Bloody Mary, Ratu Inggris Pembakar Ratusan Orang di Tiang Pancang

Bloody Mary, Ratu Inggris Pembakar Ratusan Orang di Tiang Pancang
Mary Tudor atau yang dikenal sebagai Mary I. (Getty Images)

Mary Tudor atau Mary I adalah putri dari Henry VIII dan Catherine dari Aragon. Dia juga kakak tiri Ratu Elizabeth I. Selama 5 tahun memerintah Inggris, dia dikenal bengis kepada musuh-musuhnya dan menentang protestan. 

Inibaru.id – Kisah para raja dan ratu kerajaan Inggris memang selalu menarik untuk diikuti. Kehidupan mereka nggak selalu nyaman meski bergelimang harta. Banyak juga yang harus melalui jalan pahit dan berduri demi mencapai singgasana. Mary I misalnya.

Mary I merupakan ratu Inggris yang lahir dari pernikahan Raja Henry VIII dan Catherine dari Aragon. Dia memerintah pada 1553 sampai 1558. Oleh masyarakat Inggris, sosok Mary I dipuja sekaligus dicaci maki.

Selama pemerintahannya yang singkat, dia telah membantai ratusan orang dengan membakar mereka di tiang pancang. Begitulah sejarah mencatat namanya sebagai Bloody Mary.

Tapi kamu harus ingat bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang. Bisa saja beberapa hal dilebih-lebihkan atau dikurangi untuk tujuan tertentu. Bener nggak?

Masa Kecil Mary I  

Henry VIII, ayah Mary I. (History)
Henry VIII, ayah Mary I. (History)

Mary lahir dengan nama Mary Tudor pada 18 Februari 1516 di Istana Placentia di Greenwich, Inggris. Dia satu-satunya anak Raja Henry VIII dengan istri pertamanya, Putri Catherine dari Aragon, yang bertahan hidup. Mary dibaptis sebagai seorang Katolik nggak lama setelah kelahirannya.

Sedari kecil, Mary mendapat pengajaran musik dan bahasa. Ayahnya kemudian mengirimnya ke perbatasan Welsh pada 1525. Alasannya, Henry pengin merencanakan pernikahan untuk putrinya itu. Ternyata, itu hanya akal-akalan Henry. Sang ayah hendak kawin lagi dengan seorang dayang ibunya, Anne Boleyn. Henry sedang mengatur siasat agar Catherine mau diceraikan.

Henry memang berhasrat memiliki anak laki-laki sebagai pewaris tahta. Keberadaan Mary I nggak dianggap terlalu menguntungkan. Kemudian Henry berharap banyak pada Anne untuk melahirkan anak laki-laki.

Namun, karena perceraiannya menemui jalan buntu, Henry nekat mendirikan Gereja Inggris dan memutuskan hubungan dengan Roma pada 1534. Bukan cuma itu, Henry juga mendesak parlemen untuk menyatakan Mary nggak sah sebagai pewaris dan mendepaknya jauh tanpa kontak dengan ibunya.

Menempati Tahta

Elizabeth I, adik tiri Mary I. (Royal Museums Greenwich)
Elizabeth I, adik tiri Mary I. (Royal Museums Greenwich)

Mary I yang tadinya terusir diperbolehkan kembali ke istana dengan syarat yang cukup berat. Dia harus mengakui ayahnya sebagai raja dan ilegalitas pernikahan sang ayah dengan ibunya. Dengan terpaksa, Mary mengikuti permintaan tersebut.

Setelah saudara tirinya Edward, putra dari pernikahan ayahnya dengan dayang Anne Boleyn, Jane Seymure meninggal dunia, Mary berhasil mengumpulkan dukungan untuk menjadi ratu. Sebelumnya, tahta akan jatuh pada cucu adik Henry bernama Lady Jane Gray.

Begitu menjadi ratu, dia berusaha untuk mengembalikan legalitas pernikahan orang tuanya. Dia juga bertekad untuk membawa rakyat Inggris kembali pada gereja Roma. Begitu dendam pada Anne Boleyn, dia sampai nggak rela jika Elizabeth I menjadi penerusnya.

Elizabeth ini anak dari Henry VIII dengan Anne Boleyn, Millens. Kebahagiaan Anne setelah berhasil mendepak Catherine, ibu Mary nggak berlangsung lama. Anne juga mengalami nasib yang sama bahkan lebih buruk dari Catherine. Dia dieksekusi dengan cara dipenggal karena tuduhan yang dibuat-buat oleh Henry sendiri. Sebabnya utamanya, Anne nggak kunjung memberikan keturunan laki-laki.

Kematian Anne nggak membuat kemarahan Mary reda. Konon, dia sampai mengurung Elizabeth di salah satu tower istana. Sementara itu, Mary mengajukan permohonan untuk menikahi Philip II dari Spanyol dan disetujui. Jelas, dia ingin memiliki keturunan agar tahta nggak menurun ke Elizabeth. Kala itu, Mary berusia 37 tahun sementara Philip 26 tahun.

Meskipun ada kandidat lain yang lebih menguntungkan, namun Mary tetap memilih Philip. "Pernikahan saya adalah urusan saya sendiri," katanya kepada parlemen.

Kehilangan Dukungan dan Cinta

Ilustrasi Philip II dari Spanyol, suami Mary I. (Screen Youtube Top Influencer)
Ilustrasi Philip II dari Spanyol, suami Mary I. (Screen Youtube Top Influencer)

Mary berhasil membuat pidato yang membakar semangat ribuan rakyat dalam menghadapi pemberontakan yang dipimpin Sir Thomas Wyatt pada 1554. Setelah Wyatt dikalahkan dan dieksekusi, ratu menikahi Philip. Setelah itu, dia meluruskan kembali hukum dan menentang siapa pun yang dianggap sesat.

Selama lima tahun memerintah, Mary I mengeksekusi tanpa henti sekitar 300 orang dengan cara dibakar di tiang pancang. Dari situlah, orang menjulukinya Bloody Mary. Selanjutnya, dia dibenci. Pemerintahan Mary selanjutnya nyaris tanpa dukungan. Bahkan Philip memfitnahnya agar nggak ikut disalahkan atas pembantaian tersebut.

Konflik dengan Spanyol juga membuat Mary harus melepaskan Calais. Hidupnya makin hampa tanpa adanya keturunan. Mary terus menerus dilanda kesedihan.

Sang ratu akhirnya mangkat pada 17 November 1558 di istana St James di London dan dimakamkan di Westminster Abbey. Besar kemungkinan dia menderita kanker rahim. Selanjutnya, mimpi buruk Mary selama hidup menjadi nyata. Sang adik tiri naik tahta dengan gelar Elizabeth I.

Prestasi Mary I

Meski sempat dikenal sebagai sosok ratu yang kejam, namun agaknya dalam beberapa tahun terakhir, dia mendapat penilaian kembali. Anna Whitelock, sejarawan kepada BBC menyatakan, pemerintahan Mary telah mengubah banyak aturan perang, termasuk politik.

Mary I juga merestrukturisasi ekonomi, mengatur kembali milisi, dan membangun kembali angkatan laut. "Skala pencapaian Mary sering diabaikan. Mary memimpin satu-satunya pemberontakan yang berhasil melawan pemerintah pusat di Inggris pada abad ke-16," kata Whitelock.

Ratu yang satu ini juga berhasil menghindari penangkapan, memobilisasi kudeta balasan, dan pada saat krisis, dia menunjukkan keberanian, ketegasan, dan mahir secara politik.

Ibarat nila setitik merusak susu sebelanga, Mary dikenang karena kegagalannya mempertahankan Calais. Tapi bukankah sebelumnya, dia mampu membuat pasukan Inggris dan Spanyol melakukan penangkapan Saint-Quentin, yang menewaskan 3.000 orang dan menahan 7.000 orang?

Lalu bagaimana dengan pembantaiannya pada ratusan orang? Hm, Mary bukan satu-satunya pemimpin yang melakukannya. Ayahnya, Henry VIII juga pernah mengeksekusi 81 orang karena dianggap sesat. Saudara tirinya, Ratu Elizabeth I juga melakukan hal serupa. Jadi, kenapa cuma Mary yang dianggap penuh darah?

Hm, bagaimana menurutmu, Millens? (Kom,Wik/IB21/E03)