Bonita Terancam Dibunuh

Harimau Sumatera merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia. Populasinya saat ini semakin menipis dan masih terus diburu untuk kepentingan pribadi. Bagaimana ya?

Bonita Terancam Dibunuh
Harimau Sumatera. (gosumatra.com)

Inibaru.id - Alih fungsi lahan yang begitu masif menjadi salah satu faktor yang terus mendesak tempat tinggal harimau di Sumatera. Raja rimba yang kehilangan tempat tinggal pun beberapa kali terlihat turun ke permukiman warga, satu di antaranya Bonita, seekor harimau sumatera yang belakangan dianggap "ancaman" serius warga Indragiri Hilir, Riau.

Dua warga setempat dikabarkan meninggal diterkam Bonita. Korban pertama, Jumiati, tewas diterkam harimau tersebut pada Januari 2018. Kala itu, dia tengah mendata sawit di lahan konsesi PT Tabung Haji Indo Plantation, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Riau.

Satu korban lain adalah Yusri, pekerja bangunan asal Dusun Sinar Danau, Kecamatan Pelangiran, Riau. Seperti ditulis Mongabay, pada 10 Maret lalu, Yusri tengah membangun rumah burung walet bersama tiga temannya ketika melihat Bonita. Keempatnya kemudian berlindung di atap bangunan dan baru berani turun untuk pulang pukul 18.00.

Nahas, di tengah perjalanan, Bonita kembali muncul dan mengejar keempatnya. Mereka berpencar, tapi Yusri gagal menghindar. Dia diterkam Bonita. Warga kemudian menemukan jenazah Yusri di atas rumput yang digenangi air dengan tengkuk sobek digigit harimau.

Harimau Bonita tampak melintas di kawasan perkebunan sawit di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. (Kompas TV)

Seperti ditulis BBC, Rabu (28/3/2018), dua hari setelah Yusri meninggal, puluhan warga mendatangi kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan menyampaikan ultimatum. Mereka menuntut BBKSDA membunuh Bonita dalan kurun tiga hari. Duh!

BBKSDA tidak bisa berjanji untuk membunuh Bonita dalam waktu yang ditentukan namun tuntutan warga membuat BBKSDA meningkatkan pelacakan. Pada 16 Maret lalu, Bonita sempat roboh terkena tembakan bius, tapi kemudian bangkit dan berhasil kabur ke dalam hutan.

Menanggapi keinginan warga, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, mengatakan, harimau sebenarnya nggak mengganggu manusia jika habitatnya nggak terganggu. Ketika ruang jelajah dan pasokan makan harimau berkurang, tambahnya, ia merasa terancam.

"Konflik satwa dan manusia pun terjadi di situ,” kata Siti Nurbaya.

Perambahan hutan untuk lahan yang sering dilakukan perusahaan sawit dan kertas termasuk faktor penyebab terganggungnya habitat harimau. Mereka yang sejatinya cenderung sangat menghindari manusia malah kehilangan rasa takut dan menyerang manusia.

Jadi, siapa yang bersalah dalam kasus Bonita ini? Estimasi populasi harimau Sumatera di alam liar saat ini kurang lebih tersisa 604 ekor. Sementara, jumlah harimau di lembaga konservasi dalam dan luar negeri hanya ada 383 ekor. Hm, nggak banyak, bukan?

Nah, kalau Bonita dibunuh, populasi harimau Sumatera tentu akan semakin menipis. Apakah membunuh Bonita adalah sebuah solusi? Menurutmu gimana, Millens?  (MAY/GIL)