Beras Rojolele, Varietas Berharga yang Lolos dari 'Revolusi Hijau' Orba

Beras Rojolele, Varietas Berharga yang Lolos dari 'Revolusi Hijau' Orba
Ilustrasi: Padi. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Beras Rojolele merupakan varietas yang dikembangkan di Klaten. Di balik kelezatannya, Gatot Surono adalah sosok yang membuat varietas berharga ini tetap bertahan di tengah kebijakan 'Revolusi Hijau' Orba.

Inibaru.id - Kamu tentu setuju kalau Beras Rojolele memiliki cita rasa yang lebih nikmat ketimbang kebanyakan beras yang ada di pasaran. Bertahannya varietas berharga ini nggak lepas dari jasa Gatot Surono, seorang petani asal Purbalingga yang saat itu menentang kebijakan pertanian masa Orde Baru.

Pada 1968, pemerintahan yang dipimpin Presiden ke-2 RI Soeharto mengeluarkan kebijakan pertanian berupa modernisasi pertanian yang dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau. Dalam program ini, dikenalkan varietas bibit padi unggul, mekanisasi pertanian, serta pembangunan sarana irigasi.

Kebijakan ini juga merekomendasikan pemakaian pupuk kimia dan pestisida. Sidik Permana dalam Antropologi Perdesaan dan Pembangunan Berkelanjutan yang dikutip dari Tirto mengungkapkan, program ini dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Namun, pemakaian pupuk-pupuk buatan pabrik pemerintah rupanya memicu kerusakan pada lahan pertanian. Atas dasar itulah, Gatot Surono menolak untuk mengikuti peraturan pemerintah dan bersikeras menanam padi lokal serta menggunakan pupuk kandang.

Diculik Aparat

Soeharto mengeluarkan kebijakan revolusi hijau. (Cendana news)
Soeharto mengeluarkan kebijakan revolusi hijau. (Cendana news)

Akibat sikapnya, Gatot diciduk oleh Komando Rayon Militer (Koramil) karena dianggap melawan aturan.

"Tanaman saya di sawah dicabuti. Untung itu bekas padinya tidak diinjak-injak,” ujar Gatot.

Gatot yang merupakan bekas mahasiswa ikatan dinas pada zaman Sukarno yang disekolahkan di Tiongkok membuatnya mudah dicap kiri oleh rezim Orba. Dia ditahan selama empat tahun melalui operasi kampanye bersih lingkungan, dari 1965 hingga 1969.

Selepas keluar dari penjara, Gatot kemudian bekerja di pabrik penyulingan hingga 1984. Meski sempat bermasalah di tempat kerjanya, dia keluar dengan terhormat dan diberi pesangon karena dianggap berjasa. Pesangon tersebut kemudian dia jadikan sebagai modal untuk bertani.

Gatot yang tetap menolak untuk ikut peraturan pemerintah tersebut kembali ditahan selama empat bulan. Selepas dibebaskan, dirinya kemudian menanam padi warisan nenek moyangnya yang pernah dicabuti oleh aparat.

Hidangkan Rojolele untuk Tentara

Ilustrasi: Tanaman Gatot pernah dirusak. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi: Tanaman Gatot pernah dirusak. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Usaha bertani Gatot membuahkan hasil. Saat musim panen tiba, dia pun menggelar syukuran dengan mengundang koramil yang pernah menahannya. Lelaki yang meninggal pada 2019 lalu ini kemudian menghidangkan nasi dari beras Rojolele yang ditanamnya sendiri.

”Makannya nasi masih kemebul, Rojolele. Lauknya sambal terasi sama bandeng,” terang Gatot.

Anggota koramil yang menyantap hidangan dengan lahap tersebut berkomentar bahwa nasi yang mereka santap enak. Gatot kemudian menerangkan bahwa nasi tersebut berasal dari yang pernah mereka cabuti dulu.

Berdalih hanya menjalankan tugas, anggota koramil pun meminta maaf. Sebagai gantinya, Gatot meminta mereka agar nggak mengganggu dirinya membudidayakan dan mewariskan beras lokal asal Klaten tersebut.

Wah, agaknya kenikmatan Rojolele nggak cuma terletak pada pengolahannya yang alami, tapi juga sejarah panjang yang kini berbuah manis! Siapa yang di rumah mengonsumsi beras ini? (Tir/IB27/E03)