Belajar Menghargai Waria dengan Cara Sederhana

Belajar Menghargai Waria dengan Cara Sederhana
Waria juga pengin hidup bermasyarakat secara damai. (Inibaru.id/ Audrian F)

Keberadaan waria merupakan fakta. Meski stigma "menyimpang" dari kodrat masih melekat, bukan berarti orang lain boleh memperlakukan mereka seenaknya. Mereka berhak dihargai.

Inibaru.id - Menjadi berbeda memang berpotensi menyita perhatian. Nggak jarang celaan dan hujatan juga dialamatkan kepada mereka yang memilih keluar jalur normatif. Mereka adalah wanita pria atau yang lebih dikenal sebagai waria.

Nggak sedikit dari mereka yang mendapat diskrimanasi. Nggak fair memang, diskriminasi terjadi di negara yang menjamin kesetaraan hak setiap penduduknya. Beberapa kisah sedih dilontarkan mereka, para waria yang pernah mendapat perlakuan seenaknya.

Untuk mencegah para waria dari diskriminasi dan menjamin mereka mendapat hak-haknya sebagai warga negara, dibentuklah Persatuan Waria Semarang (Perwaris) pada 2006. Bertempat di Jalan Randusari Spaen 1/173, Perwaris selalu mengadakan pertemuan rutin tiap dua minggu sekali.

Ketua Perwaris Silvy Mutiari membeberkan kalau di Kota Semarang masih tergolong kondusif dibanding kota lain. Kegiatan yang mereka lakukan lebih mudah mendapatkan lampu hijau. Sementara di kota lain mereka masih dihantui rasa was-was.

Silvy berharap masyarakat terketuk hatinya untuk memperlakukan mereka dengan baik. “Kalau kalian nggak bisa menerima status gendernya, sayangilah kami sebagaimana manusia,” pinta Silvy, Senin (8/12).

Lebih lanjut dia juga berharap agar masyarakat mau menerima anggota keluarganya yang memutuskan menjadi waria. Menurutnya, menghakimi jalan hidup orang lain nggak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.

“Terutama seperti apa yang biasa terjadi ya. Hentikan segala bentuk perlakuan nggak menyenangkan, seperti persekusi, diskriminisasi dan bullying. Kami hanya ingin diperlakukan secara inklusif bukan eksklusif,” tukas Silvy.

Perlakuan baik juga bisa kamu terapkan saat menyapa mereka. Para waria ini sangat anti dipanggil "Mas". Eits, jangan anggap ini sepele ya. Masalah nama dan sapaan memang sensitif.

“Kalau soal sapaan, lebih baik bertanya dulu. Jangan panggil 'Mas'. Karena kan udah capek-capek dandan kok dipangil 'Mas'. Panggil dengan sebutan 'Mbak', atau kalau yang netral, panggil saja dengan sebutan 'Kak'," jelas Silvy.

Nah, jadi begitu ya, Millens. Jangan seenaknya memperlakukan mereka. Yuk, jadi masyarakat inklusi, Millens. (Audrian F/E05)