Berkisah tentang Keberagaman di Borobudur

BWCF 2017 akan menjadi tempat menyenangkan bagi Anda yang ingin tahu lebih jauh tentang keberagaman Nusantara.

Berkisah tentang Keberagaman di Borobudur
Konferensi pers menjelang perhelatan BWCF 2017 yang akan dilangsungkan pada 23-25 November mendatang. (BWCF 2017)

Inibaru.id – Festival kebudayaan dan ajang berkumpulnya para seniman Tanah Air akan kembali digelar di kawasan Borobudur. Untuk keenam kalinya, perhelatan akbar yang dikenal sebagai Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) itu akan dilangsungkan pada 23-25 November.

Dilansir dari Beritagar.id, Senin (20/11/2017), BWCF tahun ini akan mengangkat tema besar seputar pluralisme atau keberagaman. Sejumlah budayawan, akademikus, peneliti, jurnalis, penulis, novelis, penyair, seniman, musisi, mahasiswa, dan pelajar dipastikan akan turut meramaikan ajang yang digelar di Yogyakarta dan Magelang itu.

Dengan tajuk “Gandawyuha dan Pencarian Religiositas Agama-agama Nusantara”, BWCF 2017 direncanakan akan banyak mengupas khazanah pengetahuan dan peradaban di Nusantara.

Baca juga:
Ajakan Jaga Kemajemukan dari Shinta Nuriyah di Kopenhagen
Para Peragawati Senegal Itu Berbalut Batik dan Tenun Nusantara

Sejumlah seminar, pentas kolaborasi tari-rupa-musik, pembacaan puisi, pergelaran musik, meditasi pagi, pemutaran film, pameran foto, hingga pesta buku dipastikan akan memanjakan para pengunjung yang hadir. Rangkaian itu akan ditutup dengan pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award.

Selama dua hari, seminar BWCF 2017 akan mengangkat tema sentral “Keberagaman dalam Hal Berkeyakinan”. Sementara Sang Hyang Kamahayanikan Award akan diberikan bagi sosok yang selama ini mendedikasikan diri dalam penelitian Candi Borobudur.

Sejak diselenggarakan perdana yang mengangkat tema "Memori dan Imajinasi Nusantara" pada 2012, BWCF kali ini telah memasuki tahun keenam. Sebelumnya, BWCF 2013 sempat mengangkat tema "Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara, antara Kolonial dan Poskolonial", diikuti BWCF 2014 tentang “Ratu Adil, Kuasa, dan Pemberontakan di Nusantara."

Baca juga:
Menikmati Infrastruktur Berkelok Nan Elok
Tenun Sumba Menginspirasi Karya Terbaru Biyan Wanaatmadja

Sementara, festival Candi Borobudur itu juga sempat mengangkat tema "Gunung, Bencana, dan Mitos di Nusantara" pada BWCF 2015, dan "Setelah 200 tahun Serat Centhini: Erotisme dan Religiusitas dalam Kitab-Kitab Nusantara" pada BWCF 2016.

Adapun sebagaimana diberitakan Detik.com (15/11), BWCF 2017 juga akan menampilkan pameran fotografi dan naskah kuno yang “diimpor” dari Bali.

Pameran fotografi akan memajang foto-foto Muarajambi dan Nalanda yang saling hubungan dalam konteks Buddha dan Gandawuha yang berasal dari India. Lebih dari itu, situs Muarajambi yang menjadi pusat agama Buddha sejak abad ke-6 di Jambi juga bakal dihadirkan dalam bentuk pemutaran film. (OS/SA)