Asal-usul Sokka, Jenama Genteng dari Kebumen yang Melegenda

Asal-usul Sokka, Jenama Genteng dari Kebumen yang Melegenda
Genteng Sokka Kebumen yang melegenda dan banyak dipakai di Indonesia. (apiliana.blogspot)

Kamu pasti sering melihat jenama genteng Sokka di rumah-rumah orang Indonesia. Genteng Sokka Kebumen ini memang sudah melegenda. Sejarah dan asal-usulnya juga menarik untuk disimak.

Inibaru.id – Nggak semua rumah memiliki langit-langit atau plafon. Kalau seperti ini, kamu pasti langsung bisa melihat genteng rumah, bukan? Nah, kalau kamu cermat, pasti sering melihat genteng dengan jenama Sokka. Yap, genteng sokka Kebumen memang banyak dipakai rumah-rumah di Indonesia.

Sebenarnya, Sokka bukanlah berasal dari satu jenama saja. Ada banyak sekali perajin genteng yang berasal dari Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Setiap perajin punya jenamanya sendiri-sendiri. Namun, mereka pasti menyematkan jenama ‘Sokka’ besar-besar sebagai penanda bahwa genteng ini berasal dari wilayah yang memang sudah dikenal sebagai produsen genteng ini.

Salah seorang perajin genteng Sokka, Nur Ali, sebenarnya memiliki jemana untuk produk gentengnya, yakni HMS. Namun, sebagaimana para pengrajin genteng lain yang merupakan tetangganya, dia juga memberikan label Sokka sebelum jenama HMS nya. Nah, dia pun membeberkan dari mana asal nama Sokka ini.

“Sebenarnya, Sokka itu nama stasiun di sini,” ujar Nur Ali,” ungkap Nur Ali, Rabu (7/7/2021).

Sejarah Genteng Sokka

Kalau membahas soal sejarah genteng Sokka, maka kita akan ditarik jauh pada zaman penjajahan Belanda. Jadi, pada 1920-an, Banyak warga Desa Kedawung yang sakit akibat banyaknya kotoran tikus yang ada di atap rumah berdaun rumbia. Padahal, orang-orang ini dibutuhkan untuk mengurus perkebunan dan pertanian.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menilik sentra genteng Sokka di Kebumen. (jatengprov.go.id)
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menilik sentra genteng Sokka di Kebumen. (jatengprov.go.id)

Belanda tahu kalau di Desa Kedawung, tanah liatnya berkualitas tinggi. Ditambah dengan kebiasaan warga desa yang suka membuat gerabah, pemerintah Hindia Belanda pun memutuskan untuk mendirikan pabrik genteng di sana.

Tercatat, orang pribumi pertama yang kemudian mendirikan pabrik genteng sendiri adalah H. Ahmad. Nah, jenama paling terkemuka pada saat itu adalah AB Sokka. Lokasi pabrik genteng ini sangat dekat dengan Stasiun Kereta Sokka.

Awalnya, genteng ini dipakai oleh pabrik gula yang saat itu ada banyak di Pulau Jawa. Lambat laun, banyak warga yang juga memakainya sebagai atap rumah. Menariknya, pada 1955, pabrik genteng AB Sokka justru menyuplai batu bata saat Masjid Istiqlal dibangun.

Saat pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto menjabat, popularitas genteng ini terus meningkat. Bahkan, di hampir setiap proyek pembangunan gedung pemerintahan, genteng Sokka dari Kebumen pasti jadi pilihan.

Popularitasnya Menurun

Sayangnya, genteng Sokka Kebumen semakin menurun popularitasnya. Penyebabnya banyak. Salah satunya adalah lahan di mana dulu para pengrajin bisa mendapatkan tanah liat berkualitas semakin berkurang karena dijadikan perumahan.

Selain itu, kayu bakar yang dipakai untuk membakar genteng juga semakin mahal. Kebanyakan pekerja di pabrik genteng juga berusia tua. Sudah jarang pekerja dengan usia muda.

Duh, semoga saja genteng Sokka Kebumen bisa bertahan dan tetap dipakai sebagai atap di rumah-rumah Indonesia, ya Millens? (Sor, Tri/IB09/E05)