Selain Menambah Wawasan, Membaca Buku juga Bisa Jadi Terapi Stres

Selain Menambah Wawasan, Membaca Buku juga Bisa Jadi Terapi Stres
Ilustrasi membaca buku. (Assets.entrepreneur)

Membaca buku rupanya bisa dijadikan sebagai media terapi stres, lo. Nggak main-main, ada ilmunya yakni biblioterapi. Seperti apa sih metode terapi ini?

Inibaru.id – Bagi sebagian orang, buku adalah pilihan terbaik untuk mencari ilmu. Sementara sebagian yang lain menganggap buku adalah tempat terbaik untuk menenangkan diri atau mencari pengalihan dari penatnya rutinitas hidup. Nggak cuma itu, membaca buku rupanya juga bisa dijadikan media terapi stres, Millens.

Terapi ini kerap disebut biblioterapi. Saat terapi, kamu akan diminta membaca buku yang sesuai dengan permasalahan hidup. Ini diawali dengan diskusi soal masalah yang dihadapi klien dan buku-buku apa yang dekat dengannya. Dari sanalah, biblioterapi mengidentifikasi masalah klien.

Konselor atau psikolog nanti akan memilihkan beberapa buku yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi si klien. Buku-buku yang dipilih sengaja diselaraskan dengan permasalahan klien dengan tujuan untuk membantu klien berpikir positif dan mengasah keterampilan seseorang dalam menemukan solusi atas masalah psikis yang dihadapi.

Hal ini pernah dilakukan penulis Ceridwen Dovey yang mendatangi sebuah lokasi konsultasi terapi termasuk biblioterapi di School of Life. Di lembaga yang bermarkas di London ini, buku nggak hanya digunakan sebagai media belajar atau hiburan, tapi juga digunakan untuk memberikan efek terapeutik. Dengan pilihan buku yang tepat, membaca dapat menjadi sarana penurun stres dan membantu meringankan depresi.

“Kusuntuki buku-buku itu selama beberapa tahun berikutnya, dengan kecepatan baca saya sendiri—diselingi dengan buku temuanku sendiri [...] Sejauh ini, wawasan dari buku-buku itu membantuku melalui sakit fisik akut selama beberapa bulan,” tulis Dovey dikutip dari laman Tirto, (19/12/2018).

Konon, terapi ini sudah ada sejak masa Yunani kuno. Pada abad ke-19, terapi ini mulai dikembangkan secara saintifik. Rumah sakit di Eropa juga disebut sudah membangun perpustakaan khusus untuk pasien di akhir abad ke-19.

Bapak psikiatri Amerika Serikat Benjamin Rush dikatakan menjadi awal munculnya terapi ini. Dia merekomendasikan terapi bacaan untuk para pasien gangguan mental pada 1802. Namun, saat itu belum memakai istilah biblioterapi. Istilah itu baru muncul pada 1916 saat terapi ini sudah mulai banyak dikenal masyarakat. Samuel McChord Crothers adalah yang mencetuskan istilah biblioterapi.

Namun, definisi tentang biblioterapi yang baku dan diterima hingga sekarang adalah yang tercantun dalam Webster's Third New International Dictionary pada 1961. Dalam kamus itu, biblioterapi didefiniskan sebagai pengunaan bahan bacaan terpilih sebagai terapi tambahan dalam kedokteran dan psikiatri.

Samuel McChord Crothers

Baca selengkapnya di Tirto.id dengan judul "Sehat Jiwa dengan Terapi Baca Buku", https://tirto.id/sehat-jiwa-dengan-terapi-baca-buku-db5M.

Follow kami di Instagram: tirtoid | Twitter: tirto.id

Yap, biblioterapi dianggap sebagai teknik yang sangat bagus untuk merangsang munculnya diskusi tentang suatu masalah yang nggak bisa didiskusikan. Membaca tentang kisah karakter dalam memecahkan masalah membuat klien terbantu mengungkapkan secara lisan perasaannya tentang masalah yang dia hadapi.

Beberapa rumah sakit di Indonesia juga sudah mengadopsi metode terapi ini. Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) adalah satu di antaranya. Kamu pernah melakukan terapi ini, Millens? (IB07/E04)