Berada di Tengah Korban Banjir Trimulyo, Genuk, Kota Semarang

Berada di Tengah Korban Banjir Trimulyo, Genuk, Kota Semarang
Menggunakan perahu darurat dari gabus. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, menjadi salah satu wilayah di Kota Semarang yang saat ini masih tergenang ketika wilayah lain sudah surut. Banjir besar ini menurut penuturan mereka merupakan kali pertama setelah bertahun-tahun tinggal di sana.

Inibaru.id - Beberapa bulan yang lalu saya ke Trimulyo, Genuk, dengan penuh kekaguman. Kampung pesisir ini seakan dihinggapi mukjizat karena bisa bercocok tanam meskipun daerahnya gersang dan tanahnya nggak subur. Tapi tentu mukjizat itu nggak hanya datang begitu saja, mereka menemukan metode tanam yang cocok di udara pesisir.

Namun kunjungan saya untuk kali kedua ini terasa berbeda. Genangan banjir  di mana-mana dan warga Trimulyo tampak prihatin seraya menanti bantuan di teras-teras rumah yang punya ketinggian.

Saya mampir ke Trimulyo RW 2 pada Selasa (9/2/2021), beberapa jam sebelum saya tiba, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo lebih dulu menyisir tempat ini. Di ujung gang, banyak sukarelawan yang sibuk mendata distribusi konsumsi dan bantuan ke para warga.

Genangan yang cukup tinggi. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Genangan yang cukup tinggi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya sebetulnya bermaksud ikut perahu mereka untuk keliling kampung, tapi tampaknya nggak bisa. Sebab perahu tersebut diisi dengan berbagai kebutuhan logistik. Akhirnya saya pun harus rela menerobos genangan banjir yang tingginya sampai sepaha dengan jalan kaki.

Perahu sukarelawan di depan saya berhenti di sebuah masjid yang dijadikan pengungsian. Saat sukarelawan datang, beberapa warga langsung menyambut. Beberapa warga sibuk menerima bantuan, sementara lainnya diambil fotonya sebagai tanda terima.

“Ya beginilah, tidur bersama di masjid,” ujar Andi, salah seorang warga yang basah kuyup karena habis menembus genangan yang cukup dalam untuk mengambil bantuan.

Tim sukarelawan pergi, masuk ke gang paling dalam. Namun tentu saya nggak bisa ikut, semakin ke dalam, debit air semakin tinggi. Saya pun akhirnya tinggal dan mencari rute lain.

Jambari menarik perahu. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Jambari menarik perahu. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di tengah jalan saya bertemu dua orang warga yang naik perahu, yakni Hadi Kusnan dan Jambari. Mereka adalah warga RT 3. Perahu itu tampaknya nggak cukup buat bertiga, namun mereka menawari saya naik.

“Kami habis mengantar relawan. Mari ikut keliling,” ujar Jambari.

Akhirnya saya pun naik ke perahu. Begitu naik saya sempat panik karena perahu seperti mau oleng. Saya bukannya takut akan jatuh, tapi saya lebih takut kalau kamera saya tercebur. Kalau kena air dan rusak, saya bisa nggak makan dua bulan.

Namun Hadi dan Jambari baik sekali. Mereka rela turun untuk memegangi perahu agar stabil. Saya nggak tahu apakah orang Semarang memang dicetak untuk meningkatkan pelayanan pariwisata seperti yang seolah-olah dilakukan oleh Hadi dan Jambari itu. Tapi saat ini tampaknya bukan saat yang tepat untuk tamasya kampung tematik.

“Sini Mas, mampir di posko kami dulu. Ngopi-ngopi,” kata Jambari dengan penuh keramahan seolah-olah saya ini wisatawan beneran.

Ruang ganti darurat. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Ruang ganti darurat. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sampai di sana, saya disambut begitu hangat. Posko kecil tersebut adalah rumah Marpuah. Teras sampai ruang tamunya memang tinggi. Namun ruang tengah ke dalam terendam banjir juga. Di sisi yang tinggi itu tetangga sekitar mengungsi.

Setiap Turun Hujan Takut Air Naik

Hadi menyodorkan beberapa makanan hasil bantuan seraya berbincang mengenai keadaannya dan tetangga. Hati saya makin bergetar melihat semua ini. Meskipun susah, nggak ada egoisme di antara mereka.

“Kalau hujan lagi kami takut. Semalam saja airnya hampir masuk. Padahal kami tidur hanya berjarak beberapa meter dari genangan. Saya nggak bisa membayangkan kalau air makin meninggi,” kata Hadi.

Mengungsi di rumah Marpuah. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Mengungsi di rumah Marpuah. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mereka sudah mengalami banjir ini sejak Sabtu. Ya, hari yang cukup nahas buat warga Semarang. Sejak saat itu sampai hari ini (hingga artikel ini diterbitkan), banjir belum juga surut di wilayah Genuk. Bahkan jalan pantura juga masih tergenang dengan cukup tinggi.

Selama mengungsi, Hadi dan tetangga hidup ala kadarnya. Listrik mati, nggak ada air bersih untuk mandi dan buang air besar.

“Kalau mau buang air kami harus pergi ke arah tambak. Pokoknya cari daerah yang jauh dari permukiman,” jelasnya.

Untungnya bantuan nggak berhenti disalurkan. Tim relawan juga cepat tanggap apabila terjadi sesuatu terhadap penyintas banjir di Trimulyo ini.

Satu rumah pengungsi yang saya sambangi ini juga penuh semangat. Banjir tampaknya bukan suatu musibah yang membuat mereka muram. Hal itu terlihat dari canda dan tawa yang nggak pernah berhenti.

Semoga banjir di Kota Semarang cepat surut ya, Millens. (Audrian F/E05)