Sering Cemas Berlebih? Mungkin Saja Kamu Terkena OCD Syndrome

Sering Cemas Berlebih? Mungkin Saja Kamu Terkena <em>OCD Syndrome</em>
Ilustrasi penderita OCD yang merasa cemas. (Shutterstock/Halfbottle)

Pernah nggak sih kamu selalu bertanya "Kamarku sudah dikunci belum, ya?" atau "Dompetku di tas, kan?" setiap hendak pergi? Kalau kecemasan itu terjadi berulang-ulang, bisa jadi kamu terkena sindrom satu ini, Millens.

Inibaru.id – Setiap orang pasti pernah merasa cemas atas hal apapun. Perasaan itu wajar terjadi, kok. Namun, hal ini berubah nggak wajar ketika kamu merasa cemas dan khawatir terus menerus sehingga harus melakukan kegiatan-kegiatan repetitif, Millens.

Kondisi demikian biasanya disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Gangguang psikologis ini bisa mengakibatkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Penyakit itu juga membuat penderita merasa takut terhadap sesuatu yang nggak masuk akal yang muncul secara terus menerus.

Penderita OCD, umumnya memiliki pola pikiran dan perilaku tertentu. Dilansir dari laman Alodokter (6/3/2017), terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kelegaan sementara.

Sebuah obsesi akan muncul ketika pikiran penderita dikuasi rasa takut atau kecemasan. Ini akan memancing dirinya untuk melakukan aksi kompulsi (kebutuhan yang tidak disadari dengan keinginan bawah sadar) agar rasa takut dan cemasnya berkurang. Kemudian, dari aksi tersebut, penderita akan merasa lega untuk sementara. Namun, kecemasan akan kembali muncul dan membuat penderita mengulangi pola tersebut.

Ada beberapa sifat kompulsif yang biasanya dilakukan penderita sindrom ini di antaranya membersihkan semua benda yang dianggap kotor atau terkontaminasi zat-zat kimia dalam waktu berjam-jam.

Ada pula yang selalu mengucapkan sebuah nama atau kalimat beberapa kali. Dia pengin memastikan kalau nggak bakal melupakannya. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kekhawatirannya.

Aktivitas kompulsif lain yakni mengecek sesuatu supaya menghilangkan kekhawatirannya. Seperti contoh, saat bepergian, seseorang selalu memikirkan apakah dia sudah mematikan kompor sebelum pergi atau menutup pintu. Nggak jarang mereka mengecek kembali secara langsung atau menanyakannya kepada orang yang ada di rumah.

Beberapa orang juga menurunkan ketidaknyamanan yang dialami dengan mengurutkan dan menyusun ulang benda-benda di sekitarnya yang dianggap nggak simetris. Salah satu contoh yakni menata rak buku sampai buku-buku itu rapi dan simetris. Kalau ada yang nggak rapi sedikit, dia langsung memperbaiki posisi buku itu.

Sejumlah orang juga ada yang mengatasi rasa takut itu dengan selalu berdoa meski diam. Ada pula yang merapal kalimat atau doa saat merasa tertekan dan takut suatu peristiwa akan terjadi padanya.

Nah, selaiknya penyakit tekanan darah tinggi maupun diabetes, gangguan ini bersifat jangka panjang. Gejala OCD yang dialami penderita pun berbeda-beda. Ada yang termasuk ringan yakni selama satu jam bergelut dengan pikiran obsesifnya. Namun, ada juga yang parah dan membuatnya sulit mengendalikan hidup. Sayang, nggak banyak orang mengetahui bila dirinya terkena sindorm OCD karena mereka enggan ke dokter.

Padahal, mereka nggak perlu khawatir karena penyakit ini bisa diobati. Tingkat pengobatan OCD bergantung dengan sejauh apa dampak OCD yang dialami penderita. Dokter biasanya akan melakukan terapi perilaku kognitif (CBT) dan penggunaan obat-obatan. Kedua hal itu sangat bermanfaat untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku penderita.

Kalau seseorang nggak segera mengobati sindrom ini, dia berisiko terkena depresi, lo. Jadi, lebih baik kalau sobat Millens merasakan tanda-tanda seperti yang disebutkan, langsung ke dokter saja ya. (IB07/E04)