Banjir Bandang di Gowa Renggut 6 Nyawa dan Akibatkan 4 Jembatan Putus

Banjir Bandang di Gowa Renggut 6 Nyawa dan Akibatkan 4 Jembatan Putus
Warga berusaha menyelamatkan sebuah rumah yang akan terbawa arus Sungai Jeneberang yang meluap di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa, 22 Januari 2019. (Antara/ Abriawan Abhe)

Hujan tanpa henti menyebabkan Sulawesi Selatan dikepung banjir. Salah satu bencana terparah dialami Kabupaten Gowa, Selasa (22/1), yang memakan enam korban jiwa.

Inibaru.id – Kabar duka kembali menimpa Sulawesi Selatan. Sekurangnya sembilan kecamatan di Kabupaten Gowa, Sulsel, didera banjir bandang dan tanah longsor, Selasa (22/1/2019). Enam orang dilaporkan tewas tertimbun longsor, empat korban luka, dan 10 orang dinyatakan belum ditemukan keluarganya.

Ihwal bencana bermula dari tingginya intensitas hujan dalam sehari penuh yang mengakibatkan debit air bendungan Bili-Bili, Kabupaten Gowa, meningkat hingga lebih dari 100 meter. Mencegah bendungan jebol, pintu air pun dibuka.

Nahas, dibukanya pintu air bendungan terbesar di Sulsel itu justru menyebabkan volume air sungai Jeneberang meningkat dan meluap hingga permukiman warga pada Selasa.

“Ini (banjir bandang) konsekuensi dari dibukanya pintu air di bendungan. Kalau dibiarkan meluap justru bisa jebol,” ungkap Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, dikutip dari Antara, Rabu (23/1).

Dalam kesempatan itu, Adnan juga menyampaikan, sejumlah titik di dataran tinggi juga terjadi tanah longsor.

“Ada empat jembatan (yang terputus), salah satunya di Bongaya. Ada jalan lain yang bisa ditempuh, meski agak jauh. Kami harus memutar,” tambahnya.

Hingga kini, Adnan mengonfirmasi total pengungsi yang terdata pemkab mencapai 2.121 orang yang tersebar di 13 titik. Saat ini, lanjutnya, semua pengungsi korban banjir sudah ditangani tim penanggulangan bersama yang terdiri atas berbagai organisasi perangkat daerah (OPD).

Sementara, Kepala Basarnas Makassar Mustari mengatakan bahwa dua dari enam korban meninggal ditemukan di Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Lokasi itu memang yang paling parah terdampak banjir bandang.

Sementara, Antara mengonfirmasi bahwa ke-6 korban meninggal yakni bocah bernama Akram Al Yusran warga Pangkabinanga, Rizal Lisantrio warga BTN Batara Mawang, Sarifuddin Dg Baji, seorang bayi yang belum teridentifikasi, dan dua korban longsor yang juga belum teridentifikasi.

Informasi terakhir yang diperoleh Jawapos, Rabu (23/1), banjir bandang di Gowa sudah mulai surut. Kendati demikian para warga yang rumahnya terendam masih tinggal di tenda pengungsian.

Selain Kabupaten Gowa, banjir juga menimpa sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, di antaranya Kabupaten Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkep, Barru, dan Kota Makassar. (IB24/E03)