Belasan Pakar Sejarah Bantah Pernyataan Kontroversial Ridwan Saidi Soal Raden Patah Yahudi

Pernyataan kontroversial Ridwan Saidi yang menyatakan raden Patah adalah seorang Yahudi mengundang keprihatinan belasan pakar sejarah di Jateng dan sekitarnya. Mereka lantas menggelar FGD yang bermaksud menyegarkan ingatan terhadap sejarah Raden Patah yang hasilnya membantah pernyataan kontroversial tersebut, Sabtu (7/9) pagi.

Belasan Pakar Sejarah Bantah Pernyataan Kontroversial Ridwan Saidi Soal Raden Patah Yahudi
Belasan ahli berkumpul dalam forum diskusi yang bertujuan untuk menyegarkan ingatan mengenai sejarah Raden Patah, Sabtu (7/9) lalu. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Inibaru.id - Belasan Profesor menggelar Forum Group Discussion guna menyegarkan ingatan mengenai menanggapi sejarah Raden Patah. Acara ini sekaligus membantah pernyataan budayawan kawakan, Ridwan Saidi yang melontarkan pernyataan kontroversial beberapa waktu lalu. Dalam video yang beredar luas di jagad maya, budayawan satu ini mengatakan Raden Patah adalah seorang Yahudi serta kerajaan Demak merupakan kerajaan fiktif.

Sertidaknya 19 pemantik serta panelis diskusi berkumpul di aula hotel Amantis Demak, Sabtu (7/9) pagi. Peserta diskusi ini merupakan sejarawan, arkeolog, dan filolog yang tersebar di Jawa Tengah hingga DIY. Diskusi ini difasilitasi Yayasan Dharma Bhakti Lestari dan bekerjasama dengan Media Group yang beberapa waktu lalu juga menggelar diskusi kesejarahan Ratu Kalinyamat Jepara.

Dalam diskusi berjuluk “Menyegarkan Sejarah Radem Patah” ini, pemantik dan panelis menyampaikan fakta-fakta sejarah yang membuktikan eksistensi kerajaan Demak serta keislaman Raden Patah. Salah satunya adalah Prof. Djoko Suryo yang menyampaikan silsilah Raden Patah serta status kerajaan Demak.

“Kesultanan Demak sendiri merupakan kerajaan islam pertama di Pulau Jawa. Raden Patah yang melakukan babad alas glagah wangi dan mendirikan pesantren dan masjid yang dibantu oleh wali-wali. Selanjutnya beliau dinobatkan sebagai sultan oleh para wali,” kata Djoko membuka diskusi.

Hal senada mengenai eksistensi kerajaan Demak turut disampaikan Prof. DR. Inajati yang mengungkapkan arsitektur masjid Demak serta beberapa hal yang menjadi pendukung bahwa komplek masjid Demak yang sekarang merupakan suatu komplek kerajaan.

Belasan peserta merupaka  pakar sejarah, fololog, argeolog dan akademisi yang masing-masing memaparkan fakta tentang Raden Patah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Menurut Ina, pusat pemerintahan selalu ditandai dengan adanya alun-alun, masjid, dan keraton. Selanjutnya ada pasar dan dikelilingi oleh rumah warga. “Bentuk arsitetur masjid saja sangat nusantara, kok bisa menukik ke salah satu titik Yahudi,” kata dosen Universitas Gajah Mada Ini.

Meski reruntuhan kerajaan Demak sendiri belum ditemukan hingga kini, namun beberapa bukti lain merujuk eksistensi kerajaan Islam pertama di Jawa ini di masa lalu.

Berita yang sudah tersebar luas di masyarakat ini disayangkan oleh Tim Pakar Yayasan Dharma Bhakti Lestari Dr. Alamsyah. ”Kami menyayangkan jika ada tokoh yang menyatakan Raden Patah dan Sultan Trenggono adalah orang-orang Yahudi. Jika memang menyampaikan seperti itu agar tidak memunculkan tafsir di masyarakat, perlu menghadirkan fakta dan data,” kata dia.

Mengenai pernyataan Ridwan Saidi yang mengatakan Raden Patah merupakan keturunan China, hal ini nggak dibantah Dr. Alamsyah. Seperti yang selama ini diketahui, ibu dari Raden Patah adalah seorang China atau Champa yang sudah berasimilasi dengan budaya Nusantara.

Nah buatmu yang mendengar berita miring tentang sejarah apa pun, pastikan untuk memeriksa keabsahan datanya terlebih dahulu ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)