Salamun, Nelayan Tambakrejo yang Ubah Sampah Laut Jadi Hiasan Menawan

Prihatin melihat pesisir pantai yang kotor, nelayan Tambakrejo ini coba ubah sampah laut jadi hiasan menawan. Berkat kreativitas tersebut, lelaki bernama Salamun ini pun punya penghasilan tambahan, selain sebagai nelayan.

Inibaru.id - Sebagai negara maritim, nelayan seharusnya menjadi pekerjaan yang menjanjikan di Indonesia, khususnya untuk orang-orang pesisir seperti Salamun. Namun, cuaca yang nggak menentu plus sampah laut yang kian menutupi bibir pantai membuat nelayan dari Tambakrejo, Kota Semarang, ini mencoba peruntungan lain.

Selain melaut dan membudidaya kerang hijau, Salamun juga mencoba merakit sampah di sekitar rumahnya yang berlokasi tepat di bibir Laut Jawa menjadi hiasan. Sejak 2017, lelaki paruh baya itu getol mendaur ulang sampah agar bernilai guna.

Sebelum terpikir untuk mendaur ulangnya, Salamun mengaku awalnya cuma mengumpulkan sampah-sampah yang terapung di lautan, mulai dari kaleng, botol, hingga kayu. Sehari bisa dapat sekarung penuh.

“Saya sakit hati melihat sampah berceceran di lautan," ungkap lelaki kelahiran 1977 itu, menceritakan ihwal mula kepeduliannya mendaur ulang sampah. "Laut tempat saya cari nafkah. Karena itu saya bertekad membersihkan sampah-sampah ini, siapa tahu ada manfaatnya.”

Sampah laut yang menumpuk di rumahnya itu pun kemudian dijualnya kepada pengepul. Harganya Rp 1.500 per kilogram. Namun, suatu ketika tanpa sengaja Salamun melihat hiasan burung merak milik tetangganya. Dari situlah tercetus ide untuk membuat hiasan serupa dari sampah-sampah yang biasa dikumpulkannya.

“Dalam hati saya berpikir, bisa nggak ya limbah sampah tadi saya buat kerajinan menyerupai bentuk burung merak milik tetangga saya,” ungkap lelaki dua anak yang menggeluti profesi nelayan sejak 2000 ini.

Pelbagai percobaan yang dilakukannya nggak serta-merta membuahkan hasil. Nggak kurang dari satu usaha itu ditekuni Salamun, hingga akhirnya dia menemukan bentuk yang laik jual. Limbah sampah yang semula cuma dihargai ribuan rupiah per kilo pun menjadi karya seni yang satunya dibanderol hingga ratusan ribu rupiah.

Selesai dengan pembuatan bukan berarti perjuangan Salamun selesai. Dia harus berjualan dari mulut ke mulut hingga suatu ketika angin keberuntungan berembus ke arahnya. Salamun diminta mewakili RT-nya untuk ikut lomba kreativitas di tingkat kelurahan pada 2018.

“Ikut lomba kelurahan dan meraih Juara I. Dari situlah karya saya mulai dikenal hingga tingkat kecamatan dan kota. Bahkan, karya saya pernah dibeli orang Malaysia,” kenangnya, kemudian tersenyum bangga.

Kini, Salamun sudah bisa membuat berbagai karya, mulai aksesori meja, pernak-pernik penghias ruangan, hingga hiasan dinding bernilai seni tinggi. Agaknya ini menjadi balasan yang setimpal untuk lelaki baik ini, yang mencoba membersihkan sampah dari lautan. Kamu tertarik mengikuti jejaknya juga, Millens? (Triawanda Tirta Aditya/E03)