Banjir Pelanggan, Ramadan Jadi Musim Rezeki Buat Pengrajin Kolang-Kaling

Banjir Pelanggan, Ramadan Jadi Musim Rezeki Buat Pengrajin Kolang-Kaling
Di bulan Ramadan, para pembuat kolang-kaling kebanjiran pesanan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Bulan Ramadan memang identik dengan kolang-kaling. Banyak orang yang memburunya untuk dijadikan menu buka puasa. Maka, nggak heran jika pengrajin kolang-kaling kebanjiran order. Hal ini tentu menjadi rezeki tersendiri di tengah paceklik akibat pandemi corona.

Inibaru.id - Bulan Ramadan memang nggak bisa lepas dengan yang namanya kolang-kaling. Oleh karena itu, di bulan ini, pedagang kolang-kaling dan rumah produksinya seperti mendapatkan berkah. Hal itu banyak disampaikan oleh para pembuat kolang-kaling di Desa Jatirejo, Gunung Pati, Kota Semarang.

Rupiase adalah salah seorang yang mengakuinya. Selama Ramadan, rumah produksi kolang-kalingnya bisa memproduksi kurang lebih 20 ton. Hal ini disebabkan oleh tingginya peminat. Kolang-kaling hasil produksi Rupiase diambil oleh para pedagang di pasa-pasar Kota Semarang.

“Untuk harga per kilonya Rp 13 ribu,” jelasnya pada Selasa (5/5/2020).

Kolang-kaling identik dengan makanan untuk berbuka puasa. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Kolang-kaling identik dengan makanan untuk berbuka puasa. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sementara untuk penjualannya, Rupiase mengungkapkan kalau bisa menjual antara 7 sampai 10 kuintal. Angka tersebut tergolong sudah sangat baik mengingat jika di hari-hari biasa nggak mencapai 5 kuintal.

Nggak hanya Rupiase saja yang merasakan keberkahan kolang-kaling, salah seorang pembuat lainnya, Sarni juga mendapatkan hal serupa. Setiap kali bulan Ramadan tiba, pelataran rumahnya akan ramai warga yang bergotong royong memproduksi kolang-kaling.

Di tengah pandemi yang membuat banyak orang mengalami paceklik, larisnya penjualan kolang-kaling di bulan Ramadan juga menjadi juru selamat. Hasil penjualan kolang-kaling ini bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Anak saya dirumahkan. Rezeki sedang seret," cerita Rupiase.

Selain para pedagang pasar, pembeli juga berasal dari warga sekitar atau orang lain yang sudah berlangganan bertahun-tahun. Menurut para pembeli, kolang-kaling di Desa Jatirejo ini memiliki kualitas baik karena proses pengolahannya yang masih manual.

Pembeli kolang-kaling nggak cuma dari pedagang pasar, tapi juga masyarakat umum yang langsung membeli di rumah produksi. (Inibaru.id/ Audrian F)
Pembeli kolang-kaling nggak cuma dari pedagang pasar, tapi juga masyarakat umum yang langsung membeli di rumah produksi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sarni menyebut proses pengolahan manual membuat pemilahan kolang-kaling berkualitas baik dan buruk bisa terjaga dengan baik. Selain itu, banyak pembeli yang lebih suka membeli langsung di rumah produksi karena bisa mendapatkan harga khusus.

“Kalau di pasar kan memang sudah harga pedagang. Kalau di sini beda,” paparnya.

Rupiase dan Sarni bukanlah pembuat kolang-kaling yang mengolahnya langsung dari bentuk buah aren. Mereka sudah membeli berton-ton kolang-kaling setengah jadi dari beberapa daerah seperti Pekalogan, Wonosobo, Temanggung, Banjarnegara, dan Parakan.

Kolang-kaling tersebut memang lebih mahal dibandingkan dengan harga buah aren, Namun, hal ini membuat proses produksi menjadi lebih ringkas dan cepat sehingga mampu memenuhi pesanan yang nggak bisa menunggu.

Apakah kamu juga suka makan kolang-kaling di bulan Ramadan, Millens? Seperti apa olahan kolang-kaling favoritmu?   (Audrian F/E07)