Agama Muslim, Kepercayaan Baru yang Muncul di Sumbar; MUI Tegaskan Bukan Islam

Agama Muslim, Kepercayaan Baru yang Muncul di Sumbar; MUI Tegaskan Bukan Islam
Sekretaris Umum MUI Solok Elyunus Asmara. (Posmetropadang)

Di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, muncul agama baru bernama Agama Muslim. MUI telah melakukan pertemuan dengan pengikut agama tersebut. Hasilnya, pengikut Agama Muslim justru mengaku agamanya berbeda dari Islam.

Inibaru.id – Belakangan ini masyarakat Sumatera Barat dihebohkan dengan kemunculan kepercayaan baru bernama Agama Muslim. Agama ini berkembang di Kabupaten Solok. Pengikut agama tersebut mencapai 20 orang dan telah berkembang sejak empat tahun lalu.

Meski namanya "muslim", MUI memastikan agama ini berbeda dengan Islam. Sekretaris Umum MUI Solok Elyunus Asmara menyebut agama yang berkembang di Nagari Koto Sani dan Nagari Sumani, Kecamatan X Koto Singkarak, ini nggak meminta pengikutnya mengimani Allah serta Nabi Muhammad.

“Semula, mereka Islam. Lalu, mereka menganut paham itu dari orang yang datang dari Padang dan menetap di kampung mereka. Orang dari Padang ini diutus oleh seorang guru bernama Usman,” ucap Elyunus, Jumat (24/7/2020).

Orang yang datang dari Padang ini disebut-sebut memengaruhi warga agar mau mendalami Agama Muslim di Padang. Selain itu, ada juga sebagian pengikut yang mempelajari Agama Muslim dari Pulau Jawa. Mereka berkumpul di Kabupaten Solok karena tahu memiliki kepercayaan yang sama.

“Mereka hanya berkumpul dan mengobrol begitu saja di rumah salah satu pengikut. Tidak ada kegiatan ibadah berjemaah. Mereka juga nggak menyebarkan paham mereka kepada orang lain. Selama ini perkembangan ajaran ini hanya di lingkup keluarga sendiri,” jelas Elyunus.

Ormas dan pemuka agama di Solok. (Langgam)<br>
Ormas dan pemuka agama di Solok. (Langgam)

Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat, MUI pun turun tangan. Pertemuan dengan pengikut Agama Muslim pun dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUI) X Koto Singkarak pada 4 Mei 2020.

Hasilnya, pengikut Agama Muslim justru mengaku agama mereka bukanlah Islam. Hal ini membuat MUI nggak bisa memberikan cap sesat pada agama tersebut.

“Soal agama baru di Indonesia, kami serahkan ke Badan Koordinasi Pengawas Aliran Keagamaan dan Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem),” ucap Elyunus.

Dua orang pengikut Agama Muslim, DK (39) dan MS (45) menjelaskan tentang ajaran Agama Muslim.

“Meyakini Agama Muslim itu bukan Islam. Meyakini tidak bertuhan kepada Allah, melainkan ke Rabbi. Meyakini Nabi Muhammad itu nggak ada, karena hanya ada sosok Muhammad. Kami meyakini Nabi Ibrahim, bukan Muhammad,” ucap kedua orang tersebut.

Mereka juga nggak diwajibkan untuk salat lima waktu, tapi diminta untuk selalu mengigat Rabbi. Puasa Ramadan nggak wajib dan justru lebih merekomendasikan puasa tiap hari demi menahan diri.

Kalau menurut kamu, apakah perlu Indonesia menampung kepercayaan baru ini juga, Millens? Ehm, asal nggak saling mengganggu, sebetulnya nggak ada masalah juga. Iya nggak, sih? (Cnn/IB09/E03)