Bule itu Betah di Mentawai

Biasanya bule datang ke Indonesia untuk pelesir. Namun, Rob Henry justru menetap di pedalaman Sumatra dan menetap dengan suku asli di sana.

Bule itu Betah di Mentawai
Kebersamaan Henry dengan masyarakat Suku Mentawai. (Byroncentre.com.au)

Inibaru.id – Melbourne telah dinobatkan sebagai the most liveable city selama tujuh tahun terakhir. Namun, predikat itu nampaknya nggak bikin warganya merasa nyaman dan menemukan jati diri di sana. Seperti Rob Henry, pria asal Melbourne, Australia, itu nyatanya lebih memilih tinggal bersama Suku Mentawai, Indonesia, ketimbang di tempat asalnya.

Keputusan ini bermula saat Henry mengalami krisis ekonomi pada 2008 silam. Semenjak itu, Henry berpikir untuk mencari jalan hidupnya. Pria yang juga seorang peselancar tersebut kemudian berkelana hingga Indonesia. Saat itu Henry mengunjungi sebuah resor untuk berselancar sekaligus membuat film. Dia kemudian bertemu dengan sosok pemuda Mentawai yang menggugah hatinya.

Baca juga:
Presiden Jokowi Jadi Tokoh Termasyhur 2017
Zaman Serbadigital, Gedung Pencakar Langit Juga Dijual Secara Daring

“Dia bernama Andy, salah seorang pekerja resor. Andy memiliki hubungan yang sangat bagus dengan Mentawai. Hal itu membuatku berpikir bila kebebasan dan budaya yang saya cari belum pernah saya ketahui,” ujar Henry.

Setelah itu, Henry datang ke lokasi Suku Mentawai. Dia mulai beradaptasi dengan masyarakat di sana dan belajar bahasa setempat. Henry bahkan meminta tubuhnya dirajah seperti suku Mentawai yang lain. Tato khas Suku Mentawai, yakni Titi, yang merupakan salah satu tato tertua di dunia.

Selain ditato, Henry juga mempelajari keyakinan yang dianut suku yang berada di sebelah barat Sumatra itu, yaitu keyakinan Arat Sabulungan. Setidaknya sudah delapan tahun Henry tinggal di sana. Pengalaman itu dituangkannya dalam sebuah film yang bertajuk As Worlds Divide.

Baca juga:
Miss A Resmi Bubar
WhatsApp akan Cabut Dukungan pada Sejumlah Sistem Operasi

Senang ya kalau ada orang luar yang mengapresiasi budaya kita. Kamu jangan kalah juga ya, Millens! Yuk, kenali budaya kita sendiri! (IF/GIL)