Andi Taufan Ikuti Jejak Belva Devara Mundur dari Stafsus Jokowi, Kenapa?

Andi Taufan Ikuti Jejak Belva Devara Mundur dari Stafsus Jokowi, Kenapa?
Andi Taufan stafsus Jokowi mengundurkan diri. (Rakyatpostonline)

Andi Taufan mundur dari stafsus Jokowi setelah disebut-sebut menyalahgunakan wewenang yang melibatkan perusahaannya, Amartha. Pengunduran ini terjadi nggak lama setelah stafsus Belva Devara juga melakukan hal yang sama.

Inibaru.id – Salah satu Staf Khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo, Andi Taufan Garuda Putra resmi mengundurkan diri. Laki-laki yang juga menjabat sebagai CEO PT Amartha Mikro Fintek tersebut mengikuti jejak Belva Devara yang juga mundur pada Rabu (15/4/2020) lalu.

“Pendunduran diri ini semata-mata dilandasi keinginan saya yang tulus untuk dapat mengabdi secara penuh kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama yang menjalankan usaha mikro dan kecil,” kata Taufan melalui pernyataan tertulis, Jumat (24/4/2020).

FYI, Amartha merupakan perusahaan teknologi finansial yang membantu pendanaan usaha mikro dan kecil di Indonesia. Taufan mendirikan perusahaan tersebut pada April 2010 lalu di Jakarta. Lewat Amartha pula, Taufan mendapatkan hujatan saat menjadi Stafsus Presiden.

Perusahaan ini tersandung kasus surat tentang penanganan pencegahan Covid-19 yang rencananya akan diprogramkan di desa-desa. Beberapa saat lalu, surat dengan Kop Sekretaris Kabinet dikirim ke camat-camat di seluruh Indonesia. Isi surat ini adalah permintaan dukungan pada Amartha yang membuat program Relawan Desa Lawan Covid-19.

Andi Taufan yang juga CEO PT Amartha Fintech. (Cnbcindonesia)<br>
Andi Taufan yang juga CEO PT Amartha Fintech. (Cnbcindonesia)

Surat pengunduran diri Taufan telah diberikan pada Jumat (17/4/2020) lalu dan sudah disetujui oleh Jokowi. 

Sebelumnya, sejumlah politisi tanah air juga dengan terang-terangan mendesak Taufan untuk mundur. Sebagai contoh, lewat akun Twitter pribadinya, Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahean meminta Taufan angkat kaki dari lingkungan kabinet pasca kasus surat itu, meski Taufan telah minta maaf.

“Kesalahan seperti ini tidak layak dimaafkan tapi harus dihukum. Integritas anda buruk, pemahaman anda tentang sistem pemerintahan sangat buruk. Anda tak layak jadi staf khusus Presiden. MUNDURLAH..!!” tulisnya bernada provokatif pada Selasa (14/4).

Kemunduran diduga karena penyalahgunaan wewenang. (Instagram)<br>
Kemunduran diduga karena penyalahgunaan wewenang. (Instagram)

Lalu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menganggap Taufan telah melakukan kesalahan karena menitipkan perusahaannya Amartha pada para camat Indonesia menggunakan kop surat Sekretaris Kabinet (Setkab).

Menurut Dedi, lulusan Universitas Harvard itu seharusnya meniru Adamas Belva Syah Devara yang telah mengundurkan diri. Belva juga dituding memiliki konflik kepentingan dengan program Kartu Prakerja yang tengah dilakukan pemerintah. Ruangguru yang didirikannya ikut terseret karena menjadi mitra yang memfasilitasi pelatihan kompetensi pemegang kartu tersebut.

“Andi Taufan semestinya pun mundur, karena melakukan hal yang tidak terpuji secara birokratis,” ujar Dedi pada Rabu (22/4/2020).

Sudah dua orang Stafsus Millenial Presiden yang mundur, nih, Millens. Kalau menurut kamu, keberadaan mereka sebenarnya penting, nggak sih? (War/MG26/E07)