Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!
Kasus Munir merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM yang masih menjadi misteri. (tirto.id/Arimacs Wilander)

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

Setiap tanggal 10 Desember, warga dunia memperingatinya sebagai Hari HAM. Namun nyatanya, di Indonesia kasus pelanggaran HAM masih kerap terjadi bahkan ada yang belum selesai hingga kini.

Inibaru.id – Berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia masih menjadi luka bagi masyarakatnya. Koalisi Peringatan Hari HAM (Koper HAM) mencatat ada 51 kasus pelanggaran HAM dan belum diselesaikan oleh pemerintah.

Melansir Okezone.com, Senin (9/12/19), ke 51 kasus pelanggaran HAM tersebut terdiri dari penggusuran paksa, perampasan lahan, pelanggaran hak-hak buruh, pelanggaran hak sebagai pemeluk agama atau keyakinan, kegagalan pemerintah mengelola sistem jaminan sosial yang dibebankan kepada rakyat melalui peningkatan iuran BPJS, dan kasus pinjaman online. Nggak hanya itu, masih ada kasus-kasus lain yang cukup serius.

Dalam rangka memperingati Hari HAM Sedunia, berikut berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia.

Tragedi 1965-1966

Tragedi 1965-1966. (ypkp1965.org)

Pada 1965-1966 pemerintah orde razia besar-besaran terhadap simpatisan PKI atas peristiwa terbunuhnya sejumlah jenderal. Razia itu dikenal sebagai operasi pembersihan PKI. Saat itu, ada 500.000 hingga 3 juta warga tewas dibunuh. Ribuan lainnya diasingkan dan sisanya hidup di mendapatkan stigma sebagai PKI.

Akibatnya, Komnas HAM balik menuding Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan semua panglima militer daerah yang menjabat sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sayangnya, pada tahun 2013, Kejaksaan mengembalikan berkas ke Komnas HAM dengan alasan data kurang lengkap.

Penembakan misterius (Petrus) tahun 1982-1985

Kasus Petrus 1982-1985. (patriot-pejuang.blogspot.com)

Kasus penembakan misterius (petrus) merupakan operasi rahasia yang digelar mantan Presiden Soeharto dengan dalih mengatasi tingkat kejahatan di Indonesia. Operasi ini melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat, khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah.

Hasilnya, sebanyak 532 orang tewas pada tahun 1983 dan 367 orang di antaranya tewas ditembak. Pada tahun 1984, 107 orang tewas dengan 15 orang tewas ditembak. Kemudian pada tahun 1985, tercatat 74 orang tewas dengan 28 di antaranya tewas ditembak.

Tragedi Semanggi dan Kerusuhan Mei 1998

Kerusuhan Mei 1998. (boombastis.com)

Pada Mei 1998, terjadi kerusuhan besar-besaran di hampir seluruh sudut tanah air, terutama Kota Jakarta dan sekitarnya.  Kerusuhan ini mengakibatkan ribuan orang tewas, ratusan wanita menjadi korban perkosaan, dan tertembaknya sejumlah mahasiswa peserta demonstrasi.

Dalam proses hukumnya, Kejaksaan Agung mengatakan, kasus tersebut bisa ditindaklanjuti apabila ada rekomendasi dari DPR ke Presiden. Sampai tahun berganti, belum juga ada rekomendasi sehingga Kejaksaan Agung mengembalikan berkas penyelidikan ke Komnas HAM. Namun, Kejaksaan Agung kembali mengatakan bahwa kasus ini nggak bisa ditindaklanjuti karena nggak ditemukan pelanggaran HAM berat. Sebab, kasus penembakan mahasiswa Trisakti sudah diputus oleh Pengadilan Militer pada tahun 1999.

Terbunuhnya Munir

Kasus Munir. (Liputan6.com/Tryasni)

Aktivis HAM paling berpengaruh di Indonesia, Munir Said Thalib ditemukan meninggal di dalam pesawat jurusan Jakarta-Amsterdam pada 7 September 2004. Namanya melambung saat dia menjabat sebagai Dewan Kontras (Komite untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan). Dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Komando Pasukan Khusus Tentara Nasional Indonesia.

Pilot maskapai Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto akhirnya dinyatakan bersalah atas kasus ini. Polly divonis 14 tahun penjara karena terbukti berperan sebagai pelaku yang meracuni Munir dalam penerbangannya ke Amsterdam. Namun, hingga saat ini, para aktivis HAM menganggap kasus ini belum selesai.

Tragedi Wamena (4 April 2003)

Tragedi Wamena. (AP Photo)

Pada 4 April 2003 pukul 01.00 waktu Papua, sekelompok massa nggak dikenal membobol gudang senjata Markas Kodim 1702/Wamena. Penyerangan tersebut menewaskan dua anggota Kodim, yaitu Lettu TNI AD Napitupulu dan Prajurit Ruben Kana. Kelompok tersebut juga membawa lari sejumlah senjata dan amunisi.

Selanjutnya, aparat TNI-Polri melakukan penyisiran, penangkapan, penyiksaan, perampasan secara paksa, dan menyebabkan korban jiwa. Tercatat 42 orang meninggal dunia karena kelaparan  dan 15 orang jadi korban perampasan. Komnas HAM juga menemukan pemaksaan penandatanganan surat pernyataan, serta perusakan fasilitas umum.

Semoga ngggak ada lagi pelanggaran HAM di Indonesia ya, Millens! (IB07/E06)