus menulis artikel untuk pekerjaan sampingan," terang lelaki yang selama isoman mengaku hanya mengalami gejala-gejala ringan tersebut.

Kendati isoman membuat dia labih produktif, pada akhirnya Robi tetap berharap ke depannya dia nggak bakal pernah terjangkit virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut lagi. Menurutnya, sehat dan bisa berkegiatan seperti biasa tetap nala; jauh lebih baik ketimbang harus isoman.

Kecuali kamu mau menerapkan hikikomori, sampai kapan pun agaknya isolasi mandiri nggak bakal pernah jadi hal yang menyenangkan, semenarik apa pun situasinya. Maka, segera lakukan vaksinasi dan tetap menjaga protokol kesehatan ya! (Bayu N/E03)