Bikin Ngilu, LaMPu Perlihatkan Benda-Benda yang Digunakan untuk Menyiksa Perempuan
Terong dan mentimun yang turut dipamerkan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Bikin Ngilu, LaMPu Perlihatkan Benda-Benda yang Digunakan untuk Menyiksa Perempuan

Aliansi mendukung Keadilan Perempuan (LaMPu) menggelar Forum Kesaksian Korban untuk memperingati rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Nggak cuma menyaksikan kesaksian korban, berbagai peranti yang dipamerkan punya ceritanya sendiri.

Inibaru.id - Rangkaian 16 hari antikekerasan terhadap perempuan (16 HAKTP) Kota Semarang yang masih berlangsung hinga 10 Desember, diisi dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah Forum Kesaksian Korban oleh Aliansi Mendukung Keadilan Perempuan (LaMPu) yang digelar, Kamis (22/11) di Taman Indonesia Kaya.

Nggak cuma berdiskusi, berbagai benda turut didisplai bikin merinding setengah mati. Catatan kecil nan singkat cukup bikin perasaan ngeri sekaligus marah. Yap, benda-benda yang dipamerkan ini merupakan duplikat yang dibuat untuk mengedukasi publik terkait kekerasan terhadap perempuan. Selain itu, apa saja yang ditampilkan dalam peringatan 16 HAKTP?

Aneka Poster

Poster. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Poster jadi peranti pendukung ketika demonstrasi. Selain mudah dibuat, poster juga lebih eye catching . Berbeda dengan berbagai poster yang dipakai untuk turun aksi, mereka memakai berbagai poster untuk menunjukkan perjuangan perempuan di berbagai aksi.

Kesaksian Korban

Kesaksian korban kekerasan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Kekerasan terhadap perempuan bukan isapan jempol belaka. Selain menyajikan data, LaMPu juga menghadirkan perempuan korban kekerasan. Mereka terdiri atas perempuan disabilitas, perempuan pesisir, petani, pekerja rumahan, dan lingkungan. Dalam forum tersebut, penyintas kekerasan berbagi kisah pilu yang pernah mereka alami. Nggak heran, sesi ini berhasil membuat peserta terenyuh.

Benda yang Digunakan untuk Melakukan Pelanggaran

Benda yang digunakan pelaku untuk melakukan kekerasan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Bensin, korek, terong, permen, hingga makanan kecil warna warni turut dipamerkan di sudut-sudut panggung. Benda-benda ini diberi catatan kecil yang dijamin bisa bikin siapa saja yang melihatnya merasa ngilu. Koordinator Acara Nihayatul Mukaromah mengatakan benda-benda ini merupakan duplikat alat yang digunakan pelaku kekerasan ketika melakukan pelanggaran.

“Raket dan timun sepertinya biasa saja, ketika digunakan oleh pelaku itu bisa sangat menyakiti perempuan,” terang Nihayatul yang akrab dipanggil Niha ini.

Pakaian Korban

Pakaian korban. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Berbagai pakaian yang digantung menggunakan hanger sekilas seperti jemuran biasa. Namun ternyata pakaian ini merupakan duplikat pakaian korban ketika mengalami kekerasan seksual. Jika selama ini publik mengira pakaian seksi menjadi penyebab kekerasan seksual, kali ini pakaian yang ditampilkan justru berbanding terbalik. Baju anak-anak yang lucu hingga gamis besar yang tertutup jadi bukti yang tragis.

Niha mengungkapkan bahwa displai dan aksi kreatifnya ini merupakan caranya untuk memperlihatkan kepada masyarakat apa saja alat yang digunakan pelaku ketika dia melakukan pelanggaran.

Niha menambahkan, duplikat barang-barang yang ditampilkan merupakan kasus kekerasan perempuan yang terjadi di Jawa Tengah. Menurut data yang masuk ke LRC-KJHAM, selama Oktober 2018 hingga Oktober 2019 terjadi sebanyak 96 kasus kekerasan terhadap perempuan.

Semoga publik dan pemerintah bisa bekerja sama dalam mengurangi kasus kekerasan terhadap perempuan ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)