Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah Terkaya yang Menolak Jadi Khalifah

Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah Terkaya yang Menolak Jadi Khalifah
Ilustrasi Abdurrahman bin Auf. (Islami.co)

Punya banyak harta nggak lantas membuat Abdurrahman bin Auf tamak dan kufur. Dia terus setia di sisi nabi dan memberikan hartanya untuk kepentingan agama. Meski cocok menjadi pemimpin, ternyata dia menolak menjadi pengganti Umar bin Khattab. Sebagai gantinya, ditunjuklah Ustman bin Affan.

Inibaru.id – Abdurrahman bin auf mungkin terdengar asing di telinga ketimbang nama-nama seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib meski sama-sama sahabat Rasulullah. Dia juga termasuk dalam delapan orang pertama yang masuk Islam dan juga dijamin masuk surga lo.

Abdurrahman bin Auf ialah seorang pedagang sukses. Berkat kerja kerasnya dalam berniaga, Abdurrahman menjadi konglomerat dengan harta yang berlimpah di masa Nabi Muhammad SAW.

Orang yang memperkenalkan Abdurrahman kepada Islam adalah Abu Bakar. Bersama dengan Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhan bin Ubaidillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman mengucapkan syahadat di depan Rasulullah.

Sejak memeluk Islam, Abdurrahman selalu setia di sisi Rasulullah. Sebagai seorang pedagang, Abdurrahman menghindari yang haram dan syubhat. Barang syubhat adalah barang yang nggak jelas halal atau haramnya.

Selain itu, dia juga selalu loyal membagikan hartanya kepada keluarga, saudara, dan agama Allah. Dia menjadi sosok yang rajin bersedekah setelah mendapat nasehat dari Rasulullah.

"Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya engkau adalah kelompok orang-orang kaya dan engkau akan masuk surga dengan merangkak. Karena itu berilah pinjaman kepada Allah niscaya dia lepaskan kedua kakimu," sabda Rasulullah.

Pemurah

Semenjak masuk Islam, Abdurrahman bin Auf rajin bersedekah. (Freepik via Bola.com) 
Semenjak masuk Islam, Abdurrahman bin Auf rajin bersedekah. (Freepik via Bola.com) 

Dikisahkan, Abdurrahman pernah menjual tanah seharga 1000 dinar kemudian membagikan seluruh uang itu kepada keluarganya Bani Zuhrah, istri-istri Nabi, dan penduduk miskin. Nggak cuma itu, dia juga pernah memberikan 500 kuda untuk pasukan Muslimin yang bakal pergi berperang. Sebanyak 1500 unta juga pernah disumbangkannya.

Meski bergelimang harta, nyatanya nggak menjadikan Abdurrahman kufur dan tamak. Dia tetap hidup dengan dermawan. Dalam berperang, dia juga nggak segan mempertaruhkan nyawanya.

Dalam Perang Uhud misalnya. Abdurrahman mendapatkan 20 luka yang salah satunya mengakibatkan kakinya cacat permanen. Abdurrahman bahkan sulit berbicara karena giginya patah dalam perang tersebut.

Menolak Menjadi Khalifah

Dalam biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid, diceritakan Abdurrahman bin Auf sempat menolak untuk menjadi khalifah sepeninggal Umar bin Khattab. Ketika itu, enam orang sahabat yang sedang berunding menentukan khalifah baru. Semuanya sepakat untuk menunjuk Abdurrahman sebagai pemimpin umat Islam. Tapi, Abdurahman menolak dan meminta Utsman bin Affan untuk menjadi khalifah.

"Demi Allah, andai dibuat sebilah pisau lalu diletakkan pada tenggorokanku dan ditancapkan hingga tembus ke sisi lain adalah lebih aku sukai daripada menjadi khalifah," kata Abdurrahman.

Gagal Miskin

Ilustrasi kurma. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Ilustrasi kurma. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Rupanya, hartanya yang melimpah sempat membuatnya khawatir menjadi penghalang ke surga lo. Dia pun berupaya untuk menghabiskan hartanya. Namun, semuanya sia-sia. Dia justru semakin kaya. Misalnya, ketika dia menghibahkan harta bendanya kepada orang-orang yang berhijrah ke Madinah. Bukannya jatuh miskin, dia justru semakin kaya karena usahanya semakin maju.

Pernah juga dia dengan sengaja membeli kurma-kurma yang busuk dengan harga yang normal. Namun, datanglah utusan dari kerajaan tetangga yang memborong kurma busuknya dan membayar 10 kali lipat. Kurma busuk itu hendak dijadikan obat wabah yang sedang menyerang kerajaan Yaman. Hm, istimewa banget ya akhlak Abdurrahman bin Auf, Millens. (CNN, Isl/IB21/E07)