Ramadan Tahun Ini Betul-Betul Berbeda di Kota Lunpia

Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya di Kota Lunpia, Dugderan mewarnai dimulainya Ramadan. Namun, ada yang beda tahun ini. Di tengah pandemi corona, banyak acara ditiadakan.

Inibaru.id – Mungkin tak satu pun umat muslim yang menyangka Ramadan tahun ini bakal terasa berbeda. Nuansa khas Bulan Suci nan khidmat seolah sirna di tengah penyebaran wabah Covid-19. Nggak sedikit tradisi yang terpaksa ditiadakan, khususnya di zona merah seperti Kota Semarang.

Sebagian besar masjid utama di Kota Lunpia dipastikan bakal sepi pada Ramadan ini. Salat Tarawih berjemaah yang biasanya menjadi rutinitas Masjid Kauman Semarang resmi ditiadakan demi mencegah penularan virus corona.

Setali tiga uang, pengajian tatap muka dan buka puasa bersama di salah satu masjid tertua di Kota ATLAS itu juga sudah pasti nggak diselenggarakan tahun ini. Sebagai gantinya, pihak masjid menyiarkan pengajian secara daring.

Ketiadaan acara ini juga berimbas pada para pedagang kaki lima (PKL) yang biasanya menjual takjil dan jajanan pasar di kawasan Masjid Kauman. Masih ada, tapi nggak seramai tahun lalu. Para pedagang itu kawatir akan memperburuk situasi jika tetap berjualan.

Namun, nggak semua masjid benar-benar meniadakan kegiatan. Beberapa tempat masih menggelar salat tarawih berjemaah. Salah satunya di Kecamatan Ngaliyan. Menjelang Salat Isya, warga sekitar bakal berduyun-duyun datang. Salat Isya berjemaah, lalu dilanjutkan Salat Tarawih.

Yang membuat salat kali ini berbeda, alih-alih merapatkan saf atau barisan, para jemaah justru menjaga jarak satu sama lain.

Cara berbeda juga dilakukan para pemburu dan penjual takjil di pinggir jalan di jantung Kota Semarang. Bisa dimaklumi. Biar kata corona masih mengancam, ada keluarga yang harus diberi makan.

Sebagai antisipasi, mereka terlihat berusaha memperhatikan kebersihan dan menjaga jarak. Rata-rata, baik pembeli maupun penjual juga saling menjaga dengan mengenakan masker.

Yap, seperti orang-orang bilang, Ramadan kali ini memang berbeda. Namun, mungkin hal tersebut bisa jadi rambu-rambu, bahwa hidup nggak selalu berjalan begitu. Yuk, jadikan Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk wawas diri. Semoga kita berhasil melewati pandemi! (Triawanda Tirta Aditya/E03)