Budi Daya Ikan di Selokan Berdampak Positif bagi Warga Jangli Semarang

Budi Daya Ikan di Selokan Berdampak Positif bagi Warga Jangli Semarang
Ikan nila, salah satu jenis ikan yang dibudidayakan warga Jangli Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Selokan nggak terpakai dimanfaatkan warga Jangli untuk budi daya ikan. Nggak hanya hasil penjualan yang didapatkan, dampak positif lain juga mulai didapatkan warga. Apa saja? 

Inibaru.id – Warga Jangli Semarang nggak menyangka budi daya ikan yang mereka lakukan di selokan rupanya mendapat respons positif masyarakat luas. Orang-orang yang penasaran berdatangan ke tempat budi daya yang berlokasi di Jalan Sapta Marga III RT 2 RW 1 Kecamatan Tembalang tersebut.

Surya, salah seorang inisiator budi daya ikan di selokan itu, sebelumnya nggak pernah berpikir selokan nggak terpakai yang dimanfaatkan sebagai kolam ini akan menjadi "lokawisata" yang menarik minat orang untuk berkunjung.

"Dalam benak saya, (selokan) itu nganggur, ya dikelola saja jadi usaha kolektif warga," ungkapnya datar, belum lama ini. "Tapi, nggak apa-apa. Banyak positifnya!"

Dia mengakui, belakangan memang banyak orang yang datang ke tempat tersebut. Nggak hanya warga setempat, sebagian pengunjung juga berasal dari desa lain, bahkan ada yang datang dari luar kecamatan. Mereka biasa datang pada pagi atau sore hari sembari jogging santai.

Menjadi Tempat Wisata

Lukisan ikan koi, salah satu spot foto yang disediakan untuk berswafoto di sekitar lokasi. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Lukisan ikan koi, salah satu spot foto yang disediakan untuk berswafoto di sekitar lokasi. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Alih-alih melarang, warga setempat justru menganggap ketertarikan orang pada budi daya ikan di Jangli itu sebagai peluang untuk membuat tempat itu jadi lebih dikenal masyarakat. Baru-baru ini, salah seorang warga membuat dua spot foto instagenik pada salah satu dinding di dekat "kolam".  

Spot foto berupa lukisan sepasang sayap dan dua ekor ikan koi itu pun segera menjadi sasaran para pencinta fotografi dan swafoto. Orang-orang juga kerap datang ke kolam sepanjang 150-an meter tersebut untuk membuat konten, baik video atau foto. Hal ini seperti dituturkan Novi, istri  Surya.

“Iya, betul. Banyak yang datang, lalu ambil foto atau video kolam dan ikan-ikannya untuk keperluan konten mereka," ujar perempuan yang juga menjadi bagian dari kelompok sadar wisata (pokdarwis) di kelurahan tersebut.

Selain spot foto, beberapa fasilitas pendukung lain juga tampak tengah dibangun di sekitar kolam, salah satunya konstruksi ayunan yang baru kelar sekitar 50 persen. Agaknya tempat itu bakal menjadi spot pendukung untuk anak-anak.

Pada sore hari, kamu juga tetap menikmati tempat ini karena ada lampu-lampu di sekitar kolam yang akan segera menyala menjelang malam. Lampu warna-warni ini ditata dengan ciamik, sehingga tampak cukup menarik kalau kamu mau berfoto di dekatnya pada malam hari.

Bikin Warga Lebih Aktif

Sepasang sayap yang digambar di dinding; satu dari dua spot foto instagenik di  dekat kolam. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Sepasang sayap yang digambar di dinding; satu dari dua spot foto instagenik di dekat kolam. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Menjadi pemandangan yang lazim melihat anak-anak datang berbondong-bondong melongok kolam-kolam berisi berbagai jenis ikan itu pada pagi hari. Beberapa dari mereka hanya memandangi ikan-ikan tersebut. Namun, ada pula yang iseng pengin menyerok ikannya.

"Pernah ada anak kecil mau ngambil ikan, nyerok, eh malah kecebur!" kelakar Novi, yang sebetulnya berharap anak-anak yang datang tetap dalam pengawasan karena kendati kedalamannya hanya 35 sentimeter, bahaya juga kalau ada anak yang tercebur kolam.

Namun, bagaimana pun Novi tetap melihat antusiasme anak-anak tersebut sebagai hal positif. Dia melihat ada rasa kepemilikan yang tinggi pada mereka. Nggak sedikit dari anak-anak itu yang sengaja datang membawa makanan untuk diberikan pada ikan-ikan.

Serupa dengan anak-anak, para ibu di kompleks Jalan Sapta Marga III juga terlihat lebih aktif sekarang. Saat ini kolam yang berisikan nila, bawal, lele, dan koi itu memang dikelola para perempuan, yang biasa disebut ibu-ibu dasawisma (dawis). Nah, keterlibatan para ibu ini otomatis membuat mereka lebih aktif.

"Setiap hari ibu dawis ini jadi penanggung jawab kolam ikan. Tugas mereka juga sudah dibagi-bagi sesuai kesepakatan," tutur Novi, yang segera diiyakan suaminya, Surya.

Menghidupkan Sektor Lain

Anak kecil yang mampir melihat-lihat ikan dan berteduh di warung tengah kolam. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Anak kecil yang mampir melihat-lihat ikan dan berteduh di warung tengah kolam. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Nggak hanya untuk menonton atau memberi makan ikan, orang-orang yang datang, terlebih anak-anak, biasanya juga nongkrong di sebuah warung yang terletak tepat di tengah kolam. Tentu saja ini membuat penjualan di warung tersebut ikut meningkat.

Novi berharap, selain menjadi usaha yang berimbas langsung pada keuangan warga, keberadaan budi daya ikan di selokan yang kian terkenal ini juga nantinya bisa berdampak positif bagi sektor lain, seperti yang terjadi pada penjualan di warung tengah kolam tersebut.

Lebih jauh, dia juga menaruh harapan penuh pada pemangku kebijakan seperti Walikota Semarang atau Gubernur Jateng agar memberi dukungan untuk warga Jangli ini.

"Semoga mereka mau ke sini dan mngenalkan kampung kami sebagai salah satu destinasi wisata," pinta Novi, kemudian segera disambung dengan candaan: "Syukur-syukur bisa memberi benih ikan dan pakannya!"

Gimana, Pak Wali dan Pak Gub, dukung nggak, nih? Ha-ha. (Kharisma Ghana Tawakal/E03)