Menyapa Keluarga Pasijah, Sedekade Menjadi Yang Terakhir di Kampung Senik: Desa yang Hilang

Pada 2001, banjir rob mulai rajin menyapa Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, di pesisir utara Jawa Tengah. Lima tahun berselang, warga mulai pindah. Pada 2010, Bedono menjadi 'desa yang hilang'. Seluruh warganya telah pindah permanen, kecuali Pasijah dan keluarganya yang memilih tinggal di sepetak rumah di antara genangan air laut dan lebatnya hutan mangrove. 

Inibaru.id - Nggak banyak yang tersisa dari "desa yang hilang", Kampung Senik, setelah sedekade ditinggalkan. Daratan telah sepenuhnya tergenang. Bekas bangunan pun jadi hutan bakau lebat yang sulit disusuri. Namun, satu keluarga masih bertahan di dalamnya. Merekalah Pasijah dan keluarganya.

Sekitar 2010 lalu, dua dusun di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, diklaim lautan. Keduanya nggak laik ditinggali. Salah satunya adalah Dusun Rejosari Senik atau yang dikenal sebagai Kampung Senik.

Bencana banjir rob yang melanda hampir seluruh pesisir pantura Jawa memang terjadi begitu cepat. Rejosari Senik termasuk yang paling parah. Mulai "disapa" banjir rob pada 2001, dusun yang berlokasi nggak jauh dari Kota Semarang itu benar-benar hilang dan tenggelam sedekade berselang.

Sejauh mata memandang, yang terlihat di dusun itu hanyalah genangan air dan pelbagai varietas mangrove lebat yang menyembunyikan puing-puing bangunan di dalamnya. Tempat ini lebih tampak seperti hutan mangrove, lengkap dengan faunanya, ketimbang kampung yang sebelumnya dihuni sekitar 200 keluarga.

Rejosari Senik memang telah habis. Namun, Pasijah dan keluarganya memilih tetap bertahan. Sejak sedekade terakhir mereka hidup "menyendiri", mendiami rumah tergenang air di ujung kampung yang berbatasan langsung dengan lautan.

Rumah Pasijah jauh dari kata laik untuk dihuni. Dia dan Rohani, sang suami, serta ketiga anaknya, bukannya nggak mau pindah. Namun, pindah bukanlah perkara mudah bagi keluarga nelayan kecil seperti mereka.

Mak Jah, begitulah "orang-orang daratan" menyapanya, memilih berdamai. Di sisa usianya, dia juga punya keinginan yang lebih mulia, yakni menanam mangrove sebanyak-banyaknya agar kampung lain di sekitar Senik terbentengi dan masyarakat nggak bernasib nahas seperti dirinya.

Pasijah kini lebih dikenal sebagai petani mangrove. Suaminya nggak lagi melaut lantaran trauma setelah kapalnya pernah terbalik di laut. Bersama ketiga anaknya, istri-suami itu kini membibit mangrove untuk ditanam sendiri, berdasarkan pesanan instansi dan komunitas, atau ada penanaman kolektif.

Dalam sebulan, mereka bisa menanam 8.000 bibit mangrove. Pasijah dan keluarga mungkin nggak menganggap hidup mereka ideal. Keluh-kesah tetaplah ada. Namun, sedekade tinggal sendirian di Kampun Senik, agaknya mereka baik-baik saja.

Tetap sehat, Mak Jah! Kapan-kapan kami berkunjung lagi! (Triawanda Tirta Aditya/E03)