Catatan Hitam Pembunuhan Wartawan di Indonesia

Catatan Hitam Pembunuhan Wartawan di Indonesia
Kasus pembunuhan wartawan di Indonesia. (Requisitoire Magazine)

Indonesia punya catatan panjang yang kelam tentang kebebasan pers. Berikut sejumlah kasus pembunuhan wartawan yang terjadi di Indonesia.

Inibaru.id – Tanggal 9 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Peringatan ini sebetulnya bertujuan untuk meningkatkan kebebasan pers Tanah Air. Sayang, nggak semua pihak serta merta mendukung kemerdekaan itu.

Sejumlah kasus intimidasi, penahanan, hingga pembunuhan wartawan cukup menjadi bukti kebebasan pers di Indonesia belum berjaya. Berikut beberapa kasus pembunuhan wartawan di Indonesia berdasarkan urutan waktu.

1. 2010

Paling tidak, ada tiga kasus pembunuhan wartawan selama 2010. Ketiga wartawan itu adalah Ardiansyah Matra’is Wibisono, Alfrets Mirulewan, dan Ridwan Salamun.

Ardiansyah yang merupakan jurnalis Tabloid Jubi dan Merauke TV ditemukan tewas pada 29 Juli 2010 di Gudang Arang, Sungai Maro, Merauke, Papua. Kabar yang tersiar, Ardiansyah ditemukan dalam kondisi penuh luka.

Kendati begitu, polisi meyakini Ardiansyah tewas tenggelam dan nggak ada penyelidikan lebih lanjut tentang kematiannya seperti diberitakan Kompas.com Jumat (8/2/2019).

Selang sebulan, kasus kematian wartawan kembali terjadi. Kali ini, kasus tersebut merenggut nyawa dua wartawan. Pertama, Alfrets Mirulewan yang ditemukan meninggal pada 18 Agustus 2010 di Pelabuhan Pulau Kisar, Maluku Tenggara Barat. Alfrets yang merupakan pemimpin redaksi Tabloid Pelangi itu tewas tatkala melakukan investigasi kelangkaan bahan bakar minyak di Kisar bersama Leksi Kikilay. Dalam sumber yang sama menyebutkan ada dugaan keterlibatan aparat pada pembunuhan tersebut.

Tiga hari setelahnya, di Kota Tual, Maluku Tenggara, Ridwan Salamun ditemukan tewas. Kontributor Sun TV itu dikabarkan dikeroyok saat meliput bentrokan warga kompleks Banda Eli melawan warga Dusun Mangun, Desa Fiditan, Kota Tual pada 21 Agustus 2010. Menurut saksi mata, Ridwan dibacok dari belakang saat berusaha memotret secara berimbang antara kedua belah pihak.

Ada tiga terdakwa dalam kasus ini. Namun, ketiganya dibebaskan Pengadilan Negeri Tual pada 9 Maret 2011 karena dinilai tidak terbukti melakukan penganiayaan.

2. 2009

Kematian jurnalis Radar Bali Anak Agung Narendra Prabangsa pada 16 Februari 2009 menambah daftar panjang kasus pembunuhan wartawan. AA Prabangsa ditemukan tewas di Pelabuhan Padang Bali.

Polisi lantas menahan beberapa tersangka, salah satunya Nyoman Susrama yang merupakan adik Bupati Bangli Nengah Arnawa dalam kasus pembunuhan berencana ini. Saat itu, Susrama diketahui menjadi pengawas proyek Dinas Pendidikan Bangli. Atas kasus itu, Susrama diganjar hukuman seumur hidup dari Pengadilan Negeri Denpasar.

3. 2006

Wartawan lepas Tabloid Delta Pos Herliyanto ditemukan meninggal pada 29 April 2006 di hutan jati Desa Taroka, Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi memastikan kematiannya berkaitan dengan pemberitaan Herliyanto tentang kasus korupsi anggaran pembangunan yang melibatkan mantan Kepala Desa Tulupari seperti ditulis Harian Kompas (10/5/2013).

Ada tiga orang yang ditetapkan menjadi tersangka. Namun, ketiganya dibebaskan Pengadilan Negeri Sidoarjo dengan alasan nggak cukup bukti bagi dua tersangka dan satu lainnya dianggap gila.

4. 2003

Ada dua kasus kematian wartawan yang terjadi sepanjang 2003. Pertama, Muhammad Jamaluddin yang kala itu bertindak sebagai juru kamera TVRI Aceh tewas pada 17 Juni 2003. Terdapat banya dugaan atas kematian Jamal di antaranya dibunuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan diculik TNI di Aceh karena motif tertentu.

Kasus kematian kedua menimpa Ersa Siregar. Jurnalis RCTI itu tewas ketika melakukan liputan konflik di Nangroe Aceh Darussalam pada 29 Desember 2003. Dia tewas saat ada baku tembak antara TNI dan pasukan GAM di Kuala Maniham Simpang Ulim.

Sebelum meninggal, Ersa dan juru kamera Ferry Santoro sempat dilaporkan hilang pada 1 Juli di tahun yang sama. Kedua jurnalis itu ditemukan empat hari setelahnya di Langsa.

5. Era 1990-an

Era 1990-an juga nggak luput dari kasus pembunuhan wartawan. Pada 25 September 1999, pembantu koresponden dan fixer untuk media Jepang Asia Press Agus Mulyawan dikabarkan meninggal lantaran ditembak di Pelabuhan Qom, Los Palos, Timor Timur. Jenazah Agus baru ditemukan sehari setelahnya di dasar Sungai Verukoco, Apikuru, Kabupaten Lautem.

Pada 25 Juli 1997, Naimullah yang bekerja untuk Sinar Pagi di Kalimantan Barat dikabarkan tewas di dalam mobil pribadi jenis Isuzu Challenger. Mobil itu terparkir di kawasan Pantai Penimbungan, Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat. Naimullah diduga dianiaya karena bagian belakang kepala dan pelipis kanan pecah serta kedua tangan memar. Kamera, tape recorder, jam tangan, gelang emas, dan cincinnya lenyap.

Tahun 1996 juga menambah daftar hitam kebebasan pers di Indonesia. Fuad Muhammad Syaifuddin yang merupakan jurnalis Harian Bernas di Yogyakarta tewas dibunuh pada 16 Agustus 1996. Pembunuhan itu didasarkan karena Udin memberitakan dugaan korupsi di Bantul. Tiga hari sebelum terbunuh, Udin diserang dan dianiaya orang tak dikenal di kediamannya di Bantul, Yogyakarta.

Sederet kasus itu cukup membuktikan kebebasan pers di Indonesia masih rendah. Semoga Hari Pers saat ini dan seterusnya nggak hanya jadi seremonial semata tapi juga sebagai ruang kontemplasi untuk meningkatkan kebebasan pers. (Ida Fitriyah/E05)