Wayang Potehi Keliling, Misi Budaya, dan Bekal Tampil ke Belanda

Selama tiga hari, sebuah wayang potehi keliling tampil di Pecinan Semarang. Selain untuk misi budaya, mereka juga tengah mencari bekal agar bisa tampil di Belanda.

Inibaru.id – Gang Warung sudah dijejali pengunjung saat saya tiba, Minggu (19/6/2022) sore. Lautan manusia telah memadati sudut-sudut jalan di jantung Kawasan Pecinan Semarang tersebut. Suasana itu kian ramai dengan pertunjukan wayang potehi yang sudah lama absen jadi bagian dari pecinan.

Sejak akhir Mei lalu, gang yang merupakan gerbang masuk kawasan pecinan itu memang sudah kembali ramai tiap akhir pekan. Warung Semawis, sebuah pasar malam yang menyajikan aneka kuliner khas Tionghoa, sudah kembali dibuka setelah sekitar dua tahun terakhir vakum karena pandemi Covid-19.

Sore itu saya sengaja ke Semawis untuk menyaksikan perhelatan wayang potehi. Sejak dalang ternama Semarang Thio Tiong Gie mangkat pada 2014 silam, saya sudah jarang sekali bisa menemukan pertunjukan wayang potehi di Kota Lunpia. Maka, begitu ada kabar bakal ada pertunjukkan kesenian ini di Semawis, saya pun bergegas menyambanginya.

Pergelaran wayang baru dimulai saat saya tiba di depan venue yang berlokasi sekitar sepelemparan batu saja dari gerbang timur pecinan. Para pemainnya adalah kelompok kesenian asal Jombang, Jawa Timur. Pertunjukkan digelar di atas mobil pikap yang didesain khusus menjadi panggung potehi. 

Boks untuk pergelaran diletakkan paling belakang, diikuti penggerak wayang, lalu para pemain musik, dan terakhir, yang paling dekat dengan kabin mobil, adalah tempat untuk dalang. Sementara, orang-orang menonton di belakang pikap.

Pertunjukan dimulai dengan ritual pembakaran kimcoa (uang-uangan) sebagai persembahan untuk dewa-dewa di sekitar. Setelahnya, dalang melantunkan suluk pembuka atau siu lam pek dalam bahasa Hokkian. Malam itu, mereka memainkan wayang bertajuk “Kisah Pangeran Sutasoma”.

Wayang Potehi Keliling

Kisah Pangeran Sutasoma menjadi persembahan terakhir kelompok wayang potehi keliling bernama Fu He An itu di Semarang. Selama tiga hari di Kota ATLAS, mereka pentas di dua tempat, yakni di pecinan pada Jumat dan Minggu serta di depan Masjid Kauman pada Sabtu lalu.

Fu He An sengaja mengendarai mobil GoPot (Go Potehi) untuk menggelar pertunjukan keliling ke pelbagai kota sesuai undangan, baik untuk acara privat maupun umum. Bermarkas di Gudo, Jombang, mereka merupakan salah satu kelompok kesenian wayang potehi tertua di Tanah Air.

The Han Thong, salah seorang pengurus Fu He An mengatakan, selain menggelar pertunjukan, mereka juga membuat wayang, termasuk pernak-pernik dan perangkat yang dibutuhkan untuk pementasan yang biasanya memakan waktu beberapa jam tersebut.

Han, begitu dia biasa disapa, sengaja membuat pertunjukan keliling itu untuk lebih mengenalkan wayang potehi ke seluruh penjuru kota. Selain itu, dia juga mengaku sedang kejar setoran untuk bisa menerbangkan seluruh kru Fu He An ke Belanda pada Sepetember mendatang.

“Awal Maret kami dapat undangan untuk tampil di Tong-Tong Fair Den Haag (Belanda) dari 1 sampai 11 September. Itu kira-kira bakal di sana dua minggu dan dana kami belum cukup," keluhnya.

Satu sisi, Han merasa senang karena bisa menampilkan salah satu kesenian yang sudah dikenal di Nusantara sejak abad ke-16 itu di kancah internasional. Namun, dia juga bimbang karena harus mengumpulkan dana sekitar Rp 350 juta untuk memberangkatkan sembilan orang.

"Ini undangan ketiga. Empat tahun lalu, kami sudah dapat dua undangan serupa, tapi urung berangkat karena kekurangan uang saku," sesalnya.

Dua Tahun Didera Pandemi

Han berharap, tahun ini kesempatan tampil di Tong-Tong Fair nggak kembali terlewat. Menurutnya, manggung di pentas internasional bisa menjadi lompatan istimewa untuk kelompoknya, sekaligus menjadi upaya untuk memperkenalkan wayang potehi di masyarakat yang lebih luas.

Sejak dilarang tampil selama zaman Orde Baru, lanjutnya, pamor kesenian wayang potehi memang meredup. Angin segar sempat berembus setelah 32 tahun vakum. Namun, dua tahun terakhir, pandemi Covid-19 mendera Tanah Air, membuat upaya pengenalan kesenian berusia 3000 tahun itu kembali terhambat.

"Upaya pelestarian wayang potehi tersumbat, kami juga harus mengencangkan ikat pinggang," ujarnya nggak lama setelah pementasan lakon "Kisah Pangeran Sutasoma" selesai. Tangannya sibuk membantu teman-temannya mengemasi perangkat pertunjukan.

Hal serupa juga dikeluhkan Widodo Santoso, dalang wayang potehi Fu He An. Menurutnya, selama kelompok kesenian tersebut nggak bisa manggung, asap dapur mereka nggak akan mengepul.

“Bersyukur GoPot sudah jalan lagi, kalau tidak ya kami kerja serabutan, seperti tukang parkir dan lain-lain,” tandas lelaki yang mengawali kiprah di Fu He An sebagai cantrik (pembantu) dalang pada 1993 ini. Dia tersenyum, tapi mimik mukanya tampak mendung.

Sedih banget ya, Millens? Asa mereka untuk nguri-uri budaya nenek moyang belum hilang, bahkan masih terus menggema di hati. Semoga jalan lapang membentang untuk mereka, para pekerja seni yang pantang menyerah! (Kharisma Ghana Tawakal/E03)