Bahasa Sehat, Bahasa Terancam, dan Bahasa Sekarat

Nasib suatu bahasa daerah itu macam-macam. Yang terus dipakai bakal jadi bahasa yang selamat.

Bahasa Sehat, Bahasa Terancam, dan Bahasa Sekarat
(ciwir.blogspot.com)

Inibaru.id - Indonesia itu kaya suku bangsa, kesenian, dan bahasa daerah. Berdasarkan data dari ethnologue.com, situs tentang bahasa-bahasa di seluruh dunia, Indonesia adalah negara kedua yang memiliki keragaman bahasa tertinggi. Posisi Indonesia persis di bawah Papua Nugini yang menempati urutan pertama dengan 852 bahasa.

Dikutip dari Liputan6 (28/10/2017), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (selanjutnya disebut Badan Bahasa) sebagai lembaga pemerintah yang mengurusi masalah bahasa, sudah melakukan kajian mengenai bahasa-bahasa daerah di nusantara. Dalam beberapa periode (2008, 2013, 2016), Badan Bahasa telah mengindentifikasi bahwa Indonesia memiliki 646 bahasa daerah. Dari jumlah tersebut, baru 67 yang dicek vitalitas (daya hidup) bahasanya. Namun, mereka memperkirakan Indonesia setidak-tidaknya memiliki sekitar 700 bahasa daerah.

Baca juga:
Ini Kata Prof Mia soal Memperlambat Kepunahan Bahasa
8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

“Bahasa daerah di Indonesia kalau mau kita potret, itu ada tiga golongan besar. Ada bahasa-bahasa daerah yang sehat dan kuat, ada bahasa daerah yang kondisinya terancam, dan ada juga bahasa-bahasa yang sekarat tinggal punah,” ujar Prof Dr Multamia Retno Mayekti Tawangsih Lauder, SS, Mse, DEA,  seperti dilansir Liputan6.com (28/10/2017).

Guru Besar Universitas Indonesia ini melanjutkan, "Kalau bahasa disamakan dengan manusia, bahasa yang sehat ini adalah bahasa yang digunakan sehari-hari sebagai bahasa komunikasi. Nah, bahasa yang terancam adalah bahasa yang pada prinsipnya masih dipakai di antara mereka. Akan tetapi, penuturnya mulai berkurang -terutama generasi mudanya - mereka mulai beralih ke bahasa yang lain atau dialek yang lain.”

Baca juga:
Fakta Unik Sumpah Pemuda Ini Jarang Diketahui Orang
11 Bahasa Kita Telah Punah, Lainnya?

Generasi muda merasa menguasai bahasa daerah tidak cukup menyejahterakan hidupnya. Itu karena kalau mau bekerja yang dipakai bahasa Indonesia, bukan bahasa daerahnya. Pakar dialektologi dan pemetaan bahasa ini melanjutkan, mereka pada akhirnya memilih menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu setempat untuk berkomunikasi sehari-hari.

“Nah, kalau bahasa yang sekarat itu adalah bahasa-bahasa yang menggunakannya sudah kelompok kakek-nenek. Jadi yang bisa (berbahasa daerah itu) hanya sesama mereka, sedangkan yang muda sudah sama sekali tak bisa. Jadi, suatu saat jika golongan 70-80 tahun ini 'berangkat' ke alam keabadian, bahasa ini ikut punah bersama mereka,” kata dia. (EBC/SA)