Alam Makin Rusak, Penyakit Binatang Semakin Sering Menular ke Manusia

Alam Makin Rusak, Penyakit Binatang Semakin Sering Menular ke Manusia
Jika alam terus dirusak, pandemi nggak akan sirna dan akan terus muncul di masa depan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Banyak orang menduga pandemi Covid-19 ditularkan dari kelelawar. Nah, hal ini membuat para peneliti yakin jika penyakit binatang menular ke manusia gara-gara kerusakan alam. Kok bisa?

Inibaru.id - Belum usai pandemi Covid-19 di Indonesia dan seluruh dunia, kita kembali dihadapkan pada kemungkinan penyebaran penyakit lainnya, yakni virus Nipah. Virus ini diklaim sama berbahayanya dengan virus Corona.

Direktur Eksekutif Lembaha Nirlaba dari Belanda, Access to Medicine Foundation Jayasree Iyer menyebut virus Nipah memiliki tingkat kematian yang sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, rasio kematiannya sampai 75 persen di Tiongkok. Jika sampai terinfeksi, seseorang bisa mengalami gangguan pernapasan parah serta pembengkakan otak ensefalitis. Karena alasan inilah para ahli memprediksi virus ini berpotensi jari pandemi berikutnya.

Nah, virus Nipah ini berasal dari kelelawar buah. Hewan ini bisa menjadi inang secara alami. Asal mula mengapa kelelawar buah bisa jadi inang dari virus mematikan ini adalah kerusakan habitat tempat mereka tinggal.

Masalahnya, virus Nipah juga bisa menular ke manusia baik itu dengan kontak langsung maupun lewat makanan yang sudah terkontaminasi. Sebagai contoh, kasus virus Nipas di Bangladesh dan India dipicu oleh konsumsi jus kurma.

Kelelawar buah mengisap sari kurma di pohon saat malam hari. Diduga, hal ini membuat kurma yang dijadikan jus terpapar virus Nipah. Selain itu, ada juga dugaan bahwa kelelawar kencing di bak penampungan air.

Kelelawar jadi inang virus Nipah yang berpotensi jadi pandemi berikutnya. (Hipoppx)<br>
Kelelawar jadi inang virus Nipah yang berpotensi jadi pandemi berikutnya. (Hipoppx)

Inger Andersen dari UNEP PBB pada Juni 2020 lalu memprediksi akan semakin banyak pandemi seperti Covid-19 di tahun-tahun berikutnya karena manusia terus merusak alam. Menurutnya, 60 persen kasus infeksi pada manusia dipicu oleh penyakit zoonosis atau terkait dengan interaksi antara manusia, binatang, serta alam.

Sayangnya, semakin rusak alam, semakin banyak satwa liar yang mendekati permukiman manusia demi mencari makan karena habitatnya sudah nggak lagi menyediakannya. Hal ini berdampak pada peningkatan interaksi dengan manusia dan semakin tingginya risiko penularan penyakit.

Hal yang sama diungkap oleh Delia Randolph dari International Research Institute (ILRI)

“Sejak tahun 1930-an, terdapat tren yang jelas menyangkut terus meningkatnya penyakit pada manusia. Sekitar 75 persen dari penyakit itu berasal dari binatang liar,“ ujar Randolph.

Melihat fakta ini, sebaiknya kita memang baik-baik menjaga alam agar nggak rusak, ya Millens. Biar nggak ada lagi wabah penyakit berbahaya! (Rep/IB28/E07)