Tradisi Ratusan Tahun, Berbuka dengan Bubur India di Masjid Pekojan Semarang

Ramadan menjadi momen yang ditunggu warga sekitar Masjid Pekojan Semarang. Di masjid berusia 150-an tahun tersebut, masyarakat bisa mencicipi menu berbuka yang istimewa, yakni Bubur India, yang telah berusia ratusan tahun.

Inibaru.id - Keringat mengucur deras di wajah Ahmad. Matanya juga memerah. Sesekali, dia menyeka keringat atau mengucek matanya di tengah kesibukan mengaduk adonan bubur dalam kuali besar di atas tungku berbahan bakar kayu di dapur Masjid Jami Pekojan Semarang.

Tanpa memberi jeda, Ahmad sekurangnya harus bertahan di depan tungku selama dua jam, mengaduk beras untuk menjadi bubur. Dalam kuali, dia juga menambahkan santan dan berbagai rempah seperti jahe, bawang, serai, dan kapulaga, untuk menjadi Bubur India.

Selama Ramadan, menanak bubur kaya rempah itu memang menjadi rutinitas Ahmad saban siang. Bubur dalam satu kuali besar itu nantinya dibagi menjadi sekitar 200 porsi sebagai menu berbuka puasa di Masjid Pekojan.

“Sekitar 200 porsi bubur ini disediakan setiap hari (selama Ramadan) sebagai menu berbuka puasa kepada seluruh orang yang datang ke masjid ini,” ujar Ahmad sembari mengelap keringat di dahinya.

Di masjid yang telah berdiri sejak sekitar 150 tahun lalu itu, bubur India memang menjadi hidangan berbuka nan istimewa. Bubur ini nggak dijual; dibagikan cuma-cuma. Siapa saja boleh menjajal bubur yang nantinya disajikan dalam mangkok plastik dan ditata berderet di masjid tersebut.  

Masyarakat Kota Semarang nggak asing dengan keberadaan bubur India, khususnya yang tinggal di sekitar masjid yang ada di Jalan Petolongan, Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, tersebut, Menu berbuka ini konon sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Ketua Takmir Masjid Pekojan Ali Baharun mengungkapkan, bubur India kali pertama diracik oleh seorang mualaf dari India.

“Sekitar 100 tahun yang lalu ada orang India yang berdakwah ke Masjid Pekojan, dialah yang membuat bubur ini dengan memasukkan rempah-rempah khas India,” kata Ali.

Selama sebulan penuh, Ali dkk bakal menyediakan bubur berwarna kecoklatan yang bertekstur lembut tersebut di Masjid Pekojan. Bukan tanpa alasan mereka sengaja menyediakan bubur, alih-alih nasi. Menurut Ali, saat berbuka, seseorang membutuhkan asupan makanan yang lembek setelah menahan lapar selama sekitar 13 jam. 

“Bubur ini untuk seluruh umat, nggak memandang agama, ras, atau etnisnya. Semua orang boleh menikmati bubur ini,” ujar pria 62 tahun tersebut; "karena tujuannya untuk menyambung silaturahim antarumat beragama dan berbangsa Indonesia."

Gimana rasanya? Wahyu, salah seorang penikmat bubur India di Masjid Pekojan, mengaku ketagihan untuk berbuka dengan bubur yang disajikan dalam porsi yang lumayan banyak ini.

“Rasanya gurih dengan aroma yang khas, kaya bumbu-bumbu tradisional, yang membuat badan terasa segar kembali," ungkap lelaki yang mengaku sudah beberapa kali menikmati bubur India di Masjid Pekojan lantaran ketagihan tersebut.

Sebagai pelengkap menu iftar (berbuka puasa) di Masjid Pekojan ini, pengunjung juga bakal diberi kurma dan minuman manis untuk membatalkan puasa.

Gimana, tertarik berbuka di sini? Eits, tapi sebelumnya, pastikan kamu menerapkan protokol kesehatan dengan ketat ya, Millens! (Triawanda Tirta Aditya/E03)