Andai Kamu Ada di Tengah Demonstrasi Tolak Omnibus Law di Kota Semarang

Andai Kamu Ada di Tengah Demonstrasi Tolak Omnibus Law di Kota Semarang
Pagar Gedung DPRD Jateng roboh kembali. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Mari berandai-andai kamu berada di tengah aksi massa tolak Omnibus Law di Kota Semarang Rabu lalu yang berujung ricuh. Yang tadinya berjalan normal menjadi kacau tatkala ada lemparan batu dan benda-benda lainnya. Banyak pelajar yang ditangkap lantaran dianggap sebagai biang kerusuhan.

Inibaru.id - Mungkin ada di antara kamu yang ikut aksi massa penolakan Omnibus Law yang digelar di pelbagai sudut di Indonesia, Rabu (7/10/2020) lalu, termasuk di Kota Semarang. Kalau tidak, mari berandai-andai kamu ada di tengahnya.

Saya berpikir, demo penolakan RUU KUHP dan sejumlah UU lainnya pada September 2019 silam adalah satu-satunya aksi yang mendatangkan massa dengan jumlah yang besar dan "berisik" di Kota Semarang. Namun, rupanya demo penolakan Ominibus Law kemarin lebih besar.

Omnibus Law, undang-undang yang dinilai "sesat" oleh banyak pihak itu langsung mengundang gelombang protes dari sebagian besar orang Indonesia karena dianggap kebangetan merugikan kaum pekerja. Alhasil, setelah riuh di sosial media dan nggak digubris, massa pun "kopdar" di jalan, termasuk di Kota Lunpia.

Demo diinisiasi oleh Gerakan Rakyat Menggugat (Geram). Geram merupakan gabungan dari mahasiswa, buruh, dan lembaga masyarakat. Ini bukan kali pertama. Sudah beberapa kali Geram melakukan demo, terutama dalam menolak Omnibus Law.

Berlangsung Lebih Siang

Demo kali ini lebih ">
Demo kali ini lebih "berisik" daripada demo pada September tahun lalu. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Demo kali ini nggak seperti biasanya, berlangsung lebih siang. Selepas Zuhur, massa baru mulai bergerak menuju Jalan Pahlawan, tepatnya di depan pagar Gedung DPRD Jawa Tengah. Saya semula berasumsi demo bakal berlangsung alakadarnya karena sebagian besar mahasiswa kuliah daring.

Namun, saya keliru. Mahasiswa dari pelbagai almamater berdatangan, diikuti buruh yang menyusul di belakang. Pada sesi awal demo bahkan ada sekelompok orang yang cukup energetik. Sepengetahuan saya, mereka bukan mahasiswa karena nggak ada atribut kemahasiswaan yang melekat.

Mereka tampak masih remaja. Energinya juga besar sekali, menumpahkan berbagai umpatan kepada aparat keamanan. Nggak berhenti di situ, kelompok tersebut kemudian menggedor-gedor gerbang depan Gedung DPRD yang tertutup rapat. Tak lama, gerbang besi itu pun tumbang.

Saya kalang kabut mengejar momen tersebut. Malang betul nasib gerbang itu. Usianya hanya setahun, karena pada demonstrasi September 2019 lalu, gerbang di "Gedung Berlian" ini mengalami hal serupa.

Oya, pada awal-awal aksi, sebuah insiden nggak mengenakkan pun sempat terjadi. Seorang mahasiswa terkena potongan besi gerbang. Darah mengucur di pelipis gadis berjilbab tersebut. Dari name tag-nya, sepertinya dia anggota pers mahasiswa.

Anak-Anak SMK

Salah seorang pendemo yang terkena lemparan potongan besi pagar. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Salah seorang pendemo yang terkena lemparan potongan besi pagar. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Setelah peristiwa gerbang roboh itu, saya baru tahu para remaja energetik itu adalah para pelajar SMK di Kota Semarang. Entah mereka berada di bawah komando siapa. Namun, menurut saya siapa pun berhak menyuarakan aspirasi atau membela apa pun yang mereka yakini benar. 

Pasca-dua insiden tersebut, demo berlangsung normal. Seruan tuntutan dilontarkan. Selain menolak Omnuibus Law, Geram juga melontarkan tututan seperti pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual  dan RUU Pekerja Rumah Tangga.

Mereka juga meminta pengusaha menyetop PHK di tengah pandemi, serta meminta pemerintah untuk fokus melakukan penanganan Covid-19 dan menghentikan kriminilisasi aktivis. Tuntutan-tuntutan ini pula yang disuarakan di seluruh Indonesia hari itu.

Kendati disertai umpatan dan teriakan protes yang keras, suasana di depan Gedung Berlian masih kondusif. Anggota DPRD dari Fraksi Partai Demokrat Bambang Eko Purnomo yang menemui para demonstran sempat menegaskan pihaknya menolak Omnibus Law, tapi palu tetap diketok.

Selanjutnya, ajian “akan kami sampaikan ke atas” pun dikeluarkan, tapi sepertinya nggak ada yang peduli dengan janji itu. Aksi kembali berlangsung. Perwakilan mahasiswa dan buruh berorasi di atas mobil pikap dengan semangat menggebu, tapi ada juga yang memilih berteduh di pinggiran.

Tensi Meninggi, Demo Ricuh

Orasi saat demo berjalan dengan normal. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>
Orasi saat demo berjalan dengan normal. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Saya sempat berpikir, demo kondusif ini akan segera berakhir setelah rentetan orasi tersebut. Saya pun selesai dan menepi sejenak untuk segera membuat berita serta mengirim foto. Namun, perkiraan saya meleset. Seorang teman mengirim pesan singkat: Tensi meninggi, demo ricuh!

Dia mengatakan, mobil water cannon masuk ke kerumunan dan gas air mata ditembakan. Para demonstran pun berontak. Berbagai barang yang ada di tangan dan sekitarnya, mulai dari botol, sandal, tongkat bambu, hingga dan bebatuan, segera menghujani halaman kantor DPRD Jateng.

Kembali ke lokasi, gas air mata masih terasa pedihnya dan saya mendapati semuanya sudah tampak kacau. Gapura gedung sudah penuh coretan, batu-batu dan sampah berserakan, taman di bahu jalan juga amburadul diterjang orang-orang. Halaman gedung sepi, dijaga ketat polisi.

Pasca kerusuhan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Pasca kerusuhan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya menyempatkan masuk ke dalam Gedung DPRD Jateng. Di sana beberapa orang ditangkap karena dituduh sebagai biang kerusuhan. Sejumlah orang di tempat tersebut saya kenali sebagai peserta demo. Mereka pasrah digelandang, satu orang sempat terlihat menangis.

Selesai? Belum! Aparat kepolisian rupanya masih memburu sejumlah orang yang mereka cap sebagai provokator. Sasaran mereka adalah para pelajar SMK yang dianggap sebagai biang keladi.

Setelahnya, di depan kedua mata saya dari jarak yang cukup dekat dan terbuka, saya melihat sendiri kekerasan terjadi. Tendangan dan pukulan secara serampangan diarahkan ke tubuh para demonstran sebagian di antaranya diminta telanjang dada, tanpa masker. Ada yang melerai, tapi nggak banyak.

Digelandang oleh aparat keamanan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Digelandang oleh aparat keamanan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Rasa kalut benar-benar menyelimuti hati saya. Entah mereka dibawa ke mana dan apa yang akan terjadi. Selanjutnya, linimasa media sosial yang juga dipenuhi tindakan-tindakan represif dari pihak berwenang bermunculan. Dari berbagai penjuru kota di Indonesia.

Di kepala saya ada banyak sudut pandang. Saya enggan melabeli mana yang benar atau salah. Semuanya abu-abu. Namun, satu hal yang pasti, saya semakin kesal pada negara. Kesal sekali!

Andai kamu berada di tengah-tengah aksi ini, apa yang akan kamu rasakan, Millens? (Audrian F/E03)