Menimbang Untung Rugi Berjualan Saat Ramadan

Momen Ramadan disebut-sebut sebagai waktu yang tepat untuk menambah penghasilan. Benarkah?

Menimbang Untung Rugi Berjualan Saat Ramadan
Penjual makanan di bulan Ramadan. (Bonvoyagejogja.com)

Inibaru.id – Usaha makanan merupakan salah satu usaha yang laris manis saat Ramadan. Bagaimana tidak, menjelang waktu berbuka, banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk berburu makanan buka puasa. Hal ini tentunya menambah penghasilan para penjual makanan.

Salah seorang penjual makanan yang dagangannya laris manis adalah Sarmin dan Mujiati. Pasangan suami istri itu mengaku penghasilannya bertambah saat Ramadan.

"Kalau hari biasa omzet saya sekitar Rp 3-4 juta. Pas Ramadan omzetnya lebih banyak bisa sampai Rp 5 juta," terang Sarmin.

Keuntungan itu banyak didapat saat mereka berjualan makanan waktu sahur. Ini karena saat sahur nggak semua warung makan buka sehingga banyak warga yang kemudian membeli makan di warungnya.

“Kalau hari biasa, mahasiswa banyak pilihan buat makan, tapi kalau sahur kan nggak semua rumah makan buka, jadi pasti pada kumpul ke sini,” tutur lelaki yang sudah membuka warung makan sejak 2016 itu.

Kendati demikian, dia harus mengubah jam buka warungnya. Bila pada hari biasa warung makannya buka dari pukul 09.00 hingga 21.00, saat Ramadan warung bernama Kardin Resto itu buka sejak sahur yakni pukul 02.00-05.00 dan 15.00-20.00.

Hal serupa juga dialami Subekti. Perempuan berusia 50 tahun itu mengaku lebih suka berjualan saat Ramadan. Menurut Bekti, sapaan akrab Subekti, warung nasi penyet miliknya jadi punya waktu berjualan relatif lebih singkat tapi dengan keuntungan yang sama.

Penjual penyetan di Tembalang, Semarang itu mengubah jadwal buka warungnya saat Bulan Puasa. Jika biasanya Bekti berjualan sejak pukul 8 pagi sampai 3 siang, saat Ramadan dia hanya berjualan sejak pukul 2 siang sampai 5 sore.

“Kalau Ramadan itu nggak terlalu capek tapi hasilnya sama. Jam 5 sore nasi dan penyetan saya sudah habis, jadi bisa langsung beres-beres buat pulang,” ucap perempuan yang sudah berjualan makanan sejak 2009 itu.

Selain melayani beli di tempat, Subekti juga menerima pemesanan lewat Whatsapp.

“Mahasiswa biasanya pesan dulu lewat WhatsApp biar mereka nggak ngantri pas jam berbuka, soalnya pasti ramai yang beli,” katanya.

Namun, ada juga penjual yang justru mengurangi dagangannya saat Ramadan. Salah seorangnya adalah Subagyo. Lelaki yang berjualan nasi bungkus, kue basah, dan aneka camilan itu mengaku mengurangi jumlah dagangannya saat Bulan Puasa.

“Kalau bulan puasa, nasi bungkus nggak saya jual. Saya cuma jual kue-kue sama gorengan saja yang banyak dicari saat buka puasa,” jelas Subagyo.

Subagyo biasanya mendapat makanan tersebut dari para supplier-suplier yang menitipkan barang dagangan di warungnya. Ada sekitar 30 sampai 40 suplier yang menyetor makanan kepada Subagyo setiap harinya. Namun saat Ramadan, hanya ada 20 orang supplier yang tetap memasok makanan.

Mengenai jadwal buka warung, Subagyo juga mengubah jadwalnya. Bila hari biasa, dia berjualan saat pagi hari. Namun, selama Ramadan, dia berjualan pada sore hari.

“Kalau hari biasa saat pagi hari kan yang beli itu biasanya anak-anak sekolah untuk sarapan atau para pekerja untuk bekal. Nah, selama Ramadan ini yang beli ya hanya untuk berbuka saja,” tandasnya.

Wah wah, ada yang tambah untung, tapi ada juga yang malah berkurang penghasilannya saat Ramadan ya, Millens. (Verawati Meidiana/E04)