Ajakan Jaga Kemajemukan dari Shinta Nuriyah di Kopenhagen

Dua pembicara dalam “Dialog Kebhinekaan” di Kopenhagen, Denmark menegaskan tentang pentingnya menjaga kemajemukan. Ajakan bagus dalam situasi Nusantara yang kerap “diganggu” persoalan intoleransi.

Ajakan Jaga Kemajemukan dari Shinta Nuriyah di Kopenhagen
Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid memberi paparan dalam “Dialog Kebhinekaan” di Wisma Duta RI di Kopenhagen, Denmark, Kamis (16/11/2017) (kbricph.dk)
392
View
Komentar

Inibaru.id - Masyarakat dan diaspora Indonesia di Kopenhagen, Demanrk mengikuti dialog kebangsaan dengan pejuang hak perempuan Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (istri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid), dan Dr Nurmala Kartini Panjaitan Sjahrir (ahli antropologi Indonesia) yang menjabat staf khusus perubahan iklim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya.

Baca juga: 
Para Peragawati Senegal Itu Berbalut Batik dan Tenun Nusantara
Dulu Kau Tunggu Para Bajingan, Kini Kau Mengumpatinya

Dilansir dari Antara London (18/11/2017), “Dialog kebinekaan” diadakan di Wisma Duta RI di Kopenhagen. Acara yang dihadiri oleh sekitar 80 warga dan diaspora Indonesia berlangsung hangat dan membahas berbagai hal terkait perkembangan situasi dan kondisi di Indonesia.

Menurut Pensosbud KBRI Kopenhagen, Ismail N Pulungan, dalam dialog itu juga didiskusikan mengenai posisi Indonesia sebagai negara majemuk dengan beraneka ragam suku ras budaya dan agama.

Pada kesempatan itu, Shinta menyampaikan, salah satu langkah untuk menumbuhkembangkan rasa persaudaran dan saling menghargai dan menghormati antarsesama dapat dilakukan dengan dialog atau tatap muka dengan seluruh komponen bangsa tanpa melihat latar belakang suku agama ras dan budaya.

Shinta menambahkan, bangsa Indonesia juga harus bersikap terbuka sebagai negara yang pluralis dan majemuk dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika memandang perbedaan sebagai suatu rahmat dan perbedaan tidak boleh menghambat tegaknya persatuan dan kesatuan.

“Masyarakat Indonesia yang bermukim di luar negeri harus menimba pengalaman dan memberikan sumbangsih yang dapat dipergunakan untuk menjaga kemajemukan Indonesia,’’ ujar Shinta.

Baca juga:
Wong Berpakaian Seronok kok Dilarang?
Mengintip Celah dalam Transaksi Daring

Sementara itu Kartini Sjahrir menyampaikan mengenai pentingnya inklusivitas dan keterbukaan dan bangsa Indonesia harus bangga dengan perbedaan dan kemajemukan yang ada dan harus dikelola dengan baik.

“Toleransi sebagai syarat utama menjaga kemajemukan dan kebhinnekaan sehingga setiap komponen bangsa harus menumbuhkembangkan sikap tolerasi terhadap sesamanya.” (EBC/SA)