Mengawal Aksesibilitas Telekomunikasi untuk Penerus Negeri 

Pandemi membuat dunia pendidikan berubah wajah. Belajar-mengajar yang tadinya dilaksanakan di kelas, kali ini harus beralih lewat layar-layar gawai. Di NTB, proses pembelajaran secara daring juga dilakukan. Akses internet yang tersalurkan dengan baik, meminimalisasi berbagai rintangan.

Inibaru.id - Tampaknya nggak berlebihan jika digitalisasi dan telekomunikasi menjadi solusi vital untuk mengatasi pandemi seperti sekarang. Salah satunya menjadi terobosan dalam dunia pendidikan. Betul nggak, Millens?

Dalam perjalanan Tim Ekspedisi Bakti untuk Negeri kali ini, kamu bakalan melihat betapa besar manfaat pembangunan infrastruktur telekomunikasi di sekolah-sekolah di Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Bumi Mataram. Tim pun melaju menyusuri kota menuju MAN 2 Model Mataram. 

Kedatangan Tim disambut Kepala Sekolah MAN 2 Model Mataram Lalu Syauki. Dengan ramah laki-laki ini menuntaskan rasa ingin tahu Tim tentang pembelajaran jarak jauh di sana. Dia bercerita hingga kini di sekolahnya masih melaksanakan pembelajaran daring. 

Lalu nggak menampik jika ada kendala selama menjalankan proses tersebut. Menurutnya di semua tempat pasti mengalaminya. Dia membeberkan hambatan yang ada di sekolahnya adalah fasilitas. Namun, dia mengatakan kalau akses internet lancar. 

"85 persen sudah bisa diakses di MAN 2 Mataram dan lancar," kata Lalu. Untung banget ya sinyal sudah baik. O ya, di MAN 2 ini, pembelajaran dilakukan melalui video telekonferensi. Menurutnya, metode ini cukup efektif.

Puas berbincang dengan kepala sekolah, Tim menuju rumah salah seorang siswa yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh bernama Nabila Damayanti. Kedatangan Tim disambut ibunda Nabila, Nur Hidayah. Nggak jauh dari ruang tamu, Nabila sedang khusyuk di depan layar laptop.

Nggak pengin mengganggu Nabila belajar, Tim berbincang dengan Nur Hidayah terlebih dulu. Perempuan berjilbab itu mengatakan, kendala dalam pembelajaran jarak jauh adalah sinyal internet. 

Meski begitu, dia merasa masalah itu nggak terlalu berarti karena pembelajaran bisa dilakukan dengan berbagai cara. 

“Apalagi sekolah juga membantu ya. Mereka memberi akses wifi saat di sekolah,” katanya.

Selama 6 bulan terakhir, menatap layar laptop menjadi aktivitas harian Nabila. Apa boleh buat, pandemi mengharuskannya belajar dari rumah. 

“Ada enaknya ada nggaknya. Enaknya saya nggak perlu bangun pagi untuk berangkat ke sekolah. Kalau bosen bisa main-main laptop dan buka Youtube juga,” aku Nabila sambil nyengir.

Meskipun hal-hal itu tampak mengasyikkan, tapi gadis ini mengaku terkendala dalam belajar jarak jauh. Kalau ada materi yang nggak dipahami, Nabila kesulitan meminta penjelasan. Bahkan jika sudah mendapat penjelasan rasanya kurang mantap. Beda ketika dia belajar tatap muka.

Sebenarnya, apa yang dialami Nabila sangat wajar. Perubahan metode memang bisa membawa dampak signifikan. Untungnya, nggak ada lagi masalah yang timbul akibat telekomunikasi. Begitu pula yang disampaikan Nur Hidayah.

Dia sangat bersyukur sekolah Nabila sudah melakukan berbagai persiapan agar pembelajaran daring ini lancar. Sebagai orang tua, dia nggak keberatan memberi fasilitas kepada anaknya untuk mengikuti pembelajaran. Terlebih melihat kesiapan pihak sekolah.

Nah, itu pula yang sudah dilihat sendiri oleh Tim Ekspedisi, Millens. Pihak sekolah sudah berkoordinasi dengan guru-guru dan memberi kemudahan untuk melakukan pembelajaran. Di salah satu ruangan di sekolah, guru-guru tampak memberikan materi secara online. Kalau guru-guru difasilitasi seperti ini, diharapkan nggak ada lagi hambatan. 

“Belajar daring ini sebetulnya sudah sampai pada titik jenuh. Banyak orang tua murid yang bertanya kapan masuk sekolah lagi,” ujarnya. 

Perjalanan Tim Ekspedisi berlanjut ke sekolah yang sudah memulai simulasi pembelajaran tatap muka yaitu di SMA 5 Mataram. Tentu sekolah itu menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan nggak lepas dari penggunaan teknologi.

Simulasi tatap muka ini sebetulnya sudah dipersiapkan sejak lama. Hal itu dijelaskan oleh Kepala Sekolah SMA 5 Arofiq Dardiri. Caranya dimulai dengan mengisi instrumen kesehatan sekolah.

“Ketika instrumen itu dinilai oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, maka kami dinyatakan siap untuk simulasi,” ujarnya.

Anang Hermasyah yang merupakan salah seorang murid pun mengaku sangat senang bisa kembali bertatap muka. Ya meskipun, nggak bisa seperti sedia kala dan teman-temannya nggak bisa semua ikut karena ada pembagian kloter.

Kebutuhan akan teknologi dan jaringan internet juga dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB Aidy Durqan. Dia menilai kalau kebutuhan internet sudah sepatutnya jadi hal yang wajib bagi setiap generasi di zaman sekarang. Terlebih, Aidy juga mengungkapkan betapa penting manfaatnya bagi dunia pendidikan.

“Kalau selama ini di semua sektor bisa terintegrasi dengan internet, maka kami berharap juga ada semacam dukungan untuk pihak yang mengelola internet agar bisa masuk ke sekolahan,” ujarnya.

Apabila internet dan dunia pendidikan bisa saling berintegrasi, maka hal itu bisa memudahkan untuk mobile learning. Belajar bisa di mana saja dengan akses yang mudah.

Keinginan Aidy Durqan tadi tampaknya disanggupi langsung oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) yang berada di bawah naungan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Tim Ekspedisi menemui salah seorang Staf Direktorat Layanan TI BAKTI di NTB Hartasia Susana Panadea.

Kata laki-laki yang akrab disapa Dea ini, dunia pendidikan memang menjadi salah satu sektor yang paling banyak difokuskan oleh BAKTI. Dalam hal ini BAKTI bekerja sama dengan beberapa start-up untuk membuat E-Learning. Aplikasi itu dibuat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan dan pembelajaran bahasa kepada para pelajar.

“Selain itu juga untuk tenaga pendidik yang berguna apabila hendak melaporkan data ke Kemendikbud dan semua pelaporan ke pusat,” ujarnya.

Dea juga menjabarkan, hadirnya BAKTI di NTB merupakan bagian dari tujuan BAKTI untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah-daerah yang membutuhkan. Daerah-daerah yang belum punya sinyal seluler dan akses internet yang memadai. Bravo!

Perjalanan Tim Ekspedisi untuk melihat bagaimana akses internet dalam pembelajaran jarak jauh di NTB secara dekat tampaknya sudah usai. Mataram adalah episentrum pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Terlepas dari semua kendala yang ada, digitalisasi pendidikan di kala pandemi membuktikan kalau nggak ada yang bisa menghentikan semangat generasi muda Indonesia meraih cita-citanya.

Salut banget ya dengan semangat mereka, Millens? (IB28/E05)