Tantangan Pekan Film Semarang 2018: Bikin Film dalam 48 Jam!

Bukanlah waktu yang menjadi kendala para sineas untuk membuat film. Sejumlah sineas Semarang membuktikannya dengan membuat film dalam waktu maksimal 48 jam saja dalam Weekend Film Challenge Pekan Film Semarang 2018. Wah!

Tantangan Pekan Film Semarang 2018: Bikin Film dalam 48 Jam!
Para pemenang "Weekend Film Challenge" pada Malam Penganugerahaan Pekan Film Semarang 2018 di Tekodeko Koffiehuis, Semarang. (Inibaru.id/Ida Fitriyah)

Inibaru.id - Bikin film itu butuh waktu. Setidaknya, itulah yang kebanyakan orang tahu. Penggalian ide, reading naskah, persiapan alat dan properti, proses syuting, hingga editing membutuhkan waktu yang nggak sedikit. Nah, kalau cuma dikasih waktu dua hari, adakah yang bisa menyelesaikannya?

Ada, kok, Millens! Mereka adalah para peserta Weekend Film Challenge (WFC). Dalam waktu 48 jam, mereka diminta membuat satu film dengan genre dan sejumlah unsur intrinsik tertentu, seperti nama tokoh dan latar tempat, yang telah ditentukan panitia. Nggak kurang dari delapan tim menjawab tantangan tersebut.

Ketua Pelaksana Pekan Film Semarang 2018 Erma Yuliati mengatakan, WFC adalah agenda rutin yang diselenggarakan saban acara pekan film. Nah, tahun ini, lanjutnya, tantangan mereka adalah membuat film pendek dengan waktu pembuatan yang singkat. 

"Tantangan buat sineas-sineas adalah bikin film dalam waktu 48 jam, bisa nggak, sih? Jadi, ini untuk memunculkan sineas-sineas baru yang nggak terlihat sebelumnya," ujar Erma.

Dari delapan tim yang mendaftar, satu tim dianggap gugur lantaran pengumpulannya melebihi tenggat waktu yang ditentukan. Tujuh film yang diterima ini selanjutnya dilombakan. Pemenang lomba diumumkan pada malam penganugerahaan (awarding night) yang digelar Minggu (23/9/2018) malam.

Sebanyak tiga ketegori diperebutkan dalam malam anugerah WFC Pekan Film Semarang 2018, yakni Best Film, Best Property, dan Special Mention. Kategori Best Film dimenangkan Taruna Liar lewat Sinten. Sementara, kategori Best Property diraih A1 melalui Aroma Karsa, sedangkan kategori Special Mention didapatkan Dustad via Unearth.

Selain penghargaan WFC, malam itu Pekan Film Semarang juga memberi penghargaan untuk film-film submisi masyarakat. Tahun ini, sekurangnya ada 53 film submisi yang masuk ke panitia, yang kemudian diseleksi menjadi 12 film. Ke-12 film itu lalu ditayangkan selama berlangsungnya Pekan Film Semarang, yakni 21-23 September 2018.

Dari 12 film tersebut, panitia kemudian memilih film-film terbaik untuk menerima penghargaan pada malam penganugerahan. Film Kemae Daeng Imang (2016) karya Magung Budiman meraih penghargaan kategori Special Mention, sedangkan Xiao De (2016) karya Daniel Victory menyabet gelar Best Film.

Pekan Film Semarang merupakan gelaran tahunan yang diselenggarakan Kelompok Kolektif Alternatif Film Semarang Sineroom sejak 2017 lalu sebagai bentuk apresiasi dunia perfilman di Indonesia, khususnya Semarang. Untuk tahun ini, Pekan Film Semarang diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Festival Kota Lama Semarang.

Hm, angin segar untuk belantika film Kota ATLAS, nih, Millens! Buat kamu penikmat film atau yang suka bikin film, bertahanlah dengan kesukaanmu itu! Semarang sudah punya wadah, kamulah yang harus mengisinya! Sepakat? (Ida Fitriyah/E03)