Apresiasi Tinggi untuk Film Tentang Unair

Sempat pesimistis lantaran waktu pembuatan yang mepet, “Teaching Generation” justru mampu berjaya di Taichung, Taiwan.

Apresiasi Tinggi untuk Film Tentang Unair
Wakil Rektor III Unair Moch Amin Alamsjah (kiri) saat menerima penghargaan di Taichung, Taiwan (Unair.ac.id)

Inibaru.id – Mengisahkan tentang perjalanan empat generasi keluarga yang kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, film Teaching Generation besutan Redo Nomadore mendapatkan apresiasi tertinggi di kancah internasional.

Dilansir dari Antaranews, Jumat (24/11/2017), film yang diperankan Suroso, Sri, Jono, dan Selly, ini meraih penghargaan trofi perak sebagai video institusi paling kreatif tingkat internasional di Taichung, Taiwan, Rabu (22/11).

Film yang seolah-olah ingin menunjukkan sejarah panjang kampus Unair ini memang unik. Suroso, Sri, Jono, dan Selly adalah empat sosok lintas generasi yang ngampus di universitas negeri tertua kedua di Indonesia ini.

Keempat tokoh itu mewakili empat zaman yang menunjukkan betapa tuanya Unair. Babak pertama adalah zaman penjajahan. Latar waktunya pada 1924. Pada tahun itulah cikal-bakal Unair, yakni Kedokteran NIAS berdiri.

Baca juga:
Film Naura & Genk Juara the Movie Melecehkan Agama?
Ini Alasan Mengapa Film Hollywood ini Menjadikan Candi Prambanan sebagai Lokasi Syuting

Sementara, latar kedua terjadi pada 1945, ketika Indonesia merdeka.Selanjutnya adalah tahun 1980-an ketika Unair mulai banyak membangun kampusnya. Dan terakhir adalah waktu terkini atau pada 2017.

Ketua PIH Unair Suko Widodo pada Jumat (24/11) mengatakan, dirinya tak menyangka film itu akan mendapat apresiasi tinggi hingga meraih penghargaan lantaran proses produksi film yang memakan waktu cukup pendek. Selain itu, lanjutnya, pesaingnya juga berasal dari berbagai negara.

"Pada awalnya tidak yakin menang. Ya, karena kami buat dengan tempo yang singkat. Kami juga harus riset untuk menggambarkan sejarah Unair dari masa ke masa," ujar Suko.

Dia pun bersyukur atas penghargaan yang diraih. Penghargaan itu, ungkapnya, merupakan pengakuan yang membanggakan dan akan memicu Unair untuk berkarya lebih baik.

Baca juga:
Tepuk Tangan untuk "Ziarah" di Tokyo
Film Indonesia di Ajang Piala Oscar sebelum “Turah”

Tak jauh berbeda dengan Suko, sutradara Teaching Generation, Redo Nomadore, juga tak menyangka karyanya akan mendapat sambutan positif apalagi penghargaan di tingkat internasional.

Dia mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang turut serta dalam menyelesaikan film.

"Terima kasih banyak untuk Unair yang sudah memberi arahan dan memberi keleluasaan pada saya dan tim Hinternov untuk mengeksplorasi ide. Juga pada seluruh Tim PIH Unair yang telah banyak mendukung pada setiap prosesnya," ujar alumnus Program Studi Hubungan Internasional Jurusan FISIP Unair tersebut. (OS/SA)