Menangkap Sinyal Kebangkitan Pariwisata Maumere

Maumere pernah lumpuh karena diterjang tsunami di 1992. Namun sampai sekarang kota yang berada di Kabupaten Sikka ini terus bangkit. Di sini, pengunjung ditawari keindahan alam dan kebudayaannya yang kental. Semua itu tentu makin sempurna dengan dukungan infrastruktur sinyal telekomunikasi dan jaringan koneksi internet.

Inibaru.id - Luluh lantak diterjang tsunami pada 1992, Sikka kembali bangkit. Semua potensi wisata yang dulu pernah menggaet wisatawan dihidupkan, termasuk Maumere. Untuk itu, pembangunan infrastruktur jaringan internet dan jaringan komunikasi sangat penting.

Lalu, bagaimana pembangunan jaringan internet dan telekomunikasi kabupaten ini? Untuk menjawab pertanyaan itu, Tim Ekspedisi menemui Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Sikka Kensius Didimus. Kalau kata Kensius, saat ini Sikka sudah mendapat bantuan dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) berupa 4 Base Transceiver Station (BTS).

BAKTI-Kominfo telah menyediakan 30 akses internet (AKSI) di Kabupaten Sikka dengan rincian lima di kantor desa, 12 di fasilitas kesehatan, dan 13 di sekolah-sekolah.  

"Kami harapkan dengan melakukan rapat koordinasi melalui Zoom meeting pada Juli kemarin, bisa ditindaklanjuti untuk sesegera mungkin ada penambahan dari Bakti," kata Kensius Didimus. 

Jadi, bisa disimpulkan ya, Millens jika pembangunan fasilitas ini sangat vital. Hal ini bisa dilihat ketika Tim Ekspedisi mengunjungi Kampung Adat Watublampi. Di kampung yang terkenal dengan rumah ada, tari-tarian, dan tenun ini bisa mendatangkan pengunjung berkat internet.

Di sini, masyarakat mendirikan Sanggar Bliransina pada 1988. Tujuannya nggak lain untuk mempromosikan dan melestarikan kain tenun ikat khas Sikka. Masyarakat juga berharap tradisi ini bisa membantu menunjang perekonomian.

Asal kamu tahu, kain tenun di sini mempunyai motif yang khas. Motif ini bahkan sudah ditemukan jauh sebelum kepercayaan beragama masuk ke Sikka. Pengolahannya pun dari bahan alami. Seluruh proses dilakukan secara manual. 

Kapasnya saja hasil dari kebun desa yang kemudian dipintal. Pengerjaannya pun butuh waktu yang lama. Jadi, wajar jika harga kain tenun ini lumayan mahal. Bagi masyarakat, tenun bukan sekadar kain. Di dalamnya bersemayan sejarah yang hanya dimiliki oleh mereka.

Sebelum pandemi melanda, Kampung Watublapi jadi wisata favorit di Sikka. Kurang lebih 300 orang mengunjungi desa ini tiap bulan. Kebanyakan datang dari kapal pesiar asing yang singgah di Sikka. Dalam satu tahun, desa mendapat pemasukan hingga 700 juta. Wah, banyak juga ya?

Ketua Sanggar Watublapi Yosef Gervasius bercerita bagaimana kampungnya bisa setenar itu. Promosi yang gencar dilakukan sejak dulu, membuat desa ini dikenal. Jika dulu dari media cetak, sekarang serba online.

“Sekarang kita mulai dari Facebook dan Instagram. Baru-baru ini juga lewat Youtube,” ujarnya.

Promosi wisata ini penting dilakukan sebab menjadi salah satu pemasukan warga. Nah, promosi lewat kanal daring juga didukung dengan infrastruktur jaringan internet yang mumpuni. Di Kampung Watublampi, menurut Yosef nggak ada hambatan.

“Sinyalnya di sini sudah stabil. Pemuda banyak yang memanfaatkan,” pungkasnya.

Kampung Watublampi menurut Tim Ekspedisi punya potensi besar. Nilai budaya yang dapat menunjang perekonomian di sini akan lebih terdukung dengan infrastruktur internet yang memadai.

Sebelum menutup penjelajahan di Maumere, Tim Ekspedisi menyempatkan diving di Pantai Kajuwulu. Selama pandemi mendera, aktivitas menyelam di sini sempat lesu.

Maka dari itu, penggunaan media daring sosial media untuk promosi sangat dibutuhkan. Kalau kamu mau diving di sini bisa buka Instagram @maumeredivejourney.

“Kami sekarang pakai aplikasi juga sebelum menyelam. Ini fungsinya untuk mengetahui kapan air surut. Lalu juga arus dan waktunya,” ujar Jimmy Duma selaku Dive Center. Hm jadi tambah aman ya?

O ya, Maumere sempat jadi salah satu lokasi spot diving terbaik di tahun 80-an, lo. Badai tsunami kemudian menghancurkannya. Namun, pariwisata ini kembali ditata setelah spot-spot diving baru ditemukan.

Benar saja, meski hanya menyelam di kedalaman 10 meter, Tim bisa melihat pemandangan bawah laut yang cantik. Takjub rasanya berenang di atas acropora beraneka warna bersama ikan-ikan kecil.

Ah, nggak terasa sudah 45 menit, Tim Ekspedisi berada di dalam laut. Sayang rasanya jika tempat seindah ini nggak dikenalkan kepada dunia. Hal ini bisa mungkin tercapai jika pembangunan jaringan internet dan telekomunikasi di Maumere dan sekitarnya terus digalakkan. 

Jadi kapan kamu mau ke sini, Millens? (IB28/E05)