30.000 Muslim Chechnya, Rusia Lakukan Aksi Solidaritas Untuk Rohingya

Warga Muslim Chechnya melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di ibukota Grozny. Aksi unjuk rasa ini ditujukan untuk mengecam aksi kekerasan yang ada di Rakhine, Myanmar.

571
View
Komentar

Inibaru.id – 30.000 ribu warga wilayah Otonomi Chechnya, Russia berkumpul dan memadati sepanjang jalan di ibukota Grozny. Mereka berkumpul untuk melakukan aksi solidaritas terkait dengan kekerasan yang sedang terjadi di Rakhine, Myanmar. Sebagaimana diketahui, aksi kekerasan pemberhangusan genosida ini telah memakan banyak korban, khususnya dari pihak Muslim Rohingya.

Baca Juga : 2,5 Miliar Rupiah Bantuan Dari Warganet Indonesia Untuk Rohingya

Aksi solidaritas tersebut merupakan aksi lanjutan setelah sehari sebelumnya digelar aksi serupa yang dilakukan oleh warga Muslim Rusia di depan Kedutaan Besar Myanmar,di Moskow. Aksi ini juga sebagai tindak lanjut aksi-aksi lainnya yang dilakukan di wilayah Dagestan.

Tak hanya diikuti oleh warga Chechnya, aksi solidaritas juga dihadiri oleh pimpinan wilayah otonomi ini, Ramzan Kadirov. Dalam aksi tersebut, Kadirov menyampaikan pidato yang berisi bentuk protes keras pada pemerintah Rusia yang dianggap diam saja tidak melakukan tindakan apapun atas kekejaman yang terus terjadi di Rakhine, Myanmar. Dalam orasinya Kadirov juga secara terang-terangan menentang sikap pemerintah Rusia yang masih terus mendukung tindakan militer Myanmar.

Ia juga menganggap apa yang dilakukan oleh militer Myanmar ini setara dengan kejahatan Holocaust yang dilakukan Nazi Jerman pada masa Perang Dunia ke II. Pidato ini langsung menyebar di media sosial dan membuat warga Muslim Chechnya tergerak untuk melakukan aksi unjuk rasa sekaligus melakukan salat bersama dengan tujuan mendoakan saudara-saudaranya di Myanmar yang sedang dalam kondisi tertindas.

Baca Juga : Konflik Rohingya Meruncing, Berbagai Lembaga Kemanusiaan di Indonesia Galang Donasi

Sebagaimana diketahui, hingga kini berbagai tindakan kejahatan kemanusiaan masih berlangsung di Rakhine, meskipun sudah banyak pihak Internasional yang mengecamnya. Akibatnya, ratusan orang harus kehilangan nyawa sejak operasi militer diadakan sejak pekan lalu. (AW/IB)