Resmi Diizinkan Mengemudi, Begini Reaksi Perempuan Arab Saudi

Resmi Diizinkan Mengemudi, Begini Reaksi Perempuan Arab Saudi
Perempuan Arab mulai mendaftarkan diri untuk memperoleh SIM (ABC57.com)

Minggu (24/6/2018) bisa jadi hari yang nggak terlupakan bagi perempuan Arab Saudi. Ini karena mereka sudah diizinkan mengemudi kendaraan. Begini respons mereka.

Inibaru.id - Minggu (24/6/2018) boleh jadi hari yang membahagiakan bagi perempuan Arab Saudi. Ini karena mereka sudah mulai diizinkan mengemudi. Sejumlah perempuan menyambut keputusan ini dengan turun ke jalanan Riyad hingga Jeddah.

Sebagian perempuan juga ada yang langsung menggunakan momen ini untuk beraktivitas menuju lokasi kerja, berbelanja, hingga mengantar anak-anak ke sekolah. Presenter dan penulis Samar Almogren mengatakan dirinya merasa seperti burung yang terbang bebas saat duduk di bangku kemudi.

"Saya selalu tahu hari ini akan datang, tapi (kesempatan) ini datang begitu cepat. Dengan tiba-tiba. Saya merasa seperti seekor burung,” ujarnya, dikutip dari Theguardian.com, Minggu (24/6).

Lain Samar Almogren, lain Alanoud Hakim. Perempuan berusia 22 tahun ini justru nggak antusias dengan perubahan kebijakan mengemudi karena menurutnya pengemudi di jalanan Arab meremehkan keselamatan.

“Suami dan ayah saya sudah memperingatkan kemungkinan terjadinya pelecehan. Saya nggak pengin mengemudi karena pemuda Saudi tidak sopan. Situasinya tidak seperti di luar negeri,” cerita Alanoud.

Kendati demikian, dengan dicabutnya pelarangan mengemudi, kesempatan untuk berkarier sebagai sopir hingga pebalap kian terbuka bagi perempuan Arab Saudi. Kebijakan ini dinilai nggak hanya berimbas pada kebebasan dan kemandirian perempuan, tapi juga penghematan keuangan rumah tangga karena setiap keluarga kini nggak harus membayar gaji sopir.

Pekan ini, Otoritas Arab Saudi telah menerbitkan Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi sepuluh perempuan. Para perempuan tersebut menukar SIM internasional mereka untuk memperoleh SIM dari Arab Saudi.

 Menempuh Jalan yang Nggak Mulus

Sebagai negara yang konservatif, Arab Saudi sebelumnya membuat aturan yang melarang perempuan untuk mengemudi sejak 60 tahun yang lalu. Jika kedapatan mengemudi, perempuan akan ditahan di penjara.

Jalan panjang dan terjal harus ditempuh aktivis hak-hak perempuan melalui debat dan diskusi yang terus meningkat sejak 2007 silam untuk memperjuangkan kebebasan mengemudi untuk perempuan. Pro dan kontra muncul dari masyarakat dan pihak kerajaan hingga perubahan kebijakan terjadi pada tahun ini.

Pangeran Alwaleed bin Talal menjadi salah seorang anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi yang cukup gencar mendukung pencabutan larangan mengemudi. Petinggi Kingdom Holding Co. ini mengungkapkan alasannya mendukung adalah karena dengan turunnya pendapatan Arab Saudi dari minyak, Kerajaan seharusnya mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan mulai memberdayakan perempuan sebagai roda penggerak ekonomi negara.

"Mencegah seorang perempuan untuk mengemudi sama seperti melarangnya menerima pendidikan atau memiliki identitas independen. Membiarkan perempuan mengemudi telah menjadi tuntutan sosial yang mendesak, didasarkan pada keadaan ekonomi saat ini," tutur Alwaleed, dilansir dari Tempo.co, Rabu, (30/6/2016).

Namun, nggak semua lelaki setuju pada pandangan Alwaleed, seperti tokoh agama Sheikh Saad al-Hajari. Sebagai pihak yang kontra, Saad menekankan perempuan adalah makhluk yang kurang cerdas sehingga mereka nggak seharusnya diperbolehkan mengemudi, seperti ditulis Independent.co.uk,  Jumat (22/9/2017).

“Mereka sama sekali bukan sopir yang baik. Mereka juga kurang cerdas,” kata Saad.

Ya, setiap kebijakan memang selalu menuai pro dan kontra ya, Millens. Namun, terlepas dari itu, selamat kepada para perempuan Arab Saudi. Semoga keselamatan selalu menyertai. (IB15/E04)