Begini Cara Lingkar Istana Menangkal Hoaks

Agar tidak mudah terpengaruh berita hoaks, pastikan untuk melakukan cek dan cek silang terlebih dahulu terhadap berita..

Begini Cara Lingkar Istana Menangkal Hoaks
Hoaks yang semakin marak (Viva)

Inibaru.id – Banyaknya berita palsu atau hoaks menjadi perhatian serius Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Agar tidak semakin menimbulkan keresahan, KSP mengajak masyarakat untuk aktif menangkal hoaks.

Dilansir dari JPNN.com (1/12/2017), Staf Kedeputian Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP Agustinus Eko Rahardjo menyebut ada beberapa cara mendeteksi hoaks. Cara pertama adalah mencari referensi berita yang serupa namun dari situs-situs resmi. Cara kedua adalah dengan memanfaatkan grup diskusi antihoaks di berbagai media sosial yang memang membahas berita bohong. Cara ketiga adalah dengan memakai fitur layanan pencegah berita hoaks yang sudah disediakan oleh penyedia media sosial. Kita juga harus memakai media lain untuk mengecek konten berita yang terkesan hoaks dan melawannya dengan data.

Baca juga:
Pengikut Medsos Antimuslim Palsu Terus Meningkat
Kenapa Kita Memanen Hoax?

Dalam acara Diskusi Kamisan bertema "Perang Teknologi Generasi Milenial" yang digelar DPP Taruna Merah Putih (TMP) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 30 November 2011, Eko bersama dengan praktikan media sosial Hariadhi, pembuat e-Tani Davyn Sudirjo, dan dosen komunikasi Universitas Indonesia I Edhy Aruman berdiskusi bersama dengan ratusan kalangan muda yang berasal dari mahasiswa dan aktifis Kosgoro serta Banteng Muda Indonesia.

Eko berkata bahwa 132,7 juta atau sekitar 51 persen dari total populasi penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Sementara itu, 106 juta orang Indonesia atau 40 persen dari populasi adalah pengguna media sosial yang aktif. Sayangnya, rata-rata kita hanya membaca 27 halaman buku per tahun dan membaca koran rata-rata 12-15 menit saja setiap hari. Rendahnya minat baca ini diduga ikut menjadi faktor penyebab mudahnya hoaks menyebar di masyarakat.

Baca juga:
Ketika Ngurah Rai Ditutup, Bali Kehilangan Devisa Rp 250 Miliar/Hari
Siklon Dahlia hingga 3 Desember

Ada cukup banyak penyebab hoaks marak beredar di media sosial. Salah satunya adalah adanya gerakan massa berideologi radikal yang anti-Pancasila, keresahan dengan cara pemerintahan terkini yang melakukan banyak perubahan, dan adaptasi yang kurang maksimal oleh pemerintah dan masyarakat akan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Tak hanya itu, kompetisi politik yang terus berlanjut sejak Pilpres 2014 juga ikut berperan akan semakin memarakkan hoaks. (AW/SA)